banner 728x90

LUKA PAPUA

Tidak ada komentar 492 views
LUKA PAPUA,5 / 5 ( 1voting )

Abdul Hakim Madda. (Ist.) 

Oleh: Abdul Hakim Madda*

Bila kita masuk di mal atau di pusat perbelanjaan banyak satpam yang bertugas memeriksa setiap pengunjung. Alasannya demi keamanan karena sering ada ancaman bom. Tapi lihat di Papua, tidak ada ancaman bom tapi dimana-mana ada Brimob dan TNI yang berjaga-jaga. Bahkan di daerah pedalaman, akan lebih mudah menemukan polisi dan tentara dari pada dokter, perawat atau guru.  Walaupun mungkin keberadaan mereka tidak lagi segarang dulu. Tapi kehadiran mereka di tempat itu sering memunculkn pertanyaan di benak para warga, untuk apa? Kalau untuk menjaga keamanan karena ada Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB), toh pengaruhnya tidak dalam skala yang luas.

Bagi sebagian besar warga papua, pengalaman buruk perilaku militer pada masa lalu belum pulih benar. Memori tentang tentara yang berjaga-jaga dengan senjata lengkap di pasar masih melekat kuat. Penculikan dan pembunuhan yang menimpa tokoh karismatik, Ketua Dewan Presidium Papua Theys H Eluay, misalnya adalah luka bagi warga Papua.

Penyakit HIV/AIDS juga menjadi masalah besar di Papua, hingga triwulan pertama 2019 tingkat penyebarannya telah menembus angka 40.805 kasus. Bisa jadi ini disebabkan kurangnya penyuluhan tentang kesehatan alat reproduksi, serta perilaku seks yang aman, yang seharusnya mengimbangi bermunculannya tempat-tempat prostitusi. Kesehatan adalah tanggung jawab negara dan peningkatan jumlah penderita HIV/AIDS adalah bukti kalau pemeritah abai. HIV/AIDS adalah luka yang lain buat Papua.

Ada juga masalah perang adat. Bagi suku-suku di Papua tanpa perang kebesaran nama suku tidak akan di pandang, dianggap lemah dan tidak memiliki harga diri di mata suku lainnya. Selain itu, pertempuran juga bermakna kesuburan dan kesejahteraan karena jika tak ada perang maka ternak babi dan hasil pertanian tidak dapat berkembang.
Namun dalam perang adat ada aturan yang berlaku. Warga papua sangat menghormati aturan itu, perempuan tidak boleh di bunuh. Juga harus bersama-sama menentukan tempat dan waktu berperang, serta siapa penanggung jawabnya. Setiap pelanggaran terhadap aturan ini akan mendapat tuntutan ganti rugi dalam jumlah besar setelah perang usai.

Begitu sakralnya perang adat ini sehingga bagi sebagian warga Papua mengganggap perang adat adalah wadah mengekspresikan nilai-nilai kelompok mereka. Namun sayangnya, tidak jarang perang adat ini malah sering di provokasi dan di tunggangi oleh pihak tertentu untuk kepentingannya sendiri.

Masih banyak kondisi yang membuat masyarakat Papua hidup prihatin… Kedatangan migran dari luar Papua, misalnya. Hingga akhir tahun 2010, jumlah warga asli Papua di perkirakan sebanyak 1.760.557 atau 48.73 persen. Sementara warga pendatang 1.852.297.517 atau 51,27 persen. Besarnya jumlah populasi migran ini tentunya menimbulkan masalah baru yakni terjadinya marjinalisasi penduduk asli.
Sebenarnya para pendatang tidak berniat untuk menyingkirkan penduduk asli, namun mereka lebih mampu memanfaatkan kesempatan dan potensi yang tersedia dan secara tidak sengaja menggilas keberadaan penduduk setempat. Belum lagi dengan pengambil alihan tanah dan eksploitasi sumberdaya alam yang tanpa di imbangi dengan kompensasi berupa kemakmuran dan kesejahteraan bagi penduduk setempat.

Beragam upaya pemerintah telah dilakukan untuk mempercepat pembangunan di daerah Papua. Misalnya, pemerintah mengeluarkan UU No. 21 tahun 2001 tentang otonomi khusus sampai pemekaran provinsi. Namun hingga kini persoalan-persoalan yang mendasar di Papua seperti persoalan SDM, kesehatan dan pemberdayaan ekonomi warga belum sepenuhnya teratasi. Meskipun perbaikan terus di genjot pemerintah Jokowi.

Seiring waktu pelan-pelan luka itu mulai mengering. Sampai sebuah peristiwa bernuansa SARA di Surabaya dan Malang membuat luka itu kembali terkoyak. Banyak pihak menyayangkan kejadian tersebut. Namun ada yang berpendapat bahwa banyaknya luka yang di derita orang Papua belum semuanya sembuh. Luka itu bukan untuk di tutup-tutupi. Malah harus di perlihatkan. Sehingga setiap mata bisa terbuka untuk mengobati lukanya. Mungkin bukan mata pemerintah saja tetapi juga mata kita semua yang peduli dengan nasib Papua.

*Penulis adalah warga biasa menetap di Pasangkayu

banner 900x90
Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "LUKA PAPUA"