Mamuju, Katinting.com — Manakarra Film Festival (MFF) 2024 hadir dengan program-program istimewa yang mengusung filosofi budaya khas Sulawesi Barat.
Acara ini menandai semangat baru dalam dunia perfilman Sulbar, sekaligus menjadi ajang berkumpulnya sineas dari seluruh Indonesia. Dengan tema ‘Presence’, MFF 2024 diharapkan menjadi tonggak kelahiran industri film di wilayah ini.
MFF 2024 mempersembahkan beberapa kategori penghargaan yang dirancang unik, di antaranya: Manurung Award untuk kompetisi kategori umum, Sekomandi Award bagi pelajar dan mahasiswa, serta Banua Award yang fokus pada film maker dari Pulau Sulawesi.
Tidak hanya itu, festival ini juga mengadakan program ‘Sandeq’, yang berisi pemutaran film non-kompetisi dengan tema-tema yang relevan untuk keberlanjutan ekosistem film di Sulbar. Program ini akan diiringi oleh diskusi dan talkshow menarik yang mengupas tuntas berbagai isu perfilman.
Yang menarik dari MFF 2024 adalah keterlibatan para juri ternama di dunia perfilman nasional, di antaranya: Ismail Basbeth, sutradara dan produser yang diakui di kancah festival internasional, Gorivana Ageza, pengajar filsafat sekaligus programer di Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF), dan Arfan Adhi Perdana, inisiator JAFF dan programer berbagai festival di Pulau Jawa.
Tercatat, sebanyak 126 film berpartisipasi di MFF 2024, mencerminkan tingginya antusiasme sineas tanah air terhadap festival film yang pertama kali diadakan di Sulawesi Barat ini.
Festival ini akan mencapai puncaknya pada 24 hingga 27 Oktober 2024, setelah melalui serangkaian program menarik, termasuk ‘Mimbara Sinema’—sebuah kegiatan yang mengajak komunitas kreatif dan sekolah untuk turut hadir dalam puncak acara.
Dengan tema yang kuat dan dukungan dari berbagai pihak, MFF 2024 diharapkan menjadi titik awal kemunculan industri perfilman di Sulbar, membawa spirit baru dalam seni dan budaya di wilayah tersebut.
(*)






