Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

Pemdes dan Masyarakat Desa Buntu Buda Gelar Remuk Stunting

Foto bersama usai remuk Stunting. (Saldi)

Mamasa, Katinting.com – Pemerintah Desa dan masyarakat Desa Buntu Buda mengadakan acara “Remuk Stunting” untuk menangani masalah stunting di desa tersebut. Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala Bidang BPMD Kabupaten Mamasa, Bernard, Kepala Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi, Ester, Camat Mamasa, Harun Lullulangi, serta stakeholder Pemerintah Desa Buntu Buda dan masyarakat setempat. Kamis (11/7).

Desa Buntu Buda merupakan salah satu desa di Kecamatan Mamasa yang memiliki angka stunting tinggi, dengan tingkat prevalensi stunting mencapai 34,2 persen, menjadikannya urutan ketiga dari sebelas desa. Menurut data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Mamasa, ada sekitar 156 balita di desa ini, dengan kurang lebih 50 anak balita per Juni 2024 yang menderita stunting.

Kepala Desa Buntu Buda, Armas, menyatakan bahwa kesepakatan yang dicapai dalam kegiatan tersebut akan dituangkan dalam berita acara dan diimplementasikan dalam RKPDes Buntu Buda untuk penanganan stunting di desanya.

“Kesepakatan yang kami ambil dalam kegiatan remuk stunting ini terkait pencegahan stunting, intervensi ibu hamil yang kekurangan energi kronis, serta pemberian makanan tambahan kepada anak balita yang gizi buruk agar tidak menjadi stunting,” ujar Armas.

Armas juga mengapresiasi dukungan dari tokoh masyarakat dan BPD Desa Buntu Buda serta kehadiran Camat, Dinas Kesehatan, dan Dinas PMD yang sangat membantu dalam pelaksanaan kegiatan ini.

Kepala Bidang Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, Bernard, menekankan bahwa penanganan stunting menjadi salah satu prioritas yang harus ditangani sesuai Permen Desa tahun 2024. Ia menjelaskan bahwa alokasi Dana Desa untuk tahun 2024 mencakup Ketahanan Pangan minimal 20 persen, BLT Dana Desa sebesar 25 persen, dan prioritas penanganan stunting dengan persentase yang tidak ditentukan.

“Saat penetapan APBDs, akan dilakukan asistensi dana desa untuk mempertemukan antara Permen Desa tentang skala prioritas dan hasil musyawara masyarakat di Desa tersebut,” tutur Bernard.

Kepala Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi Dinas Kesehatan Kabupaten Mamasa, Ester, menyampaikan bahwa stunting di Kabupaten Mamasa mencapai 32 persen berdasarkan data rutin, meskipun hasil survei status gizi keluarga pada tahun 2023 menunjukkan angka 37 persen.

“Dari hasil survei, ada penurunan dari 37 persen tahun sebelumnya menjadi 37 persen. Ini menjadi acuan agar terus meminimalisir angka stunting,” ujar Ester.

Ester juga menyoroti pentingnya penanganan stunting mulai dari remaja dengan memberi tablet penambah darah pada remaja putri, wanita calon pengantin, ibu hamil, ibu nifas, hingga balita berumur 0-59 bulan. Penanganan stunting harus difokuskan pada 1000 hari pertama, yaitu masa hamil hingga 2 tahun pertama kehidupan anak.

“Kita berharap setelah 2 tahun mengikuti remuk stunting ini, angka stunting bisa menurun,” tandasnya. (Saldi)

 

Share:

Redaksi

Media Informasi Rakyat