Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

100 Hari SDK-JSM: Merajut Koneksi, Menyulam Pelayanan

Mamuju, Katinting.com – Ruang pertemuan lantai II Kantor Gubernur Sulawesi Barat pagi itu sejuk oleh hembusan AC, tapi semangat yang menguar justru hangat, bahkan membara. Di atas panggung sederhana, dua sosok duduk berdampingan: Suhardi Duka dan Salim S. Mengga, Gubernur dan Wakil Gubernur Sulbar, memaparkan catatan 100 hari pertama mereka memimpin. Di hadapan mereka, puluhan pasang mata menyimak, para pimpinan OPD, tenaga ahli, hingga perwakilan media yang duduk rapi.

Plh. Sekprov Sulbar, Herdin Ismail, memandu acara dengan tempo yang tertata. Tapi ketika Salim Mengga mengambil mic, suasana berubah lebih intim.

“Ini bukan tentang kursi atau jabatan,” ujarnya, suara rendah tapi tegas.

“Ini pengabdian.” Hanya satu kalimat, tapi seakan merangkum semangat pasangan ini sejak hari pertama dilantik.

Lalu, Suhardi Duka, yang akrab disapa SDK menyambung. Sorot matanya tajam, bicaranya lancar, seolah setiap kata telah direnungkan lama.

“Kami datang bukan untuk dilayani, tapi untuk melayani,” tegasnya, menggemakan pesan yang sejak awal menjadi haluan mereka.

Ia menekankan, capaian 100 hari ini bukan miliknya atau Salim semata, melainkan hasil kolaborasi seluruh jajaran.

“Tak ada yang bisa diklaim sendiri. Semua terkoneksi.” Tegasnya tanpa kedip.

SDK bercerita tentang kunjungannya bersama para Bupati se-Sulbar ke Jakarta. Bukan sekadar seremonial, tapi upaya nyata menjalin koneksi.

“Kami memanfaatkan setiap link yang ada,” ujarnya.

Hasilnya ?, Sejumlah program nasional kini mengalir ke Sulbar, anggaran bergulir, proyek-proyek mulai terlihat di lapangan.

“Jakarta dan Sulbar kini terhubung,” katanya, wajahnya sumringah.

Tapi ia tak mau berpuas diri.

“Kami manusia biasa, pasti ada kekurangan,” aku SDK.

Namun, satu hal yang ia pastikan, pemerintahannya tak akan jadi menara gading.

“Kami ingin memastikan rakyat merasakan kehadiran kami, bukan sekadar nama di balik spanduk.” Sebutnya tegas.

Di akhir konferensi, suasana terasa lebih cair. Beberapa jurnalis mulai mengajukan pertanyaan, sementara SDK menjawab dengan canda dan data. AC masih berdesir, tapi energi di ruangan itu jelas tak lagi bisa didinginkan.

100 hari mungkin belum cukup untuk mengubah segalanya. Tapi bagi SDK-JSM, ini tentang memastikan setiap langkah, sekecil apa pun, terasa oleh mereka yang paling menunggu: rakyat Sulbar. (Fhatur Anjasmara)

Share:

Redaksi

Media Informasi Rakyat