oleh

Perempuan Penuh Candu

banner 728x90

Oleh : Fhatur Anjasmara

(PART 3)

 

Setibanya dikamar, Rico, segera menyambar HPnya, yang tergeletak di meja chas, lalu memelototin satu persatu notifikasi yang masuk, Ia terhenti menggulir keatas, setelah mendapati notifikasi pesan pendek, dari nomor baru, dan memilih membuka pesan pendek tersebut.

 

“Rico, selamat pagi, maaf mengganggumu pagi pagi, Saya Adelia, butuh bantuan Abang, kalau Abang tidak keberatan, nomor Abang, Saya minta dari Alfine, anak IPA dulu di SMA. Tapi kalau nda mau membantu tidak apa apa juga” demikian pesan pendek tertulis dilayar HP milik Rico, dari nomor baru yang ternyata nomor Adelia, yang ditemuinya di kampus dua hari lalu.

 

Seusai membaca pesan dari Adelia, kening Rico mengekerut, lalu membatin “ada apa ya ?, tiba tiba anak itu, butuh bantuan saya, ah Saya balas saja dulu”  Ia pun mulai mengetik SMS sebagai balasan ke Adelia.

 

“Kenapa Del, Rico bisa bantu apa ?, semoga Rico bisa membantumu” tulisnya dipesan singkat, membalas pesan Adelia.

 

Tak berselang belasan detik, balasan pesan Rico, dari Adelia masuk.. “Saya berharap Rico bisa membantu Adel, sangat berharap loh Bang, kalau Rico tak menolak, baru Adel sampaikan” pintanya.

 

Rico dibuatnya makin bingung, setelah mendapatkan jawaban dari Adelia, sebab bukannya Adelia menyampaikan apa yang bisa Rico bantu, tapi Adelia, justru memastikan lebih dahulu, apakah Rico, sanggup atau tak sanggup.

 

Rico berpikir keras, membuatnya ragu, apakah memenuhi keinginan syarat yang diajukan Adelia atau menolaknya, tapi tak mengetahui apa yang Adelia inginkan darinya. Di sisi yang berbeda, batinnya, justru mengalahkan logikanya, sebab batinnya lebih dominan, kiranya Rico, mengiyakan permintaan Adelia… “perempuan yang pernah luh sayang, apa iya kamu tidak ingin bantu, ayo bantu saja, lagian, Dia juga sangat berharap kamu bantu” bisik batinnya, menimbulkan pemberontakan logika dan batinnya sendiri.

 

Ditengah pergolakan batin dan logika, Rico, memilih mengabaikan pesan berisi permintaan dari Adelia, Ia memilih ke meja yang ada dalam kamarnya, membuka satu unit Lactop yang ada diatas meja, lalu mengaktivkannya, setelah beberapa saat Lactop sudah siap pakai.

 

Rico menyetel musik yang pas ditelinga terdengar, kemudian lanjut menjelajahi folder berisi tugas tugas kuliahnya, mumpung hari libur, tak ada jam kuliah pada Sabtu itu, Ia memilih menghabiskan waktu seharian di rumah sembari menyelesaikan mengerjakan tugas kampusnya.

 

Akan tetapi, meski Ia sudah berupaya menyibukkan dirinya, di depan Lactop, pikirannya tetap dipasung isi pesan singkat dari Adelia, sehingga Ia kembali meraih Handphonenya, yang diletakkan begitu saja, di tempat tidur.

 

Ia mencoba mencari nomor baru milik Adelia, dan memencet program panggilan, namun Ia hanya mendapatkan notifikasi suara dari penyedia jasa telekomunikasi cellular, bahwa nomor yang ditujunya tak bisa dihubungi, dan operator suara cellular, memintanya mengecek ulang nomor tersebut.

 

Kening Rico, berkerut kemudian, membatin “ada apa ya, kenapa nomor Adelia tak bisa di hubungi ?” batin Rico.

