Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

Lima Destinasi Prioritas Sulbar Berbasis Bahari, Dispoparekraf Perkuat Sinergi dengan Akademisi

Mamuju, Katinting.com – Dinas Kepemudaan, Olahraga, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif (Dispoparekraf) Provinsi Sulawesi Barat memperkuat sinergi dengan kalangan akademisi dalam menyusun arah pengembangan pariwisata bahari yang berkelanjutan. Langkah tersebut ditandai dengan kunjungan Asisten Profesor Politeknik Pariwisata (Poltekpar) Makassar, Farid Sahid, ke Kantor Dispoparekraf Sulbar, Rabu (22/7/2026).

Kunjungan yang diterima Sekretaris Dispoparekraf Sulbar, Andi Saiful Rauf, itu membahas evaluasi kebijakan pariwisata bahari sekaligus pengembangan kawasan pesisir sebagai destinasi unggulan.

Pertemuan tersebut sejalan dengan komitmen Gubernur Sulawesi Barat, Suhardi Duka, yang menjadikan sektor pariwisata sebagai salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi daerah.

Farid Sahid menjelaskan, kunjungannya merupakan bagian dari studi komprehensif mengenai evaluasi kebijakan pariwisata bahari dan pemanfaatan wilayah pesisir di lima kota di Pulau Sulawesi, yakni Manado, Makassar, Palu, Kendari, dan Mamuju.

Sementara itu, Andi Saiful Rauf memaparkan arah kebijakan strategis Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat dalam mengembangkan potensi wisata bahari yang menjadi salah satu sektor unggulan daerah.

Menurutnya, Sulawesi Barat memiliki modal besar berupa garis pantai sepanjang hampir 700 kilometer yang membentang dari Paku, Kabupaten Polewali Mandar, hingga Suremana, Kabupaten Pasangkayu.

Selain itu, dari enam destinasi pariwisata prioritas yang ditetapkan dalam tata ruang kepariwisataan daerah, lima di antaranya merupakan destinasi berbasis bahari.

“Sulawesi Barat memiliki modal awal pembangunan yang sangat besar, yaitu garis pantai sepanjang hampir 700 kilometer. Dari enam destinasi unggulan yang menjadi prioritas provinsi, lima di antaranya merupakan wisata bahari. Karena itu, sektor ini menjadi fokus utama pembangunan pariwisata daerah,” ujar Andi Saiful.

Ia menambahkan, potensi maritim tersebut menjadi sektor strategis untuk meningkatkan kinerja pariwisata sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

Sebagai bentuk penguatan sektor wisata bahari, Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat juga secara rutin menggelar sejumlah agenda tahunan, seperti Festival Penyu di Pantai Wisata Mampie, Festival Ba’ba Toa, dan Festival Sandeq Silumba.

Andi Saiful menilai kolaborasi dengan perguruan tinggi memiliki peran penting, terutama karena Dispoparekraf Sulbar tengah mempersiapkan revisi dokumen Rencana Induk Pembangunan Pariwisata Provinsi (RIPPARPROV) Sulawesi Barat.

Menurutnya, masukan dari kalangan akademisi akan menjadi salah satu bahan pertimbangan dalam merumuskan kebijakan pembangunan pariwisata yang lebih terarah dan berbasis kajian ilmiah.

“Koordinasi dan sinkronisasi dengan akademisi menjadi instrumen penting untuk memastikan hasil evaluasi dapat diintegrasikan sebagai bahan pertimbangan dalam proses revisi RIPPARPROV,” katanya.

Terpisah, Kepala Dispoparekraf Sulbar, Bau Akram Dai, menyatakan dukungannya terhadap penguatan kolaborasi antara pemerintah daerah dan perguruan tinggi dalam pembangunan sektor pariwisata.

Menurutnya, keterlibatan akademisi akan memperkuat basis data ilmiah dalam setiap penyusunan kebijakan sehingga program yang dirancang lebih tepat sasaran dan berkelanjutan.

“Sinergi ini penting agar pembangunan kepariwisataan berjalan berdasarkan data akademis yang valid, sekaligus mendukung penyusunan program yang tepat sasaran, peningkatan kualitas sumber daya manusia lokal, serta pengembangan pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan di Sulawesi Barat,” ujar Bau Akram. (*)

Share:

Redaksi

Media Informasi Rakyat