Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

Operasi Pengamanan atau Penganiayaan? Tenaga Medis Polman Terkapar di ICCU

Kondisi tubuh Kapus Alu, di duga jadi korban penganiyaan aparat dan salah tangkap. (dok Ist)

Polman, Katinting.com – Jamaluddin, Kepala Puskesmas Kecamatan Alu sekaligus Ketua PPNI Kabupaten Polman, masih terbaring tak sadarkan diri di ruang ICCU R Andi Depu, Polman.

Operasi pengangkatan gumpalan darah di kepalanya telah usai, tetapi pertanyaan besar menganga, bagaimana seorang tenaga medis terpelajar bisa berakhir dengan luka-luka serius di sekujur kepala dan wajah ?

Keluarga dan rekan sejawatnya menduga kuat ini adalah buah salah tangkap dalam pengamanan eksekusi lahan di Pallu’dai.

“Kami menuntut Polres Polman bertanggung jawab,” tegas salah seorang kerabat, suara parau menahan amarah.

Dalam kondisi limbung, istri Jamaluddin, yang kini juga terkapar di UGD akibat kelelahan, bercerita, suaminya berada di lokasi untuk mengamankan rumah mertuanya dari kobaran api.

“Ini rumah kami. Dia hanya berjaga,” katanya, gemetar.

Namun, narasi resmi seolah tak mendengar. Sebelum kerumunan pecah, seorang polisi sempat memerintahkan Jamaluddin masuk dan mengunci diri di dalam. Tak lama, pintu didobrak paksa.

Semua penghuni, termasuk sang perawat, diseret keluar.

“Dia berulang kali bilang, ‘Ini rumah saya!’ Tapi aparat tetap membabi buta,” ujar sang istri, matanya merah oleh air mata dan kemarahan.

Yang mengusik, mengapa korban mengalami luka sedemikian parah? Jika tujuannya pengamanan, mengapa evakuasi harus berujung penyiksaan? Ketika keluarga hendak mengantarkan makanan ke Polres, mereka dihalangi.

“Tak boleh bertemu,” begitu kata petugas.

Belum sempat protes, kabar buruk dating, Jamaluddin sudah terbaring di UGD RSUD Andi Depu dengan kondisi yang, menurut saksi, “mengenaskan.”

Keluarga korban menuntut akuntabilitas.

“Aparat harus bisa membedakan pelaku dari warga yang tidak bersalah. Jangan main gebuk saja,” desak mereka.

Sementara itu, di balik dinginnya tembok rumah sakit, nyawa seorang kepala puskesmas masih bergantung pada selang infus dan mesin pernapasan.

Polres Polman belum memberikan klarifikasi resmi. Tapi, darah yang mengering di tanah Pallu’dai, dan di kepala Jamaluddin, adalah saksi bisu yang tak bisa dibungkam. (*/Fhatur Anjasmara)

Share:

Redaksi

Media Informasi Rakyat