
Topoyo, Katinting.com – Sejak Mamuju Tengah berdiri sebagai daerah otonom baru, terjadi peningkatan kebutuhan material berbagai jenis untuk digunakan pada pembangunan beragam infrastruktur, baik kepentingan pemerintah maupun kepentingan masyarakat umum.
Sudah tentu untuk mendapatkan pemenuhan kebutuhan material seperti batu gunung dan timbunan untuk isi pondasi, penyuplai mengambilnya dari sejumlah bukit disekitar Mamuju Tengah tidak terkecuali Bukit Tanasi yang berada tepat ditengah tengah wilayah Kecamatan Topoyo, tidak luput dieksploitasi dijadikan salah satu sumber mendapatkan material oleh penyuplai.
Akibatnya tebing bukit bagian selatan, timur dan barat dari Bukit Tanai atau disebut juga Bukit Paulus terus mengalami pengerukan oleh penyuplai, penyedia material seperti tanah timbunan dan batu gunung, dan tentu bagi warga mulai mengkwatirkan, mengingat bukit tersebut dianggap strategis sebagai salah satu penghasil oksigen atau O2 bagi masyarakat sekitar saat ini khususnya dan masyarakat wilayah kota Mamuju Tengah umumnya. Karena masih ditumbuhi dengan rimbun pepohonan.
Karenanya warga berharap kepada pemerintah kiranya dapat menghentikan berbagai macam upaya eksploitasi pada bukit tersebut, agar bukit tersebut tetap asri dan memberikan manfaat yang baik bagi warga di Mamuju Tengah, dalam ketersedian Oksigen yang memadai yang dihasilkan rimbunan pepohonan diatas bukit tersebut.
“Saya kira ini memang penting menjadi perhatian pemerintah, sebab manfaat keberadaan Bukit Tanasi beserta dengan isinya, sangat dirasakan oleh masyarakat saat ini,salah satunya penghasil oksigen dan mampu menekan pemanasan suhu diwilayah Topoyo yang memang sedikit lebih gersang,” sebut Ruslan salah seorang warga Topoyo, Jumat (20/03).
Katanya saat ini saja Bukit Tanasi tersebut masih menyiapkan kita asupan oksigen, kadang kita masih merasakan intensitas pemanasan suhu diwilayah Topoyo dan sekitarnya, bagaimana kemudian kalau Bukit Tanasi atau kata lain Bukit Teletubis itu benar benar ludes dikeruk dan gersang. Tentu suhu yang kita rasakan di Topoyo dan sekitarnya jauh lebih panas dari saat ini.
“Karenanya, kami berharap benar-benar ada upaya dari pemerintah menghentikan pengambilan material disana, kalau bisa Bukit tersebut ditetapkan menjadi taman kota utama,” kata Ruslan.
Sementara itu, aktivis dari Forum Peduli Lingkungan (FoPeL) Mamuju Tengah, Syahdan Ali, juga angkat bicara, bahwa selain Bukit Tanasi mampu menyiapkan kita kebutuhan oksigen yang segar, diatas Bukit itu juga menjadi tempat ruang hidup sekawanan kera atau monyet ekor putih yang dilindungi, berdasarkan Undang undang Keanekaragaman Hayati dan Konservasi Alam, yang akan kita matikan perlahan kalau Bukit Tanasi terus dikeruk.
“Sebab itu, Sudah berkali kali kami ingatkan pemerintah, agar tetap mempertahankan keberadaan Bukit Tanasi, kalau perlu pemerintah membelinya dan menetapkan sebagai kawasan konservasi dalam kota, guna menyelamatkan kawanan Monyet yang ada diatas,” pesan Syahdan.
Ia menambahkan kalau pengerukan atau pengambilan material di Bukit Tanasi tidak dihetikan, maka tentu Pemerintah melalui instansi terkait, seperti Dinas Lingkungang Hidup dan Kebersihan (DLHK) Mamuju Tengah, sengaja melakukan pembiaran pemusnahan kawanan Monyet yang masuk dalam daftat hewan yang dilindungi.
“Dan ini, kita mesti hentikan secara bersama sama, guna memastikan Bukit Tanasi tetap ada dan tidak dijamah lagi untuk kepentingan apapun,” pungkas Syahdan.

(Mahfudz)






