Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

Potensi Lokal Ditangan Sumaila, DKP ?

Tambak Udang milik Sumaila, yang berada di Desa Tumbu, Kecamatan, Topoyo, Mamuju Tengah. (Dok. Fhatur Anjasmara)

Oleh : Fhatur Anjasmara

Berangkat dari karir sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) beberapa puluh tahun lalu, jauh sebelum kabupaten Mamuju Tengah, terbentuk mengurusi dirinya sendiri, lalu lewat Pilkades Tumbu, Kecamatan Topoyo, mendapatkan kepercayaan masyarakat sebagai Kepada Desa Tumbu.

Lepas dari periode masa cutinya usai menjabat Kades Tumbu, Sumaila, saat Mamuju Tengah, berdiri dan menjadi sebuah kabupaten, Ia mengajukan diri perubahan status kepegawaiannya, dari fungsional ke struktural dan dari tahun 2013 telah dipercaya menduduki sejumlah jabatan dilingkup pemerintah kabupaten Mamuju Tengah, dan terkini, sebagai Kepala Bagian Verifikasi Keuangan dan Aset Sekertariat DPRD Mamuju Tengah.

Namun, ditengah dirinya mengabdikan diri sebagai ASN, Ia juga mencari peruntungan dalam hampir satu tahun ini, dengan aset lahan basah yang dipunyainya, memulai usaha pengembang biakan tambak udang, dengan modal mandiri.

Usaha tambak udang yang dirintisnya ini, baru dimulai awal tahun 2021, beralamat di Desa Tumbu, Kecamatan Topoyo, dengan luas kurang lebih 1 hektar, dan telah mulai panen dengan tingkat produksi yang menggembirakan sejak akhir Maret 2021, dan hingga hari ini, Rabu (19/05) sudah memasuki masa panen ketiga untuk petak pertamanya, dengan kuawalitas udang Vaname, dimana bocoran dari pedagang penadahnya, menyebutkan bahwa udang milik Sumaila ini, kualitasnya terbaik, karena bobotnya perekor diatas rata rata dari standar udang impor.

Tentu apa yang menjadi bocoran penadah udang dari tambak Sumaila, menjadi standar kuawalitas di pembelian udang di Mamuju Tengah, yang memang tambaknya, dikelola secara moderen, dilengkapi kincir, yang setiap kincirnya, dipasaran berharga Rp.12 juta, dan saat ini Sumaila memiliki 6 unit kincir yang dioperasikan secara bersamaan.

Meski dari perbincangan penulis dengan pemilk tambak, bahwa usaha tersebut adalah usaha yang dijalankan awalnya secara coba coba, karena selain memang tak punya pengalaman matang soal pengelolaan tambak, moderen, yang menggunakan tarpal pelastik dan kincir dengan jumlah besar, tapi meski coba coba, ia tetap total mengelola tambaknya tersebut, dan ternyata saat panen pertama beberapa bulan lalu, ia menyaksikan lansung bahwa hasilnya cukup memuaskan.

“Makanya saat panen perdana beberapa bulan lalu, saya lansung bersyukur, karena usaha coba coba ini ternyata membuahkan hasil, dan hasilnya sangat menggembirakan, seporsi modal yang kami buang dalam pembuatan tambak, dan modalnya tentu modal kami secara mandiri, yang kami tarik dari beberapa simpanan keluarga,” sebut Sumaila.

Katanya, meski menyadari bahwa membuat dan mengelola tambak udang secara moderen, membutuhkan modal hingga ratusan juta rupiah, yang tak sedikit jumlahnya, namun dengan niat dan nawaitunya yang kuat, Ia putuskan mengalihkan beberapa aset simpanannya masuk anggaran biaya produksi cetak tambak ini, meskipun kemudian dengan kelebihan aset tersebut bisa digunakannya meminjam modal di perbankan.

“Namun saya memilih, memutarnya lansung sehingga saya tak perlu berhutang untuk mendapatkan modal, sekalipun juga, teori ekonomi, sah sah saja utangan menjadi modal,” kata Sumaila.

Bahkan ia menyampaikan dengan luas lahan tambak yang dikelolanya saat ini, bisa mempekerjakan beberapa orang tetangganya, dan diberikan insentif bulanan, belum kemudian tip dari penjualan udang ketika panen tiba, atas usaha tambaknya tersebut, dan tidak main main, ia mengutarakan bahwa penggajian pekerjanya memang sesuai standar upah buruh yang ditetapkan pemerintah.

“Tidak kurang dari 8 orang kami pekerjakan saat ini, membantu kami mengelola tambak ini, dan kami bersyukur hasilnya dengan sekian pekerja yang kami punyai saat ini, lumayan, bagi kami,” ujar Sumaila.

Ketika penulis menelisik lebih jauh, sejak usaha tambaknya ini dibuka, apakah ada kontribusi dari dinas terkait dalam hal ini, adalah Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) paling tidak kontribusi suluh, dengan singkat Sumaila hanya memberikan penanda lewat gestur tubuhnya, yang penulis tangkap berarti belum ada.

Jawaban lewat gestur tubuh yang ditampilkan oleh Sumaila, tentu ini adalah sentilan penting bagi Dinas Kelautan dan Perikanan Mamuju Tengah, dimana semestinya sebagai leading sektor terkait, memiliki catatan kehadiran pada usaha tambak ini, kendati kemudian diketahui bersama, bahwa usaha tambak itu adalah usaha mandiri, namun kemandirian itu mesti dipahami tak selamanya dapat berdiri sendiri tanpa ada upaya penopang dari stakeholder terkait.

Karena, kelak bila kemudian diberikan kesempatan memaparkan basis potensi Mamuju Tengah, dalam forum forum tertentu, maka tambak milik Sumaila ini tidak akan absen menjadi salah satu ikon usaha tambak yang berhasil di Mamuju Tengah. Karenanya, DKP kemudian jangan membiarkan setiap pelaku usaha mandiri untuk berjalan sendiri, sebab bukan tak mungkin dengan modal yang dimilikinya, masih saja mereka kekurangan dalam pengembangan usaha tambaknya, sebab seperti halnya Kebun Sawit, tetap akan membutuhkan instansi terkait dalam proses replanting.

Olehnya jika kemudian setiap usaha penggarapan potensi yang dilakukan secara mandiri, di Mamuju Tengah, instansi terkait hadir, memberikan kontribusi paling tidak kontribusi suluh, maka daerah ini dengan segala potensinya akan tergarap dengan baik, dan memberikan dampak kesejahteraan bagi masyarakat secara besar. (**)

Share:

Redaksi

Media Informasi Rakyat