Katinting.com, Bontang – Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPM-PTSP) Bontang menilai bahwa peningkatan pendapatan daerah dari Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) tidak bisa lagi bertumpu pada pengajuan PBG rumah tinggal. Karena itu, DPM-PTSP kini fokus mendorong masuknya investasi industri berskala besar.
Penata Perizinan Ahli Muda DPM-PTSP Bontang, Idrus, mengungkapkan bahwa biaya tinggi untuk pembuatan gambar bangunan oleh arsitek tersertifikasi menjadi alasan utama minimnya permohonan PBG rumah tinggal. Situasi ini membuat pendapatan dari sektor tersebut sulit meningkat.
“Tahun lalu saja target Rp1,5 miliar tidak tercapai. Untuk tahun ini targetnya turun menjadi Rp600 juta, dan kalau hanya dari rumah tinggal, sebenarnya Rp300 juta pun berat,” ujarnya, Jum’at, (14/11/2025).
Karena itu, DPM-PTSP mengalihkan fokus pada sektor industri, terutama dengan adanya rencana pembangunan pabrik soda ash di Komplek KNE. Berdasarkan perhitungan, PBG untuk proyek tersebut dapat menyumbang pendapatan daerah sekitar Rp1,5 miliar hanya dari satu kegiatan.
Idrus menegaskan bahwa masuknya industri besar ke Bontang memberi dampak signifikan pada pendapatan perizinan. Ia berharap semakin banyak investor yang membuka usaha manufaktur maupun industri lainnya di kota ini.
“Kami mendorong lebih banyak pabrik berdiri di Bontang. Semakin banyak industri besar, semakin besar kontribusi pendapatan dari sektor PBG,” tutupnya. (Re)






