Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

Sinergi Menuju Kemakmuran: Sulbar Diproyeksi Tumbuh 6,1% Tahun Depan

Mamuju, Katinting.com – Bayangkan Sulawesi Barat sebagai kapal layar yang siap menembus ombak Atlantik, didorong angin proyeksi Bank Indonesia (BI) Perwakilan Sulbar, pertumbuhan ekonomi 2026 bakal mencapai 5,00-6,10% (cumulative to cumulative/ctc). Itu lebih unggul dari perkiraan nasional 4,90-5,70% (year on year/yoy), melanjutkan momentum pemulihan pasca-pandemi di mana Sulbar tumbuh 4,95% pada 2025.

Pengungkapan optimis ini disampaikan Deputi Kepala Kantor Perwakilan BI Sulbar, Erdi Fiat Gumilang, dalam Sipakada Media bertema “Sinergi dan Kolaborasi dengan Media dalam Rangka Diseminasi Perekonomian Terkini”, Rabu (18/2/2026) sore di Mamuju. Acara ini menjadi panggung kolaboratif BI dengan media lokal, guna menyebarkan data terkini agar jadi amunisi pembangunan daerah.

“Proyeksi ini bukan sekadar angka, tapi peta jalan menuju Sulbar yang lebih tangguh,” tegas Erdi. Ia merinci prospek lima lapangan usaha (LU) utama: Pertanian, Industri Pengolahan, dan Perdagangan tumbuh positif tapi melandai; sementara Konstruksi dan Administrasi Pemerintahan diprediksi melejit.

Erdi memaparkan secara terstruktur, menyoroti keseimbangan antara risiko dan peluang:

  • Pertanian (proyeksi melandai tapi positif): Didukung produksi pangan stabil seperti padi dan jagung, kemajuan hortikultura (sayur-buah), serta perikanan tangkap dan budidaya. Namun, replanting sawit—program vital untuk regenerasi—berisiko tekan volume panen jangka pendek. “Ini seperti memotong dahan untuk pohon lebih subur,” ilustrasikan Erdi.

  • Industri Pengolahan (positif, cenderung melambat): Penurunan produksi minyak sawit mentah (CPO) akibat replanting jadi rem utama. Meski demikian, tren harga CPO global yang masih menggiurkan—diperkirakan stabil di atas US$800/ton—menahan perlambatan agar tak ambruk dalam.

  • Perdagangan (positif tapi melambat): Arus komoditas primer seperti sawit, makanan olahan, dan minuman menurun, ikut rem dari lesunya ekspor CPO. Dampaknya, ritel dan grosir lokal perlu diversifikasi ke produk lokal non-sawit.

Di sisi lain, pendorong akselerasi datang dari:

  • Konstruksi (tumbuh meningkat): Gelombang proyek infrastruktur jadi bintang. Termasuk pembangunan jalan daerah penghubung desa-kota, Bendungan Budong-Budong yang megah untuk irigasi dan listrik, jembatan strategis dari Kementerian PUPR (Pempus), serta program “Gentengisasi” untuk atap rumah layak bagi ribuan keluarga miskin. “Ini bukan hanya semen dan besi, tapi fondasi mimpi warga Sulbar,” ujar Erdi.

  • Administrasi Pemerintahan (tumbuh pesat): Kenaikan pagu belanja APBD-APBN, penambahan satuan kerja (satker), rekrutmen Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), plus dropping anggaran pusat untuk program nasional seperti makan siang gratis dan hilirisasi. Total, sektor ini diproyeksi kontribusi hingga 1,5 poin persen ke PDB Sulbar.

Proyeksi BI ini bukan abstraksi; ia berarti lapangan kerja baru bagi petani, buruh konstruksi, dan pegawai negeri—potensial tekan pengangguran dari 4,2% (2025) ke bawah 4%. Bagi investor, sinyal hijau ini undang masuknya modal ke sektor non-sawit seperti pariwisata dan energi terbarukan.

Namun, Erdi menekankan: “Sinergi pemerintah, pelaku usaha, dan media krusial. Mari kolaborasi sebarkan data ini, agar proyeksi jadi kenyataan.” Acara Sipakada diakhiri sesi tanya jawab, di mana jurnalis lokal antusias gali data inflasi dan nilai tukar yang tetap terkendali di Sulbar (inflasi 2025: 2,8%).

Dengan fondasi ini, Sulbar tak lagi sekadar daerah pinggiran ia sedang menari tango kemajuan, siap pamerkan kontribusi ke NKRI. (*/Fhatur Anjasmara)

Share:

Redaksi

Media Informasi Rakyat