Mamuju, Katinting.com – Aktivitas Car Free Day (CFD) di Jalan Yos Sudarso Arteri, Mamuju, yang sejatinya menjadi ruang rekreasi dan silaturahmi warga, justru memunculkan persoalan baru di sekitarnya. Ruas jalan yang tidak ditutup untuk CFD kerap mengalami kemacetan parah akibat ketidaktertiban parkir pengunjung.
Kegiatan CFD yang digelar setiap akhir pekan dan hari libur itu memang ramai didatangi masyarakat untuk berolahraga, berekreasi, dan wisata kuliner. Namun, euforia ini berbanding terbalik dengan kondisi lalu lintas di ruas arteri yang masih beroperasi. Kemacetan lalu lintas menjadi pemandangan rutin yang tak terelakkan.
Akar masalahnya terletak pada pola parkir sejumlah pengunjung, khususnya pemilik kendaraan roda empat, yang seenaknya memarkir kendaraan di badan jalan. Akibatnya, ruas jalan yang seharusnya lebar menjadi menyempit dan menimbulkan kemacetan yang mengular.
Warga yang kerap melintas di kawasan itu menilai masalahnya bukan pada kegiatan CFD-nya, melainkan pada kedisiplinan para pengendara.
“Problemnya bukan CFD, tapi pada ketidakteraturan parkir. Inilah yang memicu kemacetan setiap CFD digelar,” tegas Marwan, salah seorang warga Mamuju, ketika diwawancarai, Minggu (12/10).
Marwan menjelaskan, kemacetan dipicu oleh pengendara yang memarkir mobilnya di badan jalan setelah bahu jalan penuh.
“Ruas yang tadinya lebar jadi menyempit. Mereka tidak memikirkan pengguna jalan lain,” ujarnya.
Ia pun mendesak jajaran kepolisian dari Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polda Sulbar maupun Polresta Mamuju untuk mengambil tindakan tegas.
“Kalau tidak ada penindakan, orang akan terus seenaknya parkir, yang kemudian merangsek ke badan jalan, akibatnya jalan menyempit dan pengguna lain terganggu,” harap Marwan.
Keluhan serupa disampaikan Suriani, warga lainnya. Ia menilai sebagian pengunjung CFD tidak memiliki kesadaran dan cenderung egois.
“Mereka tidak menghargai hak orang lain. Sudah tahu bahu jalan penuh, tetap memaksakan parkir di badan jalan. Akibatnya, fungsi jalan untuk umum terganggu,” ujar Suriani.
Oleh karena itu, Suriani mendukung penuh jika polisi lalu lintas melakukan penegakan hukum secara konsisten.
“Tanpa penegakan, orang-orang, terutama yang baru punya kendaraan, akan terus berlaku semaunya. Mereka harus ditindak,” pungkasnya.
Desakan warga ini menuntut respons proaktif dari aparat. Tanpa penegakan hukum yang konsisten, kemacetan diperkirakan akan terus berulang dan mengganggu kenyamanan serta hak masyarakat untuk menggunakan jalan secara layak. (Fhatur Anjasmara)






