Mamuju, Katinting.com – Ombak pantai yang berdesir lembut menjadi saksi bisu saat puluhan Aparatur Sipil Negara (ASN) Biro Pemkesra Sulawesi Barat melepas penat birokrasi. Dipilih spot wisata alam di pesisir Sulbar yang hijau merona, family gathering ini digelar Minggu (25/01) siang hingga sore. Lokasi strategis itu bukan kebetulan, dekat dengan ibu kota provinsi, mudah dijangkau, sekaligus simbol keterbukaan birokrasi terhadap masyarakat.
Baca juga; Rapat Tim LKPJ Biro Pemkesra Sulbar: Pastikan Data Akuntabel dan Sinkron Lintas Bidang
Acara diawali dengan sambutan hangat dari Kepala Biro Pemkesra Sulbar, Murdanil, yang turun langsung memimpin. Seluruh staf dari pegawai eselon hingga honorer hadir penuh, membawa keluarga untuk ciptakan nuansa kekeluargaan autentik. Agenda padat: ice-breaking game, senam bersama, hingga sesi sharing pengalaman kerja. Tak ketinggalan, hidangan khas Sulbar seperti kapurung dan tinutuan memperkaya suasana, sambil angin laut membelai wajah lelah para pegawai.
Inisiatif ini lahir dari kebutuhan mendesak. Di tengah dinamika Sulawesi Barat yang bergelora—dari isu pemberdayaan masyarakat hingga penanganan keluarga pra-sejahtera—tim Pemkesra butuh kekompakan ekstra. Data internal provinsi mencatat, indeks kepuasan pelayanan Pemkesra naik 15% tahun lalu, tapi tantangan seperti rotasi staf dan beban administratif masih menggerogoti solidaritas.
Ditemui pewarta, di pinggir pantai saat matahari condong ke barat, Murdanil tampil percaya diri. “Kegiatan ini bukan formalitas, tapi wadah konkret membangun silaturahmi kuat antarstaf, sekaligus ikatan emosional yang erat,” tegasnya.
Ia hubungkan langsung dengan visi-misi Gubernur Suhardi Duka dan Wakil Gubernur Salim S Mengga, “Semua sejalan dengan arahan pimpinan provinsi untuk budaya kerja kolaboratif, demi dukung pembangunan Sulbar yang inklusif.”
Murdanil tak berhenti di situ. “Kami harap lahirkan lingkungan kerja harmonis di Biro Pemkesra Sulbar, fondasi utama untuk kinerja berkualitas tinggi,” lanjutnya. Ia soroti manfaat jangka panjang: “Dengan solidaritas dan kesolidan yang terjalin, kinerja kami akan semakin tangguh menghadapi tugas berat seperti program pemberdayaan UMKM keluarga dan penanganan kemiskinan struktural.”
Family gathering semacam ini bukan barang baru di birokrasi Indonesia. Di Sulbar sendiri, kesuksesan serupa pernah dicatat Biro Humas Setda pada 2024, di mana survei internal tunjukkan peningkatan produktivitas 20% pasca-acara. Namun, kritik muncul: apakah rekreasi sporadis cukup lawan kultur kerja individualis yang masih melekat di ASN? Murdanil optimis, “Ini langkah awal. Selanjutnya, kami programkan mentoring bulanan dan pelatihan tim.”
Secara kritis, inisiatif ini patut diapresiasi sebagai respons proaktif terhadap Peraturan Menteri PANRB No. 21/2021 tentang Manajemen Talenta ASN, yang tekankan pengembangan emosional pegawai. Di Sulbar, di mana anggaran birokrasi ketat, alokasi untuk kegiatan seperti ini (diperkirakan Rp50-100 juta) bisa jadi investasi cerdas jika diukur dengan metrik nyata seperti waktu respons layanan.
Kegiatan ditutup dengan doa bersama, diiringi senja yang merah membara, simbol harapan baru. Bagi staf seperti Eka, pegawai Pemkesra berusia 35 tahun, “Ini bikin kami merasa satu keluarga, bukan sekadar rekan kerja.” Pertanyaan menggantung: bisakah momentum ini transformasikan birokrasi Sulbar jadi lebih gesit dan humanis? Waktu, dan aksi lanjutan, akan beri jawaban tegas. (*/Fhatur Anjasmara)






