oleh

Melirik Pesona Alam dan Budaya Bumi Vova Sanggayu

banner 728x90

Oleh Arham Bustaman*

Pasangkayu, Katinting.com – Pasangkayu merupakan salah satu daerah penghasil kopra dan kelapa sawit terbesar di Sulawesi. Daerah ini berada kurang dari 300 km dari Mamuju, ibu kota provinsi Sulawesi Barat dan 700 km dari Makassar, Sulawesi Selatan.

Di sebelah utara, daerah ini berbatasan langsung dengan kabupaten Donggala. Berjarak hanya 100 km dari Kota Palu ibu kota provinsi Sulawesi Tengah.

Daerah paling ujung utara Sulawesi Barat ini, dulunya gabungan dari empat kecamatan. Kemudian, mekar menjadi daerah otonom berdasarkan Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004.

Tapi, namanya masih kabupaten Mamuju Utara sebelum dirubah menjadi Pasangkayu sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2017.

Luasnya mencapai 3.043,75 km² beriklim tropis seperti kebanyakan daerah lain di Indonesia. Kepadatan 63.44 jiwa/Km² dari total penduduk 193.098 jiwa berdasarkan data tahun 2021.

Asal nama Pasangkayu sendiri masih jadi perdebatan. Pasalnya, ada yang mengatakan dari kata vova dan sanggayu (Kaili). Yaitu pohon sejenis bakau yang masih berdiri kokoh hingga sekarang di Pantai Pasangkayu.

Namun, bila melihat dari etimologi kata pasangkayu merupakan gabungan dua kata, yakni pasang dan kayu. Apalagi, sampai saat ini tak ada yang bisa memastikan muasal nama Pasangkayu, karena belum ada riset atau penelitian yang memastikan secara ilmiah.

Masa lampau jauh sebelum mekar jadi kabupaten, warga menyebutnya pasangkaju (ejaan lama). Wilayah ini menjadi pertemuan dua suku yang mengapitnya. Kaili dari utara dan Mandar dari sisi selatan.

Memiliki begitu banyak sebaran destinasi wisata yang memanjakan mata, namun hanya beberapa yang menonjol. Itu karena belum dikelola secara serius dan kurangnya promosi.

Sepasang pohon bakau yang masih berdiri kokoh tak jauh dari bibir Pantai Vovasanggayu sebagai penanda awal nama Pasangkayu

Deretan Wisata Pantai

Koa-koa merupakan obyek wisata pantai yang dimiliki Pasangkayu yang layak untuk dijual. Letaknya lebih 10 km arah utara dari ibu kota Pasangkayu.

Lokasinya berada di desa Polewali, kecamatan Bambalamotu. Pesona alamnya cukup memukau dengan pemandangan pantai berpasir hitam yang sangat menakjubkan.

Panorama yang ditawarkan dapat memikat hati bagi siapa pun yang menikmati kala berdarmawisata di sana. Selain pohon ketapang, pantai yang memiliki panjang dua kilometer itu juga dihiasi pohon kelapa.

Akhir pekan atau hari-hari libur, tempat ini dipadati pengunjung dari berbagai wilayah di Pasangkayu. Bahkan ada yang datang dari luar daerah.

Terinspirasi dari Karapan Sapi pulau Madura, festival gerobak sapi kadang diadakan di sini. Dinas Pariwisata melakukan itu untuk menarik pengunjung.

Sambil relaksasi, berwisata di sana sungguh dapat menghilangkan penat setelah beraktivitas hampir sepekan lamanya.

Deru ombak disertai hembusan angin laut seakan membuat betah berlama-lama sembari merenung dan menikmati indahnya alam ciptaan Sang Kuasa.

Mandi di laut juga memberikan banyak manfaat bagi tubuh. Air laut diyakini mampu mengobati berbagai penyakit terutama alergi kulit. Parah ahli berpendapat terapi air laut berguna untuk pemulihan kesehatan.

Tak jauh dari situ, ada pantai yang cukup indah yang bisa jadi pilihan alternatif. Suasananya masih sepi karena belum digarap serius.

