Mamuju Tengah, TOKATA.id – Bayangkan, atap bocor meneteskan air hujan, dinding anyaman bergoyang diterpa badai hidup. Di sinilah Arief Usman (58), ayah pekerja serabutan, berjuang bersama putra semata wayangnya RD (11). Lahan pinjaman ini bukan milik mereka hanya saksi bisu perjuangan harian yang melelahkan, di Desa Kuo, Kecamatan Pangale, Mamuju Tengah.
Liputan media Sulawesi Barat menjadi pemicu badai perubahan. Dalam hitungan jam, jajaran Polsek Pangale dan Baznas Kabupaten Mamuju Tengah menyerbu lokasi. Asesmen faktual digelar: wawancara mendalam, gali riwayat pekerjaan acak, status aset nol besar.
Kepada wartawan yang terpaku, Kamsul, Ketua Baznas Mamuju Tengah, bersuara tegas. “Data akurat kami pegang: serabutan bertahun-tahun, lahan sementara yang rawan,” ungkapnya, mata berbinar tekad.

Ramadhan sebentar lagi. Baznas janji ledakkan bantuan pangan segera.
“Gubuk ini, Kami pikirkan matang matang, sebab berdiri di atas lahan bukan miliknya, tapi nasibnya milik kita semua,” tegas Kamsul, suaranya bergema harapan.
Lebih dari itu, keahlian bertukang Arief tak sia-sia.
“Pekerjaan layak? Ini prioritas. Kami gerakkan sekarang” pungkasnya, menutup babak kelam dengan bab baru.
Drama hidup Arief guncang jiwa, di negeri yang katanya adil, satu berita bisa nyalakan obor solidaritas. Siapa berikutnya ?. (*/Fhatur Anjasmara)






