
Katinting.com, Sangatta – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) melalui Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPHP) terus memperkuat ketahanan pangan daerah.
Salah satu langkah strategis yang kini dijalankan adalah penataan pola tanam cabai yang lebih efektif dan terencana, guna memastikan ketersediaan komoditas tersebut stabil sepanjang tahun.
Kepala Bidang Hortikultura DTPHP Kutim, Wahyudi Noor, menjelaskan bahwa kebutuhan cabai di Kutim cenderung melonjak pada momen-momen tertentu.
Dari hasil pemantauan, terdapat empat periode yang selalu memicu tingginya permintaan, yaitu Ramadan dan Idulfitri, Iduladha, Maulid Nabi, serta Natal dan Tahun Baru.
“Ramadan dan Idulfitri itu puncaknya. Kemudian Iduladha, bulan Maulid, dan terakhir Natal serta Tahun Baru,” kata Wahyudi, di Sangatta.
Untuk menjawab dinamika tersebut, DTPHP Kutim menata jadwal tanam berbasis siklus tiga bulanan. Pola ini dirancang agar panen petani selalu bertepatan dengan masa permintaan tertinggi, sekaligus menjaga ketersediaan pasokan di pasar lokal.
“Kita susun jadwal tanam agar setiap tiga bulan selalu ada panen. Dengan pola ini, hasil petani lebih terjadwal dan merata,” tambahnya.
Sejak diterapkan pada 2023, program ini memperlihatkan hasil positif. Pemerintah daerah turut memberikan dukungan berupa pengolahan lahan serta distribusi bibit unggul.
Pendekatan kolaboratif ini mempermudah petani untuk memulai penanaman secara serentak namun tetap bertahap.
“Modelnya, petani mengolah lahan dulu, kemudian bantuan bibit kami distribusikan. Dengan begitu prosesnya lebih efektif,” ujar Wahyudi.
Pola tanam dimulai pada April. Setelah tiga bulan, petani memasuki panen tahap pertama, diikuti panen raya pada periode berikutnya. Produksi cabai meningkat bertahap hingga mencapai puncaknya.
Menurut Wahyudi, sistem panen berjenjang ini tidak hanya menjaga stabilitas pasokan cabai di pasar, tetapi juga melindungi harga agar tetap menguntungkan petani. Dengan panen yang tidak serempak, risiko harga anjlok dapat diminimalkan.
“Setiap tiga bulan ada panen. Pada Lebaran 2025 misalnya, harga di tingkat petani mencapai Rp 100.000, meskipun di pasar mencapai Rp 190.000,” jelasnya.
Melalui strategi tanam berkelanjutan ini, Pemerintah Kutim optimistis dapat mengurangi ketergantungan terhadap pasokan cabai dari luar daerah.
Selain menjaga ketersediaan, pola ini juga memastikan petani lokal memperoleh manfaat ekonomi yang lebih besar.
“Yang menikmati harga tinggi itu petani kita, bukan dari luar,” tegas Wahyudi.(Adv)






