Laporan : Fhatur Anjasmara dari Mamuju Tengah
HUJAN tanpa henti sejak Jumat (20/6) pagi mengoyak lereng bukit di Dusun Salubarana, Desa Lara. Tanah yang luruh menutupi seluruh badan Jalan Trans Sulawesi Barat, memutus urat nadi penghubung utara-selatan Sulawesi.
Material longsoran sepanjang 50 meter itu mengubur aspal di Kecamatan Karossa, mengunci ratusan kendaraan dalam antrean yang mengular seperti ular kenyang. Dari arah selatan Mamuju Tengah hingga utara, kendaraan terjepit antara tebing dan jurang.
“Badan jalan tertutup total. Tim masih menunggu cuaca stabil untuk pembersihan,” lapor BPBD Mamuju Tengah dalam rilis resminya.
Sopir truk Hartono menghela napas dalam kabinnya yang terparkir 3 jam di lokasi kejadian.
“Kami seperti tawanan alam. Tidak ada pilihan selain menunggu buldoser menyapu bersih puing-puing itu,” ujar pengemudi rute Pasangkayu-Makassar itu, sambil menunjuk tumpukan tanah yang menggunung.
Beberapa pengendara sempat mencoba jalur tikus melintasi perkebunan sawit. Namun jalan tanah itu lebih mirip kubangan raksasa setelah diguyur hujan.
“Lebih baik bertahan di sini daripada risiko ambles di jalur alternatif,” kata Kasim, sopir angkutan barang menuju Palu, lewat sambungan telepon yang sesekali terputus.
Pusdatin BPBD Mamuju Tengah menyatakan pembersihan baru bisa dimulai Sabtu (21/6) pagi itu pun, jika cuaca bersahabat.
Sementara itu, gumpalan awan kelabu masih menggantung di langit Karossa, seolah mengulur waktu bagi para pengungsi jalanan ini. (**)






