Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

Sejak 2003 Tak Jelas, Fraksi Gerindra Soroti Lemahnya Peran BPN, Minta Beri Kepastian Batas HGU untuk Akhiri Konflik Agraria Tikke Raya

Pasangkayu, Katinting.com – Ketua Fraksi Gerindra DPRD Kabupaten Pasangkayu, Farid Zuniawansyah, menyoroti peran Badan Pertanahan Nasional (BPN) dalam penyelesaian konflik agraria di Kecamatan Tikke Raya. Hal itu ia sampaikan saat Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) di ruang aspirasi DPRD Pasangkayu, Jumat (12/9).

BACA JUGA: Beda Pandangan Warnai RDPU DPRD Pasangkayu, Arham: Jangan Sampai Rakyat Jadi Korban dalam Sengketa Agraria Tikke Raya

Rapat dipimpin Ketua Pansus Agraria, Ersad, serta dihadiri anggota DPRD Arham Bustaman, Asisten I Pemkab Pasangkayu Mulyadi, CDO PT Letawa, Agung Sonoaji dari PT Astra Agro Lestari, Kasi 3 BPN Abdul Kadir, perwakilan Koramil 01/1427, Polsek Pasangkayu, dan Camat Tikke Raya Musmulyadi.

Farid menegaskan persoalan ini bukan hal baru. Menurutnya, konflik sudah berlangsung bertahun-tahun namun tidak ada kejelasan batas Hak Guna Usaha (HGU) perusahaan dengan lahan masyarakat.

“Sejak 2003 mereka ada di Pasangkayu, tapi batas HGU dan lahan masyarakat tidak pernah jelas. Inilah yang memicu riak di bawah. BPN seharusnya memberi kepastian, bukan membiarkan masalah berlarut,” tegas Farid.

BACA JUGA: Bahas Sengketa Agraria di DPRD Pasangkayu: Perusahaan Klaim Masuk HGU, BPN Sebut Belum Ada Pengukuran

Ia juga menyebut keterlambatan penanganan justru memperpanjang masalah. “Kalau dari awal BPN turun, persoalan bisa diatasi. Sekarang sudah terlalu panjang dan sulit,” ujarnya.

Ketua Pansus, Ersad, menambahkan bahwa masyarakat membutuhkan dokumen resmi dan data transparan dari BPN. “Aplikasi BPN harus bisa dijadikan acuan. Masyarakat butuh kepastian, bukan janji,” katanya.

Perwakilan PT Letawa mengaku siap mengurus perizinan baru sesuai aturan. “Kami tidak berniat mengabaikan aturan, hanya saja prosesnya memang panjang dan belum selesai,” ucapnya.

Sementara itu, Camat Tikke Raya mengungkap keresahan masyarakat. “Hampir setiap malam saya dipanggil tokoh masyarakat. Kondisi di lapangan sudah sangat tegang,” ungkapnya.

Farid menegaskan agar konflik ini segera dituntaskan demi mencegah jatuhnya korban. “Kalau dibiarkan, masyarakat bisa jadi korban. Itu catatan penting bagi DPRD,” tutupnya. (*/Udi)

Share:

Redaksi

Media Informasi Rakyat