Mamuju, Katinting.com – Ritme kerja biasa di halaman Kantor Dinas Komunikasi, Informatika, Persandian, dan Statistik (Kominfo) Sulawesi Barat, Jumat (03/10) pagi, tergantikan oleh gelora kebersamaan. Puluhan aparatur sipil negara (ASN) tak sungkan merengkuh sapu, memungut sampah, dan merapikan taman dalam sebuah aksi kolaboratif bertajuk Jumat Bersih dan Olahraga Bersama.
Inisiatif ini bukan sekadar aktivitas seremonial. Kegiatan ini merupakan implementasi langsung dari instruksi pimpinan daerah, Gubernur Sulbar Suhardi Duka dan Wakil Gubernur Salim S. Mengga, yang berkomitmen menanamkan budaya gotong royong sebagai fondasi kerja pemerintahan.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kominfo Sulbar, Muhammad Ridwan Djafar, yang turun langsung dalam aksi tersebut, menegaskan makna strategis di balik kegiatan yang terlihat sederhana ini. Ia menekankan bahwa “Jumat Bersih” adalah media untuk membangun kepedulian kolektif.
“Ini bukan persoalan membersihkan ruang fisik semata. Esensinya adalah bagaimana kita menumbuhkan etos saling peduli dan sinergi dalam setiap lini tugas. Dari gotong royong inilah solidaritas yang organik dan kuat antarpegawai akan lahir,” tegas Ridwan kepada awak media.
Pasca lingkungan kerja dibenahi, agenda berlanjut ke sesi olahraga bersama. Para pegawai dengan antusias mengikuti senam pagi dan sejumlah permainan ringan yang dipandu panitia internal. Gelak tawa dan canda mewarnai dinamika di lapangan, menjadi penawar efektif bagi kejenuhan rutinitas birokrasi.
Ridwan memaparkan, olahraga bersama yang digelar rutin memiliki dampak ganda yang signifikan. Di satu sisi, ia berfungsi sebagai investasi kesehatan jasmani bagi setiap individu. Di sisi lain, aktivitas fisik yang dilakukan secara kolektif ini merupakan perekat hubungan horizontal yang mampu memuluskan komunikasi kerja.
“Secara medis, olahraga teratur meningkatkan stamina dan meredam stres. Secara sosial, ia membangun chemistry dan kepercayaan antar tim. Konvergensi kedua manfaat inilah yang pada akhirnya memacu produktivitas dan semangat kerja kita,” pungkasnya. (*/Fhatur Anjasmara)






