Katinting.com, Bontang – Upaya pelestarian budaya lokal terus didorong melalui dunia pendidikan. Salah satunya datang dari Yansen, Guru Seni Budaya SMPN 2 Bontang, yang menampilkan tari kreasi “Ulen eng Ipun” pada ajang Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) Kalimantan Timur 2025. Karya tersebut menjadi sorotan karena menggambarkan filosofi kehidupan masyarakat Dayak dan ikatan erat mereka dengan alam.
Tarian Ulen eng Ipun yang berarti “manusia dan alam” diolah Yansen menjadi pertunjukan yang tidak hanya artistik, tetapi juga sarat dengan pesan tentang pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan. Ia mengangkat aktivitas keseharian masyarakat Dayak yang hidup harmonis dengan hutan, sungai, dan ladang sebagai sumber kehidupan.
“Dalam setiap gerakannya ada doa dan cerita. Ulen eng Ipun bukan sekadar tari, tetapi narasi hubungan manusia dengan alam yang diwariskan leluhur,” jelas Yansen, Kamis (20/11/2025).
Menurutnya, gerakan dalam tarian tersebut menampilkan dinamika masyarakat Dayak dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Liukan lembut namun energik mencerminkan keselarasan manusia dengan alam. Melalui komposisi gerak itu, ia ingin menegaskan bahwa alam bukan hanya tempat tinggal, melainkan sahabat kehidupan yang harus dijaga.
Kekuatan tarian ini juga diperkuat oleh musik pengiring berjudul Orang Ulu, yang dirancang khusus untuk menonjolkan nuansa pedalaman Kalimantan. Irama khas hutan dan sungai dihadirkan untuk membawa penonton merasakan suasana budaya Dayak dalam bentuk yang lebih hidup.
Pada bagian akhir atau Part 4, Yansen memadukan gerak dengan vokal bernuansa ceria. Syair “Lahhh… Lahhh… Lahhh…” menjadi simbol ekspresi riang anak-anak Dayak. Lirik berikutnya, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Dayak Kenyah, berisi pesan tentang kebanggaan generasi muda menjaga warisan budaya.
“Perpaduan vokal ini kami tambahkan agar pesan budaya Dayak tersampaikan secara lengkap. Kami ingin penonton merasakan semangat dan keceriaan masyarakat Dayak,” ungkapnya.
Yansen berharap karya seperti ini dapat menjadi jembatan untuk mengenalkan budaya leluhur kepada generasi muda. Melalui seni tari, ia ingin siswa SMPN 2 Bontang menumbuhkan kecintaan pada budaya lokal, sekaligus memahami nilai-nilai kehidupan yang terkandung di dalamnya.
“Pelestarian budaya dimulai dari sekolah. Kami ingin anak-anak bangga dengan identitas mereka,” tegasnya.
Lewat Ulen eng Ipun, dunia pendidikan kembali menunjukkan perannya tidak hanya mencerdaskan secara akademis, tetapi juga menjaga kekayaan budaya yang menjadi identitas masyarakat Bontang dan Kalimantan Timur. (Re)






