Mamuju, Katinting com – Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Barat, Junda Maulana, secara resmi membuka kegiatan Mandarpreneur Syariah (Madrasah) Fair Sulawesi Barat 2026 yang diselenggarakan oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Barat di Atrium Mall Matos Mamuju, Kamis, 25 Juni 2026.
Mengusung tema “Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi dan Keuangan Syariah Sulawesi Barat yang Berkelanjutan Melalui Sinergi dan Transformasi Digital”, kegiatan ini menjadi wadah kolaborasi berbagai pemangku kepentingan untuk memperkuat ekonomi syariah, mendorong pengembangan UMKM, serta memperluas literasi keuangan syariah di Sulawesi Barat.
Mewakili Gubernur Sulbar Suhardi Duka, Junda Maulana menyampaikan apresiasi tinggi kepada Bank Indonesia yang dinilai konsisten mendukung pertumbuhan ekonomi daerah melalui berbagai program pemberdayaan masyarakat dan pelaku usaha.
“Atas nama Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat, kami memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Bank Indonesia yang terus hadir mendukung pelaku usaha serta berbagai program yang bertujuan mengakselerasi pertumbuhan ekonomi Sulawesi Barat,” kata Junda.
Ia mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi Sulawesi Barat saat ini mencapai 5,3 persen atau berada di atas rata-rata nasional. Namun demikian, tantangan yang masih dihadapi adalah bagaimana menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara merata.
Menurutnya, tingginya angka kemiskinan yang masih berada pada level 10,18 persen menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi belum sepenuhnya berdampak terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat.
“Sulawesi Barat memiliki pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi, tetapi angka kemiskinan masih berada di atas rata-rata nasional. Karena itu, kita ingin menciptakan pertumbuhan ekonomi yang inklusif, tidak hanya bertumpu pada sektor pertanian, tetapi juga mendorong tumbuhnya sektor-sektor lain yang mampu membuka lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan masyarakat,” ujarnya.
Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat menargetkan angka kemiskinan dapat ditekan hingga berada pada kisaran 5 hingga 6 persen pada tahun 2030. Untuk mencapai target tersebut, diperlukan penurunan sekitar satu persen setiap tahun melalui berbagai program pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Junda menilai Sulawesi Barat memiliki potensi sumber daya alam yang sangat besar, baik dari sektor ekonomi hijau maupun ekonomi biru. Potensi tersebut mencakup sektor pertanian, perikanan, kelautan, hingga pertambangan yang perlu dikelola secara optimal agar memberikan nilai tambah bagi masyarakat.
“Kita memiliki garis pantai sepanjang 670 kilometer dan wilayah laut sekitar 22 ribu kilometer persegi. Potensi ini luar biasa, namun memang belum sepenuhnya dimaksimalkan. Karena itu, dukungan dari Bank Indonesia melalui program-program seperti Madrasah Fair sangat penting untuk mempercepat pengembangan ekonomi daerah,” jelasnya.
Selain potensi sumber daya alam, Junda menilai peningkatan kapasitas pelaku usaha, kemudahan akses pembiayaan, dan perluasan pasar menjadi tiga faktor utama yang harus diperkuat untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi Sulawesi Barat.
“Kita memiliki potensi besar, tetapi harus didukung sumber daya manusia yang berkualitas. Selain itu, akses pembiayaan dan pasar juga harus diperluas agar pelaku UMKM bisa berkembang lebih cepat,” tambahnya.
Ia menegaskan, ekonomi syariah menjadi salah satu alternatif penting dalam menghadapi tantangan ekonomi global karena tidak hanya berorientasi pada keuntungan bisnis semata, tetapi juga mengedepankan prinsip keberkahan, pemerataan kesejahteraan, dan pemberdayaan masyarakat.
“Ekonomi syariah tidak hanya berbicara soal transaksi dan bisnis, tetapi juga bagaimana menciptakan keberkahan, pemerataan kesejahteraan, serta membangun masyarakat yang lebih berdaya,” tegas Junda.
Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Barat, Eka Putra Budi Nugroho, menjelaskan bahwa Madrasah Fair merupakan bagian dari program besar Mandarpreneur Academy yang mulai dikembangkan pada tahun 2026 sebagai upaya membangun ekonomi kerakyatan yang lebih terencana, terarah, dan terstruktur.
Menurut Eka, program tersebut diawali dengan roadshow ke seluruh kabupaten di Sulawesi Barat untuk mengidentifikasi UMKM potensial yang dapat dikembangkan bersama pemerintah daerah dan berbagai mitra strategis.
“Mandarpreneur Academy lahir dari kebutuhan bersama untuk membangun ekonomi kerakyatan yang lebih terstruktur. Kami melakukan identifikasi UMKM dari Pasangkayu hingga Polewali Mandar untuk menemukan pelaku usaha yang memiliki potensi berkembang hingga ke tingkat nasional bahkan global,” ungkap Eka.
Setelah melalui proses identifikasi, UMKM yang terpilih menjalani tahapan asesmen dan kurasi untuk memastikan kualitas produk dan kesiapan usaha sebelum mendapatkan pembinaan lebih lanjut.
Dalam Madrasa Fair 2026, Bank Indonesia menghadirkan sekitar 20 UMKM makanan dan minuman olahan, 10 UMKM makanan basah, serta empat UMKM sektor wastra atau kerajinan berbasis kain tradisional.
“Madrasah Fair ini menjadi etalase awal hasil pembinaan Mandarpreneur Academy. Kami ingin memberikan ruang bagi UMKM untuk memperkenalkan produknya kepada masyarakat sekaligus membuka peluang pasar yang lebih luas,” jelasnya.
Selain penguatan literasi ekonomi dan keuangan syariah, kegiatan ini juga difokuskan pada peningkatan kapasitas UMKM serta perluasan akses pembiayaan melalui kolaborasi dengan berbagai lembaga keuangan.
Bank Indonesia menargetkan nilai transaksi UMKM selama rangkaian kegiatan Road to Festival Ekonomi Syariah (FESyar) mencapai minimal Rp1 miliar. Selain itu, akses pembiayaan bagi UMKM juga ditargetkan mencapai Rp500 juta melalui kerja sama dengan sektor perbankan dan lembaga keuangan syariah.
Eka juga mengungkapkan salah satu keberhasilan program pembinaan UMKM Sulawesi Barat yang berhasil menembus pasar internasional melalui kerja sama Bank Indonesia dengan kantor perwakilan BI di New York.
“Sekitar dua bulan lalu, salah satu produk kopi unggulan Sulawesi Barat kami tampilkan dalam pameran di Amerika Serikat. Alhamdulillah, produk tersebut mendapatkan respons positif dan kini sedang dalam tahap penjajakan kerja sama bisnis dengan kebutuhan sekitar 300 ton setiap enam bulan,” ujarnya.
Menurutnya, keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa produk UMKM Sulawesi Barat memiliki daya saing tinggi apabila dibangun dengan standar kualitas yang baik dan didukung pembinaan yang berkelanjutan.
“Kami ingin semakin banyak UMKM Sulawesi Barat yang mampu menembus pasar nasional maupun global sehingga dapat memberikan nilai tambah bagi pelaku usaha sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah,” tutup Eka.
Melalui penyelenggaraan Madrasa Fair 2026, Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat bersama Bank Indonesia berharap dapat memperkuat ekosistem ekonomi syariah, meningkatkan daya saing UMKM, memperluas akses pasar dan pembiayaan, serta mendorong lahirnya generasi Mandarpreneur yang inovatif, berintegritas, dan mampu menjadi penggerak ekonomi daerah di masa depan. (*/FA)






