oleh

Perempuan Penuh Candu

banner 728x90
Ilustrasi, Sumber Gambar : Internet

Oleh : Fhatur Anjasmara

(PART 7)

 

Sudah tiga kali 24 jam berlalu, usai Adelia dari rumah Dahniah bertandang, untuk meminta bantuan, agar dapat difasilitasi, bisa bertemu Rico, namun kabar yang dinantikannya juga tak kunjung ada dari Dahniah. Membuat Adelia, semakin kebingungan pada sikap yang ditunjukan oleh Rico kepadanya.

 

Ditempat terpisah, disebuah rumah kos milik Rico, Dahniah sedang asik menyakinkan Rico, bahwa benar, Adelia telah menemuinya, dan menyampaikan pesan Adelia, kalau Adelia butuh berbicara empat mata.

 

Siang itu, meski matahari sudah condong ke Barat, namun suasana panas, masih membuat gerah yang cukup menyiksa, sehingga baik Dahniah maupun Rico, memilih berbicara ditaman, dibawah sebuah pohon rindang. Berbeda dengan rumah kosan Rico sebelumnya, pada kosan barunya ini, suasananya seperti sedang ditaman bunga, karena sekeliling kosan itu, pemiliknya sengaja membangun hutan mini, sehingga tempat yang tepat untuk ngobrol, adalah taman, karena didalam rumah sedikit suasananya gerah.

 

Diatas bale berbentuk ayunan, Dahniah bersandar menggunakan belakangnya ke dada Rico, Ia menyampaikan bahwa Adelia sudah dari rumahnya, menemuinya. Ia juga menyampaikan pesan Adelia, kalau Adel ingin bertemu dengan Rico. Tapi, apa yang disampaikan oleh Dahniah, hanya dianggap angin lalu oleh Rico, Ia hanya mendengus…

 

“Ah sudah…. Malas aku, jangan membicarakan perempuan itu lagi didepanku” ujar Rico, dengan mimik serius dan tampak sangat kesal.

 

“Tapi Mba Adel, sangat berharap Bang, meski Saya tak berjanji, bahwa cara ini berhasil Bang, tapi menurut Saya, ini demi apa yang kita jalani saat ini” jelas Dahniah, sembari menoleh, menatap dalam dalam kedalam wajah Rico.

 

Rico terkejut dengan apa yang baru saja, Dahniah sampaikan, Ia seolah tersadar, bahwa ada sesuatu yang penting mesti diselesaikannya, Ia terdiam seribu bahasa dikedalaman tatapan Dahniah.

 

“Kenapa Bang, apa yang Saya sampaikan itu salah… kenapa Bang, kenapa diam ???” tanya Dahniah dengan pertanyaan yang beruntun.

 

Lalu melanjutkan…

 

“Jika Saya salah dengan cara Saya menyampaikan pesan Adelia pada Abang, maka Maafkan Saya Bang Rico..” lirih Dahniah.

 

Tanpa menjawab pertanyaan Dahniah, Rico menarik tubuh Dahniah kepelukannya, terasa sesak berkecamuk tiba tiba menyerangnya. Namun, Ia berupaya mengontrol emosinya.

 

“Ia Nia benar, Saya harus menuntaskan kisah Saya dengan Adelia, tapi sakit yang pernah Adelia toreh di hati ini, hingga saat ini, membuat penolakan dalam diri Saya untuk tak menemuinya lagi, sampai kapan pun” beber Rico dengan suara cukup berat.

 

Tapi Dahniah, justru penasaran dengan apa saja yang baru disampaikan oleh Rico, Ia berbalik lalu, mendongak kearah wajah Rico, menatap dalam dalam dan lekat Rico, mencoba membaca gurat wajah Rico, untuk mendapatkan jawaban, gerangan apa yang sudah terjadi antara Rico dan Adelia, sehingga Rico, menjadi sangat tak senang dengan Adelia.

 

Namun Rico tak hanya melepas pandangnya kedepan hingga Ia pun tak peduli akan tatapan Dahniah yang begitu lekat diwajahnya, pandangannya nanar jauh kedepan, berisi kekalutan, hingga Dahniah pun membiarkan keadaan itu, dan mulai paham, betapa kemudian terlukanya pria yang sedang merangkulnya setengah lingkaran.

 

Untuk tak membuat Rico, semakin larut dalam sedih, kebisuan suasan kembali dipecahkan oleh Dahniah, Ia mengajak Rico untuk mengungkapkannya, sekiranya Rico percaya bahwa dirinya tepat untuk mendengarkan cerita itu.

 

“Jika Saya pantas mendengar cerita itu Bang, maka ceritalah, jika kemudian Saya harus menyimpannya seperti menelan pil pahit, maka Saya juga akan menelan pil pahit itu, rasa cinta dan sayang Saya pada Abang, sangat besar, sehingga apapun itu, akan Saya siapkan diri ini, untuk Abang, meskipun Abang dengan cerita itu, adalah racun buat Saya” tawar Dahniah dengan sangat hati hati.

 

Tanpa respon dari apa yang Dahniah baru saja sampaikan ke Rico, Ia kembali meneruskan harapannya…

 

“Abang harus tahu, alasan Saya menyampaikan pesan Adelia pada Abang, karena Saya sangat sayang Abang, Saya tak ingin Abang masih terikat hubungan yang tak jelas dengan Adelia, sementara dari waktu ke waktu, kebersamaan kita juga terus kita rajut, Saya tak ingin kita saling melukai kelak, atas hubungan yang tak jelas Abang dengan yang lain, maka temuilah Adelia, untuk menuntaskan kemelut kita, jika kemudian Abang tak ingin bercerita sekarang” harap Dahniah sembari makin mendekap Rico.

 

Namun, Rico tetap saja dalam diamnya, meski kemudian, pandangnya tak lagi senanar tadi, Ia berusaha mengontrol sebaik mungkin emosi jiwa dan perasaannya, sebab dibalik hati kecilnya Ia pun masih menyimpan rasa suka pada Adelia, akan tetapi kejadian yang dialami bersama Adelia, tak bisa Ia lupakan sampai sore itu.

 

Akan tetapi Ia juga masih enggan untuk bercerita, apa yang sesungguhnya telah terjadi atas hubungannya dengan Adelia, walau pernah berjanji pada Dahniah, suatu saat, dirinya akan menceritakannya kepada Dahniah, Ia hanya butuh menyiapkan mentalnya, untuk membagi pengalaman lukanya kepada perempuan yang sedang mendekapnya.

 

Bersambung….

 

(gimana makin asik kan ceritanya, kalau tidak asik, ayo buat catatannya)

Bagikan
banner 728x90

Komentar