Mamuju, Katinting.com – Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Sulawesi Barat mengecam ketidakadilan skema kontribusi dana kebencanaan nasional yang berisiko membebani daerah dengan kapasitas fiskal terbatas. Hal ini diungkapkan oleh Fasilitator Pemerintahan Bapperida Sulbar, Muhaimin Indra, saat menghadiri Uji Publik Rencana Kerja Manajemen Kebencanaan yang digagas Kementerian Keuangan di Mamuju, Jumat (21/11).
Muhaimin menyatakan dengan tegas bahwa skema Pool Funding for Disaster (PFB) yang sedang dimatangkan harus mengedepankan prinsip keadilan dan proporsionalitas. “Daerah dengan risiko tinggi dan kapasitas fiskal terbatas, seperti Sulawesi Barat, tidak bisa diperlakukan setara dengan daerah berkapasitas besar. Formulasi kontribusi harus membuka ruang keadilan nyata,” tegasnya.
Kemenkeu menjelaskan dua pilar utama kontribusi: dasar yang merata dan tambahan yang berbasis risiko serta kapasitas fiskal. Namun, fakta di lapangan mencatat seluruh kabupaten di Sulbar masuk zona risiko gempa tinggi, sehingga beban kontribusi daerah ini secara otomatis masuk kategori tinggi, menuntut kesiapan anggaran ekstra.
Selain itu, pemerintah daerah wajib menyediakan matching fund minimal 5% dari Dana Hibah sebagai komitmen serius terhadap kesiapsiagaan bencana. Kewajiban ini menegaskan perlunya sinergi pendanaan pusat-daerah yang berkelanjutan dan responsif.
Plt. Kepala Bapperida Sulbar, Darwis Damir, bersama Sekprov Junda Maulana, menyatakan komitmen penuh mendukung sistem pembiayaan yang transparan, akuntabel, dan beradaptasi dengan risiko yang terus meningkat. Prioritas kesiapsiagaan bencana kini menjadi tonggak utama pembangunan Sulawesi Barat, sejalan dengan arahan Gubernur Suhardi Duka dan Wakil Gubernur Salim S. Mengga.
Rangkaian uji publik ini menjadi batu pijakan sebelum finalisasi Draft RKMK Dana Bersama Penanggulangan Bencana. Dokumen ini diharapkan memperkuat payung hukum serta pembiayaan solusi kebencanaan yang tidak hanya responsif, tapi juga adil dan berkeadaban dalam menghadapi ancaman bencana yang kian intens. (*/Fhatur Anjasmara)






