Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

Fitur Pintar Bantu Petani Kutim Pantau Kondisi Lahan Secara Digital

Katinting.com, Kaliorang – Fitur pemantauan digital pada alat irigasi berbasis internet yang disalurkan Bank Indonesia (BI) memudahkan petani hortikultura di Kutai Timur (Kutim) untuk memonitor kondisi lahan secara real time. Aplikasi yang terhubung dengan perangkat di lapangan menampilkan data kelembaban tanah, indikasi kekeringan, hingga perkiraan kandungan serat tanah yang berguna untuk mengatur pola irigasi dan perawatan tanaman.

Kepala Bidang Hortikultura DTPHP Kutim, Wahyudi Noor, menjelaskan, informasi tersebut mengubah metode pengelolaan lahan dari berdasarkan kebiasaan menjadi berbasis data.

“Di aplikasi itu bisa dilihat data kelembaban tanah, kondisi kekeringan, bahkan perkiraan kandungan serat tanah. Jadi petani lebih mudah menyesuaikan kebutuhan airnya,” katanya.

Selanjutnya ditambahkan Wahyudi, pemanfaatan data lapangan memungkinkan penerapan prinsip pertanian presisi, yaitu hanya memberikan input (air, pupuk) sesuai kebutuhan riil tanaman.

“Dampaknya, penggunaan air dan pupuk dapat dioptimalkan sehingga menurunkan biaya produksi serta mengurangi dampak lingkungan dari penggunaan sumber daya yang berlebihan,” sebutnya.

Kemudian, keunggulan lain adalah kemampuan prediktif alat yang membantu petani merencanakan masa tanam serta mengantisipasi gangguan cuaca.

Wahyuni mengutarakan lebih jauh, jika satu unit alat yang diberikan mencakup luas lahan sekitar tiga hektar dan dipakai secara kelompok oleh petani setempat. Namun, instalasi selang dan sprinkler dibiayai serta dipasang mandiri oleh kelompok tani, sehingga keberlanjutan operasional bergantung pada kapasitas teknis dan manajerial mereka.

“Untuk mengatasi hambatan ini, DTPHP Kutim berencana menggelar pelatihan teknis bagi anggota kelompok tani yang memanfaatkan perangkat,” tegasnya.

Berikutnya untuk pelatihan akan mencakup interpretasi data kelembaban, pengaturan jadwal irigasi otomatis, serta pemeliharaan komponen mekanis seperti pompa dan sprinkler.

“Dengan meningkatkan kapasitas lokal, diharapkan manfaat teknologi digital ini tidak sekadar jangka pendek tetapi berlanjut menjadi praktik pertanian yang berkelanjutan dan produktif di Kutim,” tutupnya.(Adv)

Share: