Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

Hadang Radikalisme di Kalangan Pelajar, Siswa SMAN 1 Kalukku Diajak Perkuat Pancasila Lawan Paham IRET

Mamuju, Katinting.com – Badan Kesbangpol Sulawesi Barat berkolaborasi dengan Satgas Wilayah Densus 88 Antiteror Mabes Polri dan TVRI Stasiun Sulbar menyelenggarakan sosialisasi pencegahan paham Intoleransi, Radikalisme, Ekstremisme, dan Terorisme (IRET) di SMAN 1 Kalukku, Jumat (21/11). Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman pelajar terhadap ancaman penyebaran paham radikal di lingkungan pendidikan.

BACA JUGA: Dari 20% ke 75%: Sekda Sulbar Minta Pejabat Mamasa Pacu Kepuasan Layanan Publik

Plt. Kepala Badan Kesbangpol Sulbar, Sunusi, menyampaikan atensi Gubernur Sulbar Suhardi Duka, Ia menekankan bahwa pelajar termasuk kelompok rentan yang perlu dibekali pengetahuan sejak dini.

“Melalui kegiatan ini kami ingin menegaskan bahwa siswa harus cerdas dalam menyaring informasi, terutama di media sosial. Semangat kebangsaan dan kebhinekaan harus terus ditanamkan,” ujarnya.

Para pemateri mengungkapkan bahwa pelajar, anak-anak, dan perempuan sering menjadi target indoktrinasi kelompok radikal-teror. Dijelaskan pula bahwa radikalisme berkembang secara bertahap, dimulai dari intoleransi hingga berujung pada aksi kekerasan.

Perwakilan Satgas Wil Densus 88 Mabes Polri menegaskan bahwa terorisme tidak identik dengan agama tertentu. “IRET merupakan ancaman terhadap persatuan bangsa dan bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila,” tegasnya. Siswa diajak untuk lebih bijak dalam bergaul, memilih komunitas, serta melaporkan hal-hal mencurigakan di lingkungan sekitar.

Rakhmat, Analis Kebijakan Ahli Muda Bidang Kewaspadaan Nasional Kesbangpol Sulbar, menyampaikan materi penguatan ideologi dan wawasan kebangsaan. Ia menekankan pentingnya penanaman nilai-nilai Pancasila, cinta tanah air, serta kepedulian terhadap persatuan dan kesatuan bangsa sebagai benteng menangkal paham radikal.

Sebagai bentuk apresiasi, siswa yang aktif berpartisipasi diberi hadiah buku “Cinta Islam dan Cinta Indonesia” yang berisi kisah-kisah toleransi, kepahlawanan, dan kecintaan terhadap tanah air.

Kegiatan ini mendapat respons positif dari pihak sekolah yang berharap program serupa dapat terus dilakukan untuk memperkuat ketahanan pelajar dari paparan paham yang mengancam keamanan negara dan masa depan generasi muda. (*)

 

Share:

Redaksi

Media Informasi Rakyat