Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

Sorai Puan: Wadah Kolaborasi untuk Ruang Aman dan Inklusif bagi Perempuan Sulbar

Mamuju, Katinting.com – Dalam momentum peringatan 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (16 HAKTP), lahir sebuah inisiatif baru bernama Sorai Puan (Suara untuk Ruang Aman dan Inklusif bagi Perempuan).

Wadah ini bertujuan memperkuat ruang aman dan inklusif bagi perempuan, termasuk perempuan disabilitas, melalui kolaborasi antara komunitas, aktivis muda, pelajar, mahasiswa, dan jaringan difabel di Sulawesi Barat.

“Kami ingin ada ruang di mana perempuan tidak harus kuat setiap saat. Ruang yang menerima saat kita menangis, marah, dan mendengar suara kita tanpa takut disalahkan,” ujar Rosida dari Komunitas Manakarra Book Club, salah satu bagian dari Sorai Puan.

Sebagai kegiatan perdana, Sorai Puan menggelar diskusi publik bertajuk “Dari Cerita ke Gerakan – Perempuan Ciptakan Ruang Aman dan Inklusif” pada 8 Desember 2025 di Gedung Mini Teater Dispusip Mamuju.

Kegiatan ini didukung oleh FAMM Indonesia melalui Yayasan Karampuang, Pusat Rehabilitasi YAKKUM melalui Yayasan Gema Difabel Sulawesi Barat, serta Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Mamuju.

Diskusi dibuka dengan pemaparan data kekerasan terhadap perempuan di Sulbar berdasarkan sistem SIMFONI-PPA. Data menunjukkan kekerasan paling banyak terjadi di rumah, diikuti sekolah dan ruang publik. Korban terbanyak adalah remaja usia 13–17 tahun. Akses layanan pengaduan dan pendampingan masih terbatas, terutama bagi perempuan di desa dan perempuan disabilitas.

“Data ini masih yang terlapor, belum termasuk kasus yang tidak dilaporkan,” jelas Dian Hardianti Lestari dari Yayasan Karampuang, yang juga menjadi pemantik diskusi.

Sesi “Perempuan Bercerita” menjadi bagian paling menyentuh, menghadirkan lima perempuan dengan latar belakang berbeda yang berbagi pengalaman menghadapi kekerasan dan ketidakadilan. Mereka adalah Marhamah (Relawan Merah Putih), Hasnaeni (Sekolah Perempuan Indonesia), Nopi (Difabel Preneur), Zahratun Nisa (Pelajar), dan Isnawati (Mahasiswa).

“Perempuan hidup bukan hanya untuk menempati ruang, tetapi juga menciptakan ruang. Dari situ saya bergerak bersama adik-adik di Kalukku, hingga lahir Pustaka Merah Putih, Sanggar Merah Putih, dan Relawan Merah Putih yang masih berjalan hingga kini,” kisah Marhamah, pendiri komunitas Merah Putih di Kalukku.

Acara ditutup dengan penyusunan komitmen bersama untuk menghentikan kekerasan terhadap perempuan dan menciptakan ruang aman serta inklusif. Salah satunya datang dari teman tuli, Saada, yang berkomitmen membantu perempuan lain mempelajari bahasa isyarat.

“Perkenalkan, saya Saada. Saya berkomitmen membantu teman-teman belajar bahasa isyarat agar kita bisa berkomunikasi dengan nyaman,” ujarnya melalui juru bahasa isyarat.

Aprilya Sewang dari Forum Genre Sulawesi Barat berharap kegiatan seperti ini tidak hanya ada di momentum 16 HAKTP, tetapi dapat terus diperluas. Hal senada disampaikan Sarliana (Nannach) dari Yayasan Gema Difabel, yang menyebut Sorai Puan sebagai titik awal membentuk ruang aman dan saling mendukung bagi perempuan.

“Kami berharap gerakan ini tidak berhenti di momen ini saja, tetapi dapat terus tumbuh. Semoga Sorai Puan menjadi ruang baru untuk belajar, bersuara, dan bergerak bersama,” kata Nannach.

Dengan hadirnya Sorai Puan, perempuan Sulbar kini memiliki wadah untuk mengubah cerita menjadi kekuatan, dan kekuatan menjadi gerakan kolektif menuju ruang yang lebih aman dan inklusif. (*)

Share:

Redaksi

Media Informasi Rakyat