Warga setempat menamakan Bunto yang terletak antara Kayumaloa (desa Polewali) dan Pangiang. Kondisinya aman dan nyaman, tentu dapat menentramkan jiwa.

Warga sesekali melakukan rekreasi di tempat yang dianggap keramat ini, juga sebagian karyawan perusahaan sawit PT Astra Agro Lestari.

Kadang pula warga Martajaya yang mayoritas beragama Hindu melepas sesajen pada momen upacara keagamaan di pantai ini.

Selain Koa-koa, pantai Cinoki di desa Sarudu juga punya keindahan tersendiri dengan pasir putihnya yang eksotis. Di sini, para pelancong disuguhi pemandangan yang cukup menawan.

Tempat ini salah satu favorit bagi warga sekitar untuk bertamasya. Pemandangan yang ditampilkan cukup ciamik. Tak heran jika tempat ini cocok untuk prewed outdoor.

Obyek wisata Salu Kaili di kecamatan Baras juga mempunyai keindahan tersendiri. Tempat ini ramai pengunjung pada hari Minggu atau pasca hari raya.

Lain tempat lain pula ceritanya, seperti pantai Batu Oge di kecamatan Pedongga yang amat memesona. Konon, tempat itu mengisahkan suatu hikayat dua anak Adam yang berbeda kelamin saling mencintai.

Menurut cerita, karena cinta tak mendapat restu dari orang tua, akhirnya sepasang remaja yang memadu kasih di pantai itu berubah menjadi batu.

Itu pun masih menjadi misteri yang belum terungkap secara pasti, karena cerita ini berkembang dari mulut ke mulut warga sekitar.

Bergeser ke arah utara, terdapat hutan mangrove nan asri. Jaraknya pun tak jauh dari ibu kota Pasangkayu. Tepatnya di Salule, salah satu kampung tua di desa Pangiang.

Menurut warga di sana, kampung tersebut berusia lebih dari Pasangkayu. Tempat ini bisa ditempuh melalui jalan rabat beton yang mulus dengan kedua sisinya yang menawarkan pemandangan laut dan gunung.

Hutan mangrove yang menghijau selama ini menjadi rumah bagi aneka jenis burung. Dengan nuansa yang berbeda, tentu berpotensi dikembangkan menjadi tempat wisata baru.

Tempat ini belum begitu tersohor. Jika ini bisa ditata, maka bukan tidak mungkin akan banyak yang mengunjunginya. Pasalnya, berwisata di hutan mangrove menjadi sensasi tersendiri bagi sebagian orang.

Berkililing di hutan bakau yang sejuk dengan iringan kicauan burung dan hembusan angin sepoi yang melewati celah pepohan rindang, tentu memberikan pengalaman tak bisa dilupakan.

Sejumlah warga di kampung itu, biasanya ramai mencari kerang di sela batu karang. Itu mereka manfaatkan kala air laut surut di sekitar hutan bakau.

Kelompok pemuda di sini sangat peduli. Dengan bergotong-royong, mereka sering terlihat melakukan aksi tanam sulam pohon yang sudah mati untuk menjaga kelestarian lingkungan.

Tak hanya hutan bakau, di sana juga menyajikan spot memancing. Di dasar air, terumbu karangnya masih utuh bagi biota laut berkembang biak.

Di tempat ini cocok bagi mancing mania dan penggemar diving atau snorkeling. Karena, keindahan bawah lautnya tak kalah menarik dari Tanjung Karang (Donggala).

Itulah referensi sejumlah tujuan wisata bahari cukup populer yang patut dikunjungi bila datang ke kabupaten Pasangkayu.

Jangan sampai terlewatkan. Karena, semuanya menyajikan pemandangan luas Selat Makassar yang membentang berkisar 150 km yang berbatasan dengan pulau Kalimantan di sebelah barat.

Jadi, bagi penikmat wisata pantai yang datang ke Pasangkayu, belum lengkap kiranya andai tak mengunjungi satu atau dua dari sekian banyak obyek wisata tersebut.