 

Karena nomor yang baru saja dihubunginya, tak tersambung, meski telah dibell berulang ulang, Rico kembali mengacuhkannya, kemudian meneruskan menatap Lactop di depannya.

 

Belum beberapa menit waktu yang disisa usai mencoba menghubungi nomor Adelia, kembali Rico, segera meraih HPnya, karena dari tampilan layar HP, muncul notifikasi pesan masuk.

 

Dibukanya, pesan masuk itu, dan di layar HP tertera pesan masuk dari nomor milik Adelia yang baru saja coba dihubunginya tapi tak tersambung.

 

“Kenapa Bang, ada miscollnya nih, Adel terima ?” tulis Adelia pada pesan singkatnya.

 

Namun Rico tak membalas pesan singkat, tapi memilih memencet program panggilan ditujukan ke nomor Adelia, lagi lagi, Ia mendapatkan jawaban notifikasi suara dari penyedia jasa telekomunikasi cellular, jika nomor yang ditujunya, sedang tak aktiv dan diminta memeriksa ulang nomor yang dipanggil.

 

Olehnya, Ia berhenti menelpon, tapi masuk ke program pesan singkat, untuk membalas pesan Adelia. Rico bukannya, menjawab pesan Adelia, namun justru meracau lewat pesan singkat ke Adelia.

 

“Kenapa sih, nomor kamu susah amat di telpon Del ?” tanyanya dipesan singkat.

 

“Hehehe … Ia Bang, kenapa nelpon ? kan Adel cuman SMS” balas Adelia lewat pesan singkat beberapa saat kemudian.

 

“Abang justru mau dengan suara kamu, makanya Saya telpon, lagian ngetik juga lama, jadi pilihan Saya nelpon..” isi pesan Rico kembali pada Adelia penuh kesal.

 

“Iya Bang, kapan kapan nelponnya, tadi pertanyaan Adel belum dibalas, apa bisa atau tidak, bantu Adel ?, tapi kan, Bang Rico, sampai saat ini, tidak membalas, malah ngotot minta telpon” balik Adelia membalas.

 

Bukannya, Rico, menanggapi pertanyaan Adelian, Ia memilih mengacuhkan kembali HPnya, dan kembali ke Lactopnya, meneruskan untuk menuntaskan beberapa tugas kulianya, yang semestinya sedari tadi rampung, andai tetap mengacuhkan notifikasi pesan masuk pada HPnya.

 

Tidak kurang dari dua jam berada di depan meja dan Lactop, akhirnya, rampung juga tugas tugas kuliahnya, Ia melirik ke jam yang ada di dinding tepat didepannya, penunjuk waktu pemberian dari Dahniah, perempuan dikenalnya semasa masih menyelesaikan pendidikan disalah satu SMA di Makassar beberapa tahun lalu.

 

Waktu sudah menunjukan pukul 10.00, Rico sudah merasa jengah dan gerah, Rico pun berdiri dari kursinya, meninggalkan meja, setelah mematikan Lactop dan menutupnya. Ia bergegas kesampiran handuk dan dalamannya, kemudian melimpir masuk kamar mandi.

 

Dibasuhnya, sekujur tubuhnya dengan air dingin dari kran gantung dikamar mandinya, namun, Ia tak memungkiri jika pergolakan batinnya, tak usai, sekali pun saraf sarafnya sudah cukup terasa relakx usai tersiram air dingin. Tampilan layar ponselnya, berisi permintaan dari Adelia, membayang terus dipikirannya, hingga Ia terbawa ke tiga tahun lalu, saat Ia merasa hubungannya dengan Adelia baik baik saja kala itu.

 

Bersambung……

 

(Pasti penasaran kan ?, koq ada lagi nama Dahniah ?,  siapa Dahniah ?… tunggu saja Part berikutnya, akan ada kisah tersendiri dengan Dahniah)

Bagikan
banner 728x90

Komentar