Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

Di Anjungan Pantai Manakarra, Ribuan Jamaah Menemukan Makna Sejati Pengorbanan

Mamuju, Katinting.com – Kabut pagi masih menyelimuti Pantai Manakarra ketika ribuan langkah mulai berduyun-duyun menuju anjungan. Suara takbir bergema dari pengeras suara, menyatu dengan debur ombak yang perlahan tersapu matahari pagi. Allahu akbar, Allahu akbar… Lantunan itu seperti magnet yang menggerakkan tubuh-tubuh bersarung dan berpeci untuk segera menyusun shaf.

Di barisan terdepan, Gubernur Sulbar Suhardi Duka dan Wakil Gubernur Salim S. Mengga Bersama berdampingan dengan rakyatnya. Tak ada pengawal yang menghalangi, tak ada jarak yang memisahkan.

Pagi itu, di bawah langit Mamuju yang cerah, mereka sama hamba Allah yang sedang menunggu detik-detik khutbah tentang makna pengorbanan.

Tepat pukul 07.30, dua rakaat yang menyentuh Relung hati dimulai, bacaan Al-Fatihah mengalun khusyuk. Ratusan kepala bersujud serentak, membentuk gelombang ketundukan yang harmonis. Usai dua rakaat, Ustadz Namru Asdar, Ketua MUI Mamuju, naik mimbar. Suaranya lantang namun penuh kelembutan saat mengisahkan keteladanan Nabi Ibrahim AS.

“Lihatlah bagaimana Nabi Ibrahim rela mengorbankan Ismail, buah hatinya sendiri, demi ketaatan pada Allah,” ujarnya, matanya berbinar. “Tapi lihat juga bagaimana Allah menggantikannya dengan domba, bukti kasih sayang-Nya tak terbatas.”

Di antara jamaah, seorang bapak paruh baya mengusap air mata. mungkin ia teringat anaknya yang baru saja merantau. Atau seorang ibu yang memegang erat tangan anak kecil di sampingnya, seakan berjanji untuk selalu melindungi.

Namru tak hanya bercerita tentang masa lalu. Ia menyentil peringatan di tengah kemewahan ibadah, di mana maraknya peringatan di kemewahan ibadah, fenomena modern di mana ibadah kerap dijadikan ajang pamer. “Orang berlomba membangun masjid, tapi uangnya dari korupsi. Beramal besar, tapi hati penuh dengki,” sindirnya.

Sorot mata hadirin terasa lebih tajam. Seorang pemuda di barisan belakang menunduk, mungkin sedang mengevaluasi niatnya saat menyumbang tadi pagi. Sejauh mata memandang, ada yang tersenyum kecut, ada pula yang mengangguk pelan, seperti sedang menelan pil kebenaran yang pahit tapi perlu.

Di sudut lain, Gubernur Suhardi Duka menyalami warga satu per satu. Tanpa protokol, tanpa jarak. “Idul Adha mengajarkan kita untuk dekat, bukan justru menjauh,” ujarnya pada seorang jamaah yang terkejut mendapat perhatian.

Matahari semakin tinggi, tapi tak menyurutkan semangat jamaah yang masih bertukar cerita dan saling memaafkan. Seorang anak kecil berlari ke arah ayahnya, berlari kecil menyambut ayahnya, lalu menyalaminya.

Di tengah gemuruh modernitas, di antara hingar-bingar dunia digital, pagi ini Mamuju mengingatkan sesuatu yang sering terlupa: bahwa hakikat kurban bukan sekadar daging dan darah, tapi kerelaan untuk melepaskan apa yang kita cintai—demi sesuatu yang lebih besar.

Dan ribuan jamaah itu pulang dengan membawa lebih dari sekadar daging. Mereka membawa cerita Ibrahim dan Ismail, membawa pertanyaan untuk diri sendiri, “Sudahkah pengorbananku ikhlas ?” (Fhatur Anjasmara).

Share:

Redaksi

Media Informasi Rakyat