Oleh : Muh Saleh – Penelaaah Teknis Kebijakan Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Barat
WACANA penanganan stunting di Indonesia, termasuk Sulawesi Barat, sering kali direduksi menjadi soal Pemberian Makanan Tambahan (PMT) lokal. Seolah-olah, masalah gizi kronis bisa selesai dengan menambahkan bubur kacang hijau atau makanan bergizi lain di posyandu. Padahal, data terbaru justru menegaskan bahwa stunting adalah masalah multidimensi, dan solusinya harus menyentuh 14 indikator spesifik kesehatan.
Mari lihat realitas di lapangan di Sulawesi Barat. Berdasarkan data Dinas Kesehatan provinsi Sulawesi Barat capaian imunisasi dasar lengkap baru 25,6 persen, masih jauh dari target 80 persen. Desa bebas dari praktik buang air besar sembarangan (BABS) baru menyentuh 47,38 persen, setengah dari target 100 persen. Kasus gizi buruk balita yang seharusnya ditangani hingga 91 persen, baru 30,5 persen yang tercatat. Bahkan layanan krusial seperti pemantauan pertumbuhan balita masih stagnan di angka 65,59 persen dari target 80 persen.
Jika indikator dasar seperti ini belum terpenuhi, bagaimana mungkin hanya mengandalkan PMT bisa menjawab tantangan stunting yang kompleks?
Intervensi spesifik adalah kunci. Artinya, bukan hanya soal memberi makan, tapi juga memastikan ibu hamil minum tablet tambah darah, ANC minimal 6 kali, remaja putri menjalani skrining anemia, hingga pemberian ASI eksklusif selama enam bulan. Semua ini saling terkait. Gagal di satu titik, rantai pencegahan bisa runtuh.
Tantangan memang nyata. Konseling ASI belum berjalan efektif, rasio tenaga gizi timpang, hingga kampanye susu formula yang masif di media sosial. Tapi menyerahkan masalah pada PMT saja ibarat menambal ban bocor tanpa mengecek kerusakan lainnya.
Sulbar sudah punya target ambisius di 2025. Namun, capaian di Triwulan II 2025 menunjukkan jurang yang masih lebar. Ini saatnya pemerintah provinsi, kabupaten, hingga desa, benar-benar menjadikan 14 indikator ini sebagai peta jalan. Regulasi yang sudah ada harus ditegakkan, fasilitas kesehatan diperkuat, Revitalisasi Posyandu secara mantap dan tuntas serta pendampingan di level keluarga dipastikan hadir.
Karena stunting bukan hanya soal tinggi badan anak. Ia adalah cerminan ketimpangan akses, lemahnya layanan dasar, dan rapuhnya komitmen kebijakan. Dan jawabannya jelas: penanganan stunting harus lebih luas dari sekadar pemberian makanan tambahan. (*)






