Mamuju, Katinting.com – Seperti pisau yang terus diasah, Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat (Pemprov Sulbar) kembali membuktikan ketajaman inovasinya. Delapan terobosan pelayanan publik dari berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD) berhasil menembus seleksi administrasi Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik (KIPP) 2025, mengantarkan mereka ke babak penilaian nasional.
Tak sekadar nama, setiap inovasi yang lolos adalah cerita tentang cara Sulbar menjawab tantangan dengan kecerdasan kolektif:
1. Brand Communal Dekape (Dinas Kelautan dan Perikanan) Merek kolektif yang mengukuhkan identitas produk lokal.
2. I-BANUA (Biro Hukum Sekretariat Daerah) Rumah informasi hukum yang membuka akses keadilan.
3. La-PATUH (Biro Hukum Sekretariat Daerah) Layanan pengaduan bantuan hukum bagi yang terpinggirkan.
4. MALABBI (RSUD Provinsi Sulbar) Manajemen layanan ibu dan bayi yang memeluk kehidupan sejak dini.
5. MA’SILAMBI (Dinas Kesehatan) Gerakan kolaboratif memutus rantai stunting.
6. SIPEMIMPIN (Dinas PUPR) Sistem pengawasan pembangunan infrastruktur yang transparan.
7. SIPADA (Badan Pengelolaan Keuangan Daerah) Digitalisasi perjalanan dinas, efisiensi tanpa birokrasi berbelit.
8. SIDAYA (Dinas Pendidikan dan Kebudayaan) – Pusat informasi taman budaya dan museum yang menghidupkan ingatan kolektif.
Di antara kedelapan inovasi, MA’SILAMBI “Merdeka Ancaman Stunting Baru dengan Kolaborasi Mitra Berbasis Aksi” menjadi bukti bahwa perlawanan terhadap stunting tak bisa dimenangkan oleh satu pahlawan sendirian. Berasal dari bahasa Mamasa yang berarti “bertemu”, program ini adalah ruang temu ide, tangan, dan langkah nyata dari berbagai pihak: OPD, TP PKK, TNI/Polri, pelaku usaha, tokoh agama, hingga ibu-ibu di akar rumput.
“Stunting bukan hanya urusan Dinas Kesehatan, melainkan ujian bagi kemanusiaan kita bersama,” tegas Asran Masdy, Kepala Dinas Kesehatan Sulbar.
“MA’SILAMBI adalah panggung di mana semua aktor datang bukan untuk berbicara, tetapi bertindak.”
Keberhasilan delapan inovasi ini bukan sekadar pemenuhan administratif, melainkan sinyal bahwa Sulbar sedang menulis babak baru dalam layanan publik, inovatif, solutif, dan inklusif. Di tangan mereka, birokrasi tak lagi menjadi menara gading, melainkan jembatan yang menghubungkan negara dengan warganya.
Kini, dengan semangat yang tak kenal lelah, Sulbar siap berlaga di tingkat nasional. Bukan sekadar untuk piala, tetapi untuk membuktikan bahwa inovasi jika dilandasi kolaborasi bisa menjadi nafas perubahan yang sesungguhnya. (*/Fhatur Anjasmara)