Suasana Pantai Koa-kala ketika hari libur. Terlihat tiga orang bocah seru bermain di perahu wisata milik warga

Wisata Budaya yang Butuh Perhatian

Memiliki suku bangsa majemuk, daerah ini dijuluki miniatur Indonesia. Setidaknya, terdapat 14 suku menyebar di wilayah yang membujur dari Sarude hingga Benggaulu itu.

Selain bahasa Mandar dan Kaili, bahasa daerah yang paling sering digunakan yaitu Bugis dengan dialek khas seperti kota Donggala dan sebagian Pantai Barat (kabupaten Donggala).

Untuk memperkuat ciri khasnya itu, pemda telah membangun monumen Tugu Smart yang dihiasi dengan ornamen dari suku-suku yang mendiami daerah ini.

Tugu Smart yang yang berada pas depan kantor Bupati Pasangkayu juga menjadi ikon. Bentuk arsitekturnya menggoda bagi para pelintas.

Makanya, bundaran kebanggaan warga Pasangkayu itu, sering ditempati sekedar mengabadikan momen bagi orang dari luar daerah.

Para pedagang kaki lima (PKL) memadati saat pertama kali dibuka beberapa tahun lalu di areal monumen berbentuk bulat bak bola raksasa itu.

Mereka menjajakan aneka kuliner kepada calon pembeli, namun sekarang sudah bergeser ke Pantai Vovansanggayu.

Keberagaman suku dan budayanya juga tidak kalah dari potensi lainnya. Untuk itu, Agus Ambo Jiwa kala menjabat Bupati Pasangkayu memberi ruang seluasnya bagi jajaran birokrasi atau siapa saja untuk mengeksplorasi potensi ini.

Tujuannya untuk melakukan inovasi sesuai dengan sembilan agenda pokok yang dicanangkan untuk periode kedua pemerintahannya bersama HM.Saal demi meningkatkan kesejahteraan warga.

Menggali potensi wisata adat merupakan salah satu inovasi yang mulai dilakukan pemerintah daerah Pasangkayu sebagai wujud implementasi program jangka panjang.

Untuk membangkitkan gairah pada sektor ini diperlukan pengelolaan lebih baik, sehingga diharapkan bisa menarik wisatawan baik lokal maupun mancanegara.

Adat Bunggu menjadi perhatian utama. Keberadaan budaya Bunggu yang menjadi khas lokal ini juga juga tak kalah menarik untuk dikembangkan menjadi tujuan wisata.

Sebagai catatan, sebelum menetap di beberapa perkampungan seperti di dusun Kalibamba dan Poenje (desa Polewali), Saluraya di sekitar areal perkebunan sawit PT Pasangkayu dan juga di desa Pakava, dahulu warga Bunggu pernah membangun pemukiman di lereng Gunung Koramu (dusun Lelumpang).

Sebab kebiasan orang-orang Bunggu ini dikenal hidup berpindah-pindah (nomaden) dari satu tempat ke tempat lain.

Apalagi menurut kepercayaan dan tradisi mereka, akan mencari tempat baru bila ada kematian dari anggota keluarga di suatu tempat yang didiami.

Seakan terilhami, hal ini membuat pemda mulai berkaca pada daerah lain yang sejak lama telah mengembangkan pariwisata budaya lokal, seperti Bali, Lombok, Toba, Toraja dan lainnya.

Semua sudah maju dan berkembang sehingga mampu meningkatkan perekonomian warga dan mengangkat citra daerah itu sendiri.

Melihat budaya dan adat rumpun Kaili yang memiliki khas dan keunikan itu, periode kedua Agus-Saal merasa patut untuk mempromosikan secara luas dan simultan sehingga suatu saat bisa diandalkan khususnya dalam pengembangan wisata budaya.

Dengan harapan dapat terwujud kawasan adat, olehnya ditekankan perlu pelestarian dan penelitian secara mendalam terkait adat istiadat (budaya lokal) demi keberlangsungan budaya sekaligus menjadi obyek wisata.

