Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

Bencana Lingkungan di Ujung Tambang, GMKI Cabang Mamuju Peringatkan Pemprov

Mamuju, Katinting.com – Dahulu, Sungai Bonehau mengalir deras bagai urat nadi hijau yang memelihara ribuan jiwa di Mamuju. Airnya jernih, diminum langsung untuk mandi, mencuci, hingga irigasi sawah subur. Kini, wajahnya berubah, lumpur cokelat pekat menggenangi dasar sungai, ancaman pencemaran dari aktivitas tambang batu pecah PT Passokorang di lereng bukit terdekat.

Baca juga; PETI Kalumpang Disegel, Operasi TNI-Polri Tekan Tambang Ilegal, Warga Diimbau Waspada

Penggalian kontinu tanpa pengawasan ketat ini memicu erosi tanah masif. Lumpur deras mengalir deras ke sungai saat hujan deras, berujung banjir bandang yang merobek infrastruktur vital. Jembatan penghubung Desa Buttuada’ dan Hinua ambruk tertelan arus, jalan antardesa retak parah, menyisakan puing-puing yang kini jadi saksi bisu. Musim hujan yang baru dimulai justru memperparah mimpi buruk warga.

“Warga ketakutan bencana lebih dahsyat lagi. Sungai ini nyawa kami hilangnya berarti mati perlahan,” keluh seorang petani di Desa Buttuada’, mata memerah menatap puing jembatan yang tenggelam. Banjir terbaru ini bukan kebetulan, laporan warga tunjukkan aliran lumpur dari lokasi tambang langsung menyembur ke Bonehau, mengubah alur sungai yang dulu tenang.

Ratno Irawan, Badan Pengurus Cabang (BPC) Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Mamuju Tengah, tak lagi menahan amarah. “Aktivitas tambang PT Passokorang harus dihentikan segera dan ditindaklanjuti penuh. Pengawasan lalai ini membiarkan penggalian liar menggusur keseimbangan alam, ancam ribuan warga,” tegasnya kepada Katinting.com di sela aksi damai kemarin.

Warga serempak mendesak Pemprov Sulawesi Barat bergerak cepat. Sasaran utama: Dinas Sumber Daya Mineral (SDM) dan Dinas Lingkungan Hidup untuk audit mendalam evaluasi Amdal, restorasi sungai, serta sanksi tegas bagi pelanggar. “Jika dibiarkan, Bonehau tak lagi bernyanyi riang, tapi menangis darah membawa kehancuran,” ujar tokoh masyarakat Hinua, suaranya bergema di antara rerimbunan pohon yang kian gundul.

Hingga berita ini diturunkan, PT Passokorang dan dinas terkait belum merespons panggilan Katinting.com. Kasus ini kian kritis di tengah tren nasional, tambang ilegal kerap jadi dalang bencana serupa, dari longsor hingga pencemaran sungai, menuntut penegakan hukum yang tak pandang bulu. (Fhatur Anjasmara)

Share:

Redaksi

Media Informasi Rakyat