Mamuju, Katinting.com – Peringatan Hari Perempuan Internasional (International Women’s Day/IWD) 2026 di Mamuju diwarnai dengan kegiatan reflektif dan kreatif yang digagas oleh Yayasan Karampuang bersama Komunitas Sorai Puan, dengan dukungan FAMM Indonesia.
Kegiatan bertajuk “Seni Melawan Sunyi” ini digelar di Taman Literasi Landscape Mamuju, Ahad (8/3/2026), dan diikuti perempuan muda dari berbagai komunitas, mulai dari pegiat isu perempuan, literasi, hingga seni.
Tema kegiatan ini sejalan dengan kampanye Aliansi Perempuan Indonesia, yakni “Perempuan Bersatu: Melawan Penghancuran Atas Tubuh.” Melalui kegiatan ini, penyelenggara ingin menghadirkan ruang aman bagi perempuan untuk berbagi pengalaman tubuh mereka—sesuatu yang kerap kali disimpan dalam diam karena tekanan sosial, stigma, atau pengalaman kekerasan.
Lewat seni dan refleksi diri, pengalaman tersebut perlahan diubah menjadi ekspresi kreatif yang bukan hanya menyuarakan kesunyian, tetapi juga membangun solidaritas antarperempuan.
Kegiatan diawali dengan refleksi sejarah lahirnya Hari Perempuan Internasional, yang berakar dari perjuangan buruh perempuan pada awal abad ke-20. Pada tahun 1908, ribuan buruh perempuan di New York turun ke jalan menuntut jam kerja yang lebih manusiawi, upah layak, serta hak suara.
Dua tahun kemudian, dalam Konferensi Buruh Perempuan di Copenhagen, Denmark, aktivis perempuan Clara Zetkin mengusulkan penetapan Hari Perempuan Internasional. Usulan itu kemudian disepakati oleh lebih dari 100 perempuan dari 17 negara.
Tanggal 8 Maret sendiri berkaitan dengan aksi mogok kerja perempuan di Rusia pada masa Perang Dunia I yang menuntut “Bread and Peace” atau roti dan perdamaian. Aksi tersebut kemudian dikenang sebagai tonggak peringatan Hari Perempuan Internasional, yang sejak 1975 mulai dirayakan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan ditetapkan sebagai perayaan tahunan pada 1977.
Setelah sesi refleksi sejarah, kegiatan dilanjutkan dengan jurnaling bertajuk “Mengenal Tubuh yang Lama Diam.” Sesi ini dipandu oleh Sarliana, anggota FAMM Indonesia di Sulawesi Barat.
Peserta diajak mengenali perasaan tubuh mereka, memahami kekuatan sekaligus kerentanan diri, serta merefleksikan pengalaman yang selama ini mungkin jarang dibicarakan.
“Melalui jurnaling, kita diharapkan bisa lebih mengenal tubuh kita dan memahami bahwa tubuh kita sangat berharga serta perlu dijaga. Dikaitkan dengan tema IWD tahun ini, harapannya perempuan dapat mengidentifikasi berbagai bentuk kekerasan terhadap perempuan dan tidak ada lagi perempuan yang mengalaminya,” ujar Sarliana, yang akrab disapa Nannach.
Kegiatan kemudian berlanjut dengan sesi Art Healing, yakni terapi seni melalui aktivitas menggambar yang dipandu oleh Dian Hardianti dari Yayasan Karampuang. Dalam sesi ini, peserta mengekspresikan pengalaman tubuh dan perasaan mereka melalui karya visual.
Menurut Dian, seni sering menjadi medium yang lebih aman bagi perempuan untuk menyampaikan pengalaman personal yang sulit diungkapkan secara langsung.
“Melalui aktivitas seni, perempuan bisa mengekspresikan pengalaman personalnya dengan aman, reflektif, dan membebaskan. Harapannya, aktivitas ini dapat mengubah luka menjadi suara bersama yang saling menguatkan,” jelasnya.
Salah satu peserta, Sakina Amaliah Pratiwi, pegiat literasi, menilai kegiatan ini memberi ruang refleksi yang penting bagi perempuan untuk membicarakan tubuh dan pengalaman personal mereka.
“Sangat menarik, juga memantik emosi tentang tubuh perempuan yang secara personal layak diperbincangkan sebagai wujud keprihatinan sekaligus kesadaran kolektif. Kepedulian tidak selalu lahir dari perdebatan, kadang cukup dengan memberi ruang ekspresi seperti sesi journaling dan art healing,” ungkap Sakina.
Ia menyebut kegiatan yang digagas Sorai Puan ini menghadirkan ruang reflektif bagi perempuan untuk kembali mengenali diri mereka.
“Peringatan Hari Perempuan Internasional yang dilaksanakan oleh Sorai Puan layak disebut ruang pulang berkesadaran mencari diri. Selamat Hari Perempuan Internasional 2026 untuk para perempuan tangguh,” ujarnya.
Melalui kegiatan “Seni Melawan Sunyi”, para peserta diajak untuk merawat keberanian dalam bersuara, memperkuat solidaritas lintas komunitas, sekaligus menjadikan seni sebagai medium kampanye publik untuk menolak berbagai bentuk penghancuran atas tubuh perempuan.
Rangkaian acara ditutup dengan sesi berbagi cerita antar peserta dan buka puasa bersama, yang semakin mempererat kebersamaan di antara perempuan muda yang hadir. (*/ZK)