Pakaian khas Bunggu berupa baju, celana (Puruka), topi (Siga), sarung (Buya), selendang (Sinde) mempunyai keunikan tersendiri karena semuanya terbuat dari kulit kayu malo.

Masyarakat Bunggu juga memiliki rumah adat (Sou) yang cukup unik, karena dibangun di atas pohon yang sekarang mulai jarang terlihat.

Mereka juga mempunyai tempat pertemuan khusus yang disebut bantaya (Soupolibu) dengan bagian-bagian bangunannya berbahan dasar bambu beratap daun rotan (Lauro) atau alang-alang (Jono).

Namun kebaradaan kekayaan budaya warga yang berasal dari lereng gunung Penembani (Sulawesi Tengah) ini sudah mulai punah terkikis modernisasi.

Baik busana, rumah tempat tinggal hingga bantaya yang ada sekarang sudah tidak sesuai dengan arsitektur aslinya.

Ngepe selaku tokoh masyarakat Bunggu (totua) menyambut baik rencana pemerintah untuk membantu melestarikan budaya dan adat istiadat mereka. Sebab, mereka pun menyadari tradisi turun-temurun dari nenek moyang mereka sudah mulai luntur seiring waktu.

Ia mengisahkan hukum adat berupa denda (givu) yang masih dipertahankan dalam pranata sosial. Itu merupakan tradisi masyarakat Bunggu.

Ini menjadi pembeda dengan suku lain pada umumnya, bahkan etnik Kaili sekalipun yang sejak lama mendiami wilayah pesisir Pasangkayu.

Dan kebiasaan para orangtua warga Bunggu yang bersirih pinang (mompongo) mirip dengan suku-suku pedalaman yang ada di daerah lain di Indonesia.

Mayoritas warga lain memakai sebutan Binggi bagi bagian etnis Kaili ini. Namun, nyatanya mereka lebih menerima nama Bunggu (orang gunung), sebab mereka mengklaim kata binggi itu berarti orang yang tinggal di pesisir.

Diperlukan kesadaran semua pihak terutama intervensi pemerintah daerah untuk melakukan pelestarian budaya khas tersebut. Sebab bila itu tidak dilakukan sekarang maka budaya ini akan ditelan oleh sejarah.

Beberapa tahun lalu, pemda Pasangkayu setidaknya sudah melakukan pertemuan dengan warga Bunggu guna membahas keberlangsungan budaya dan adat istiadat mereka.

Bahkan melibatkan Institute for Research and Empowerment (IRE Yogyakarta) yaitu lembaga independent, nonpartisan dan nonprofit yang berbasis pada komunitas akademik.

Ke depannya, pihak pemda Pasangkayu akan mengajak lebih banyak pihak yang berkompeten termasuk dinas pariwisata.

Karena itu, sebagai program berkelanjutan, warga Kalibamba dan Poenje akan terus diberikan pembinaan sekaligus dijadikan daerah percontohan dengan memberikan bantuan pembangunan rumah adat dan bantaya sesuai dengan wujud aslinya.

Dua warga mengenakan pakaian tradisional suku Bunggu

Ketua PKK Dukung Pengembangan Wisata Kuliner

Beberapa waktu lalu, dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pasangkayu melakukan pertemuan dengan masyarakat Tanjung Babia (ujung selatan kota Pasangkayu) guna membahas potensi wisata kuliner.

Program itu mendapat dukungan besar dari ketua Tim PKK kabupaten Pasangkayu. Bagi Aulia Yaumil selaku ketua, tidak ada lagi alasan untuk tidak mendukung program ini.

Daerah ini sangat potensial, karena berada pada perlintasan strategis dua provinsi, yaitu Sulteng dan Sulsel.

Rayu, salah satu anggota DPRD Sulawesi Barat dari dapil Pasangkayu juga mendukung penuh pengembangan wisata kuliner.

