Ilustrasi petani sedang mengart padi. (dok Int)
banner 728x90

Mamuju, Katinting.com – Sudah hamper dua bulan menjelang, Bahtiar Baharuddin pimpin Sulawesi Barat dalam lakon sebagai Pj Gubernur. Selama waktu itu pula, ia menampilkan geliat bercocok tanam, belakangan mulai membiakkan ikan.

Salah satu komoditi yang dibanggakan dan bak dipaksakan dikelola petani, pendamping sukun yang awal dia tanam setibanya di Sulbar adalah pisang jenis Cavendish, yang menurutnya punya nilai ekonomi yang tinggi dan dapat mendongkrak pendapatan masyarakat.

Hanysa seja kemudian sejumlah petani kepada laman ini, bercerita bahwa pisang dibawah oleh Pj Gubernur Sulbar Bahtiar Baharuddin dari Sulsel, benar adalah salah satu jenis pisang dengan kualitas terbaik, hanya saja kemudian petani bingung itu mau ditanam di mana.

“Saya kira program pisang Cavendish ini mengganggu, program ketahanan pangan, kalau dikembangkan secara besar besaran, di tengah program nasional petani digenjot melakukan perluasan areal tanam untuk Padi, Jagung, Kedelai (Pajale) sebagai penjaga cadangan pangan” jelas Mursyid salah seorang petani di Kalukku, Kamis (04/07).

Ia menuturkan, sejak Pj Gubernur Bahtiar Baharuddin kampanye tanam pisang Cavendish, petani Sebagian bingung ini, sebab bukannya program nasional adalah penguatan cadangan pangan dasar, berupa Pajale, bahkan sudah masuk tahap perluasan areal tanam (PAT) tapi malah kehadiran program pisang ini, tentu mengganggu program nasional.

“Karenanya, kalau petani mau mengkonversi lahannya jadi lahan perkebunan pisang, yang tadinya lahan Pajale, mestinya dipikir baik baik, karena pasar pisang Cavendish pun juga pasar kelas menengah ke atas, karena hanya laris di Mall dan Supermarket” tutur Mursyid.

Bahkan Pj Gubernur Sulbar pun juga mengiming iming kemudahan petani yang tanam pisang, dalam hal perolehan modal berupa KUR dari Bank, pertanyaan sekarang, Bank mana yang mau memberikan pinjaman, bayar cicilannya bisa 7 bulan sekali, sebab pisang itu panen sekali direntang waktu 6 sampai 7 bulan ?

“Kami saja petani Pajale, bank tidak mau dibayar cicilan KUR-nya 3 bulan sekali, tetap bayar tiap bulan, meski bunga rendah, nah kalau pinjam KUR untuk tanam pisang, Bank mana mau di cicil pembayaran KUR-nya hanya sekali dalam 7 bulan, sebab pasti petani kita memang mengandalkan hasil panen, itu kalau panennya berhasil” tegas Mursyid.

Petani lainnya dari Bonehau Marthen, mengungkapkan bahwa itu juga jadi persoalan petani di Bonehau, Mamuju, karena hamparan yang dijadikan areal perkebunan pisang saat ini di Bonehau adalah areal persawahan.

“Lah kalau sawahnya, yang di sulap jadi kebun pisang, nanti kami di Bonehau dapat beras mahal, karena sawah dikurangi, yang otomatis, membuat produksi beras juga berkurang” ungkap Marthen.

Karenanya ia berharap agar Pj Gubernur melibatkan para penyuluh pertanian lapangan (PPL) yang tahu persis apa kebutuhan petani ya PPL ini, kultur lahan ya PPL juga.

“Bukan kemudian datang datang tiba tiba suruh orang tanam pisang, sementara petani sedang giat giatnya cari tambahan lahan untuk program Pajale, yang merupakan program nasional, tapi di ganggu oleh kepentingan kelompok, sebab pisang ini terlihat berjejaring polanya, nah kalau berjejaring tentu ada kelompoknya” pungkas Marthen. (Fhatur Anjasmara)

Bagikan
Deskripsi gambar...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here