Mamuju Tengah, Katinting.com – Salah satu entri poin belanja yang terpangkas atas dasar efesiensi anggaran, bahkan menempati posisi terbesar presentasinya dalam pemangkasan, adalah pemangkasan anggaran alat tulis kantor (ATK).
Tidak tanggung, nilai persentase yang dipotong, mencapai 90 persen sehingga pemangkasan ini, membuat keterkejutan bagi pelaku usaha ATK dan Fotocopy, mengingkat konsumen usaha ATK & Fotocopy di daerah seperti Mamuju Tengah, bergantung pada kebutuhan ATK kantor pemerintah.
Salah seorang pelaku usaha ATK di Mamuju Tengah, Sadri, mengemukakan, putusan pemangkasan berdasar Inpres No.1 Tahun 2025 memberikan efek domino pada mereka yang membuka usaha ATK.
“Kami ini bergantungnya, ke kebutuhan ATK kantor pemerintah, sehingga konsumen andalan kami, ya memang pemenuhan kebutuhan kantor pemerintah” ungkap Sadri.
Ia pun menuturkan bahwa pemangkasan anggaran benar benar membuatnya merasakan dampaknya, bahkan dampak itu sudah terasa dalam dua pekan terakhir, dimana biasanya konsumen dalam sehari sejak buka toko hingga jam 12 siang, sudah silih berganti.
“Tapi saat ini, dalam dua pekan ini, dalam sehari, tidak ada yang datang belanja, termasuk kemudian kontraktor, sebab urusan dokumen pekerjaan mereka, sudah berbasis online, jadi benar benar sudah terasa dampak Inpres No.1 Tahun 2025 ini” tutur Sadri.
Bahkan katanya, sudah rekannya, dengan usaha yang sama, yang gulung tikar, sebab konsumen ATK dan fotocopy sama sekali tidak ada lagi masuk tokonya.
“Ini tentu menakutkan bagi kami, betapa besarnya efek domino Inpres No.1 Tahun 2025 akibat pemangkasan belanja ATK pada kantor pemerintah sebesar 90 persen” kata Sadri.
Sebab itu, Ia pun tidak tahu lagi, dengan kondisi yang dialaminya, ia pun punya keinginan banting stir buka usaha lain, namun masih kebingungan mau usaha apa dengan kondisi seperti saat ini.
“Keadaan makin berat, mau banting stir ke usaha lain, tapi saya masih bingung mau usaha apa, mau berkebun sawit, kami tidak punya lahan” tutupnya Sadri, dengan helaan nafas Panjang. (Fhatur Anjasmara)






