Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

Air Bersih Terputus 4 Hari, Warga Pasangkayu Menunggu Perbaikan Pipa Patah Dihantam Banjir

Pasangkayu, Katinting.com – Ribuan warga di Kelurahan Pasangkayu, Kabupaten Pasangkayu, harus bersabar menunggu normalisasi pasokan air bersih setelah pipa transmisi utama patah dihantam banjir bandang setinggi enam meter pada Sabtu (10/1) lalu. Gangguan ini telah berlangsung empat hari dan menguras kesabaran masyarakat.

BACA JUGA: LBH dan PN Pasangkayu Perpanjang Kerja Sama Posbakum, Layani Akses Keadilan Publik

Warga mengeluh aktivitas harian, terutama kebutuhan dasar rumah tangga seperti mandi, masak, dan mencuci, menjadi sangat terganggu. Keluhan semakin menjadi karena mereka tetap dikenakan kewajiban membayar iuran bulanan, bahkan denda keterlambatan, meski air tak mengalir.

Kepala UPTD Air Bersih Pasangkayu, Munawwir, membenarkan gangguan ini. Ia menjelaskan, banjir besar dari Dusun Mandar 2 menyebabkan kerusakan parah pada infrastruktur vital tersebut.

“Pipa transmisi patah menjadi dua dan bergeser dari pinggir hingga ke tengah sungai,” ujar Munawwir, Selasa (13/1).

Di lokasi kejadian, badan pipa masih diselimuti sisa material banjir seperti rumput dan sampah, menunjukkan besarnya daya rusak air.

Meski upaya perbaikan telah dilakukan, Munawwir mengakui timnya menghadapi sejumlah kendala signifikan, diantaranya, keterbatasan anggaran: Dana operasional untuk penanganan darurat sangat terbatas. Keterbatasan Tenaga Teknis: Jumlah personel ahli untuk perbaikan infrastruktur berat tidak memadai. Kendala Administratif: Pipa transmisi tersebut merupakan aset Balai Sungai, sehingga UPTD harus berkoordinasi dan meminta izin terlebih dahulu sebelum melakukan perbaikan menyeluruh.

“Kami terus berkoordinasi dengan Dinas PU untuk mencari solusi terbaik,” tambahnya, menegaskan bahwa upaya sedang berjalan meski lambat.

Di tengah tekanan warga, Munawwir menyatakan bahwa pihaknya telah berusaha menyampaikan informasi tentang gangguan ini kepada pelanggan. Namun, hal tersebut tampaknya belum cukup meredam kekecewaan masyarakat yang merasa layanan publik tidak optimal.

Insiden ini menyoroti kerentanan infrastruktur dasar terhadap bencana alam dan pentingnya mekanisme respons darurat serta skema pembayaran yang fleksibel saat layanan terganggu. Warga berharap perbaikan dapat dipercepat agar pasokan air bersih kebutuhan paling primer segera pulih. (Udi)

Share:

Redaksi

Media Informasi Rakyat