CDO PT Pasangkayu Matheus Raditya.
banner 728x90

Pasangkayu, Katinting.com – Perusahaan sawit milik Astra Group seakan tak pernah lepas dirundung masalah, mulai dari isu lingkungan hingga penyerobotan lahan warga.

Bahkan pemindahan TPS saat pemilu legislatif 2014 lalu sempat menjadi sorotan publik dan mendapat reaksi keras dari beberapa anggota DPRD kala itu.

Persoalan klasik yang selalu jadi perhatian ini kini mencuat kembali ke permukaan. Pasalnya warga Suku Bunggu yang telah mendiami areal lahan yang dulunya masih hutan belantara seakan diambil paksa pihak perusahaan dengan cara klaim HGU.

Padahal menurut warga, meski semenjak tahun 2006 sudah dibicarakan antara kedua belah pihak, namun sampai saat ini belum mendapatkan titik terang. Bahkan hal tersebut diperkuat dengan pernyataan salah seorang anggota DPRD Matra Saifuddin Baso.

Faktanya pada hari Kamis, 13 April puluhan warga mendatangi gedung DPRD Matra meminta tanah mereka dikembalikan yang termasuk dalam pengusaan HGU PT Pasangkayu seluas 9.319 hektar.

CDO PT Pasangkayu Matheus Raditya mengatakan tetap menghargai keinginan warga Pakava menuntut. Tapi pihaknya meminta tetap dilakukan komunikasi secara terbuka antara warga dan perusahaan.

Lagi pula, selama ini tidak ada masalah, tapi dia menilai ini hanya missing link (terputus mata rantai) dari pejabat lama dengan pejabat baru. Sehingga dia menduga cela ini dimanfaatkan warga mendesak agar kembali duduk bersama membicarakan soal lahan HGU.

Risalah panitia B proses peninjauan lokasi yang melibatkan seluruh instansi pemerintah terkait untuk dijadikan HGU. Selain itu, juga dilakukan korespondensi dengan warga di sekitar sebagai landasan penerbitan sertifikat HGU.

“Ini kurang mendasar (tuntutan warga_red), sebab tidak mungkin pihak BPN berani menerbitkan sertifikat HGU bila tidak ada proses peninjauan berupa risalah panitia B dan korespondensi dengan warga sekitar,” kata Matheus.

Selain itu, ia berkilah soal dugaan pembuangan limbah berbahaya ke sungai sekitar pabrik olahan minyak sawit (CPO), ini juga tidak terbukti. Sebab selama ini, pihaknya selalu melakukan pengujian laboratorium dan laporan tiap bulan.

“Intinya bila ada pencemaran, gampang terdeteksi melalui perubahan warna air, selain itu berdampak pada biota air berupa ikan mati, juga terdapat tumbuhnya klorin serta meningkatnya kadar keasaman pada air,” kilah Matheus saat dikonfirmasi, Jumat, 14 April di Pasangkayu. (Arham Bustaman)

Bagikan
Deskripsi gambar...