Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

Hari Anak Nasional, DPK Bontang Dorong Perpustakaan Jadi Benteng Perlindungan Psikologis Anak

Suasana Dinas Perpustakaan Bontang yang ramah anak

Katinting.com, Bontang – Memperingati Hari Anak Nasional (HAN) 2025, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Kota Bontang mendorong transformasi perpustakaan menjadi ruang aman secara emosional dan mental bagi anak-anak. Tidak sekadar tempat membaca, perpustakaan kini digagas sebagai benteng perlindungan psikologis yang mampu mendampingi tumbuh kembang anak secara menyeluruh.

Kepala DPK Bontang, Retno Febriaryanti, menegaskan bahwa anak-anak tidak hanya butuh perlindungan fisik, tetapi juga lingkungan yang mendorong ekspresi, rasa aman, serta keingintahuan tanpa tekanan.

“Melalui perpustakaan, kami ingin menciptakan tempat yang memberi rasa nyaman, bebas dari kekerasan verbal, intimidasi, maupun tekanan akademis berlebih,” ujar Retno, Rabu (23/7/2025).

Menurutnya, literasi bukan semata keterampilan membaca, melainkan jalan menuju kemandirian berpikir, empati, dan kemampuan sosial yang kuat. Karena itu, DPK Bontang mendesain layanannya agar menyentuh aspek emosional dan psikologis anak-anak.

Sejumlah inovasi pun telah dilakukan, mulai dari ruang baca interaktif, pojok dongeng, zona tenang untuk anak berkebutuhan khusus, hingga pelibatan anak dalam kegiatan literasi kreatif seperti mendongeng, menggambar cerita, dan eksplorasi digital.

Dengan tema nasional HAN tahun ini “Anak Terlindungi, Indonesia Maju”, Retno menekankan bahwa perlindungan nonfisik seperti keamanan psikologis dan dukungan literasi perlu mendapat perhatian lebih.

“Banyak anak yang tumbuh dalam tekanan atau lingkungan tanpa dukungan emosional. Perpustakaan hadir sebagai penyeimbang ruang untuk merasa diterima, bebas berekspresi, dan dihargai,” tegasnya.

DPK Bontang juga terus membangun sinergi dengan orang tua, guru, dan komunitas untuk menjadikan perpustakaan sebagai rute rutin kunjungan anak, tak hanya untuk membaca, tetapi juga untuk mengembangkan keterampilan sosial dan emosional.

“Perlindungan anak harus dimulai dari ruang-ruang kecil di sekitar kita. Perpustakaan adalah salah satunya. Mari jadikan ini rumah kedua yang mendukung mereka tumbuh dengan bahagia,” ujarnya.

Kata dia, dengan penguatan layanan ramah anak yang terus dikembangkan, DPK berharap perpustakaan dapat menjadi salah satu instrumen nyata Bontang menuju kota layak anak dan kota literasi yang adaptif terhadap tantangan zaman. (Re)

Share: