Pasangkayu, Katinting.com – Menindaklanjuti Surat Edaran Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Pasangkayu yang merekomendasikan pembagian Makan Bergizi Gratis (MBG) pada sore hari selama bulan Ramadhan, pihak pelaksana di lapangan angkat bicara. Koordinator Wilayah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kabupaten Pasangkayu, Syahril, menyatakan kesiapan untuk menyesuaikan waktu distribusi.
BACA JUGA: MUI Pasangkayu Keluarkan Edaran Ramadhan, Beri Catatan Khusus untuk Program MBG
Saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp pada Selasa, 24 Februari 2026, Syahril menjelaskan bahwa pihaknya pada prinsipnya siap menyalurkan kapan saja. Namun, penyesuaian waktu sangat bergantung pada kesiapan sekolah sebagai penerima.
“Kalau dari kami kapan pun bisa, Pak. Tinggal apakah sekolah sanggup menerima di waktu sore. Karena kami hanya menyalurkan pada waktu sekolah saja sesuai kesanggupan masing-masing sekolah,” ujarnya.
Ia memaparkan bahwa selama ini jadwal distribusi disesuaikan dengan jam pulang siswa. Untuk tingkat TK dan SD, pembagian dilakukan pada pagi hari karena jam pulang mereka lebih cepat. Sementara untuk jenjang SMP dan SMA, distribusi biasanya dilakukan menjelang siang.
BACA JUGA: MUI Pasangkayu Terbitkan Edaran Ramadhan, Atur Jadwal Adzan hingga Sikap soal MBG
Terkait bentuk makanan yang dibagikan, Syahril memberikan klarifikasi. Menu MBG tetap dalam bentuk siap santap, namun kali ini pihaknya menyiapkan menu kering yang lebih tahan lama. Dengan demikian, makanan tersebut tetap dapat dikonsumsi siswa saat berbuka puasa di rumah.
“Menu di MBG itu tetap siap santap, tapi menu kering yang tahan untuk dimakan saat buka di rumahnya,” ungkapnya.
Menanggapi rekomendasi MUI, Syahril membuka ruang koordinasi yang lebih luas. Ia mengusulkan pertemuan bersama lintas instansi untuk mencari solusi terbaik selama bulan Ramadhan.
“Tapi bagusnya juga untuk duduk bersama dari pihak kami. Kalau bisa dihadirkan Kepala SPPG se-Kabupaten, Tim Satgas Pemda, Dinas Pendidikan, Kemenag bersama dengan MUI supaya bisa mencarikan solusi bersama,” tambahnya.
Melalui forum bersama tersebut, ia berharap dapat ditemukan titik temu antara pertimbangan keagamaan, teknis distribusi di sekolah, serta kebijakan pemerintah daerah. Dengan demikian, program MBG tetap dapat berjalan optimal tanpa mengganggu kekhusyukan ibadah puasa para siswa. (Udi)