Dia mengajukan anggaran untuk pusat kuliner di sepanjang jalan poros Trans Sulawesi desa Sarjo dan Sarude. Apalagi, di desa tersebut akan dibangun rest area (area peristrahatan).

Tentunya peluang ini dapat dimanfaatkan oleh warga sekitar untuk menawarkan berbagai kuliner kepada warga yang mampir saat istrahat.

Semisal daerah lain, di sini belum dijumpai masakan atau jajanan asli daerah yang dijual khusus seperti coto Makassar (Sulsel) atau kaledo (Palu-Sulteng).

Tapi di kalangan masyarakat tertentu yang lebih dulu bermukim di daerah ini, ada masakan persis nasu palekko (Bugis), namanya gore-gore.

Beda halnya palekko kebanyakan diolah dari daging itik atau bebek, gore-gore malah diolah dari daging ayam kampung muda yang memiliki daging empuk. Irisannya lebih kecil dan berkuah dengan taburan bawang goreng.

Selain gore-gore, ada pula masakan olahan dari jeroan sapi dan pisang muda yang berkuah kental dengan aneka rempah yang mungkin tidak ditemukan di daerah lain.

Anehnya, warga menyebutnya kaledo (kaledo pisang) yang dihidangkan kepada tetamu sebelum memulai acara inti pada suatu pesta pernikahan atau acara syukuran.

Pemandangan pantai Tanjung Babia

Menikamti Malam di Pantai Vova Sanggayu

Jika ingin menikmati malam, pantai Vova Sanggayu tentu menjadi tempat yang cocok, apalagi pada saat bulan purnama. Air laut yang tenang seakan menjadi cermin bagi cahayanya yang temaram.

Warung dan cafe berjejer sepanjang pantai selain PKL yang menyajikan aneka hidangan dan panganan yang siap santap.

Sejumlah cafe juga menyediakan karaoke bagi pengunjung yang ingin melatih vokal. Hanya dengan memesan menu makanan atau minuman, beberapa lagu sudah bisa dinyanyikan secara gratis.

Bukan hanya di sekitar pantai, tapi keberadaan cafe sudah menjamur sejak satu dekade terakhir di berbagai sudut kota Pasangkayu dengan konsep karaoke keluarga.

Menjajal Potensi Wisata di Perkebunan Sawit

Obyek wisata agro belum ada di Pasangkayu yang bisa mendongkrak ekonomi di sektor pariwisata. Padahal konsep wisata yang satu ini sangat menjanjikan.

Tapi, luasnya areal perkebunan sawit milik PT Astra Agro Lestari bisa dimanfaatkan untuk membangun sirkuit rally berskala nasional.

Kalau saja pemda atau ada pemodal mau berinvestasi di dunia otomotif, maka peluang mengadakan even besar sangat terbuka lebar. Lebih lagi jika menggunakan nama besar Astra Grup.

Dan pastinya, bila ini terwujud dapat menarik wisatawan dari luar untuk datang ke Pasangkayu. Meski musiman, setidaknya dapat mencipatakan lapangan kerja baru.

Salah satu ajang adu cepat ini memiliki banyak penonton. Kebanyakan yang bergelut pada cabang olahraga otomotif ini berasal dari kalangan menengah ke atas.

Prospek Pengembangan Kepariwisataan

Prospek pengembangan kepariwisataan di Pasangkayu memang cukup menjanjikan, namun harus didukung sarana dan prasarana sebagai penunjang serta perencanaan yang matang.

Diperlukan sokongan finansial dari pemerintah daerah dan swasta serta partisipasi masyarakat terhadap kemajuan pariwisata demi mengangkat citra daerah.

Berbagai cara dapat dilakukan untuk memajukan industri pariwisata, baik itu melalui pameran atau festival dengan tema wisata dan kebudayaan.

Agar lebih efektif, peran dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pasangkayu sebagai ujung tombak mestinya lebih intens melakukan promosi melalui saluran media yang tersedia.**

Bagikan

Posting Terkait

banner 728x90

Jangan Lewatkan

Komentar