Mamuju, Katinting.com — Zentangle Art menjadi salah satu kegiatan yang menarik perhatian pada malam ketiga Manakarra Film Festival (MFF) 2024. Kegiatan ini dipimpin oleh Aad Mandar, konseptor artwork MFF 2024 sekaligus seniman yang dikenal dengan eksplorasi filosofisnya tentang kelapa. Melalui konsep ini, Aad Mandar bersama Ikatan Perupa Sulbar (IKPS) mengajak penonton untuk terlibat dalam terapi seni interaktif.
Aad Mandar, yang juga menjadi pembicara pada malam tersebut, mengungkapkan bahwa tema seni panggung, pamflet, bumper, hingga maskot festival diilhami oleh filosofi kelapa, yang menurutnya memiliki “semesta” tersendiri sebagai representasi makro kehidupan manusia.
“Dalam tradisi masyarakat Mandar, kelapa digunakan dalam berbagai ritual mulai dari kelahiran, pernikahan, hingga kematian. Filosofinya, kelapa mewakili harapan agar setiap individu yang lahir menjadi bermanfaat,” ungkap Aad.
Ia juga menjelaskan bahwa ia memilih gaya surealis dalam konsep artworknya, karena menurutnya, surealisme mampu menyampaikan ide-idenya dengan lebih efektif.
“Kalau yang realis justru barangkali akan sulit,” kata Aad.
Zentangle Art: Terapi Interaktif untuk Penonton
Pada malam tersebut, Aad dan komunitas IKPS menggelar sesi Zentangle Art di atas panggung. Mereka membagikan 50 lembar kertas dan krayon kepada penonton yang hadir, memungkinkan interaksi antara audiens dan seni.
Dalam sesi ini, Aad meminta peserta untuk menggambar garis yang tidak terputus hingga ia menginstruksikan untuk berhenti. Dari garis-garis tersebut, peserta diminta mengisi ruang dengan pola-pola sederhana seperti kotak, lingkaran, dan segitiga.
Setiap peserta juga diminta menukar krayon dengan orang di sebelah mereka, menambahkan elemen kejutan dan spontanitas dalam proses kreatif. Tujuan dari aktivitas ini adalah untuk mengenali perasaan diri sendiri melalui seni, sambil menciptakan ruang interaksi di antara penonton.
Rasya, salah satu peserta, mengungkapkan bahwa ia sengaja membentuk garis tidak terputus berbentuk hati sebagai representasi dari situasi hatinya saat ini.
“Karena lagi hancur, jadi kukasi hancur juga gambarku,” kata Rasya sambil tertawa. Sebagai apresiasi, Rasya berhasil membawa pulang totebag bertema MFF 2024.
Peserta lain, Ira, yang merupakan siswa kelas XII, menyatakan bahwa Zentangle Art membantunya mengekspresikan kebimbangan mengenai masa depannya setelah lulus.
“Saya bisa mengekspresikan apa yang saya rasa tidak hanya dengan kata-kata, tetapi juga melalui karya seni. Ini adalah gambar dari kebimbangan saya, setelah ini saya akan bagaimana, saya mau kemana,” ujarnya.
Semua karya yang dihasilkan dari sesi Zentangle Art ini akan dikumpulkan dan dipajang menjadi kolase di stand Ikatan Perupa Sulbar selama festival berlangsung. Kolase ini diharapkan menjadi simbol kebersamaan dan ekspresi kolektif dari para peserta yang turut hadir dan berpartisipasi di MFF 2024.
Kegiatan ini tidak hanya menjadi terapi seni, tetapi juga upaya untuk mendorong penonton agar lebih terbuka dalam mengekspresikan diri melalui medium yang berbeda. (*)






