banner 728x90

Pandemi Mengasah Kembali Skill Guntur

Tidak ada komentar 490 views
banner 728x90

Guntur saat melakukan plaster depan perumahan, tempat ia bekerja. (Anhar)

Namanya Guntur pria 52 tahun, sudah hampir dua tahun bekerja sebagai engineering di sebuah hotel besar di kota Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat.

Ia meninggalkan kampung halamannya dan melanglang buana mencari pekerjaan tetap, dari Kolaka, Provinsi Sulawesi Tenggara akhirnya ia menetapkan pilihan mengadu nasib di Mamuju, Ibukota Provinsi Sulawesi Barat.

Sebelum wabah pandemi, Guntur menikmati pekerjaannya dan hampir dua tahun ia tidak pernah mendapat teguran, atau SP (sanksi peringatan) ia tergolong karyawan yang rajin. Bahkan selama bekerja tak pernah sekalipun mengambil jatah cutinya yang hanya tiga hari selama periode 365 hari atau setahun.

Namun semua mulai berubah secara perlahan ketika wabah Covid-19 menyerang bangsa Indonesia bahkan dunia, hingga ke kota-kota. Tempat Guntur bekerja mulai sepi pengunjung bahkan saat adanya pembatasan kegiatan yang melibatkan orang banyak ia pun merasakan dampaknya.

Guntur dan teman-temannya harus merasakan efisiensi dari tempat dia bekerja. Berharap gaji sesuai UMP (Upah Minimum Provinsi) dua juta lima ratus lebih tak pernah ia rasakan selama bekerja, pun akhirnya pendemi menyerang membuat tak pernah berharap gaji sesuai UMP. Ia dan teman-temannya hanya mendapat gaji pas-pasan tidak lebih dari sejuta.

Ia menuturkan, pas suatu waktu awal tahun dua ribuan, anak yang sangat lucu-lucunya meninggal dunia diusia kurang lebih 10 bulan. Saat itu ia baru kurang lebih setahun bekerja. Ini menjadi pukulan berat baginya namun tidak mengurungkan niatnya untuk lebih giat bekerja dan berharap tempatnya mengabdikan diri akan ada harapan untuk perbaikan gaji. Namun tak pernah ada.

“Saat itu dan sampai sekarang jika mengingat anak saya, hatiku pedih. Karena tidak berada disampingnya di saat terakhir, dia di Sengkang (Sulawesi Selatan) sama istriku. Saya tetap berdoa dan berharap ini ada hikmahnya,” papar Guntur kepada Katinting.com. 27 Oktober 2020.

Ia juga menuturkan saat pandemi seperti sekarang ini, kebutuhan keluarga semakin meningkat, dan malah susah didapatkan. Ia pun memutar otak mencari penghasilan lebih.

Saat jam istirahat, lepas tugas di hotel, saat sore hari ia pun menjadi tukang di sebuah perumahan BTN yang tidak jauh dari mess hotel tempat ia menginap, kurang lebih satu kilometer.

“Kalau tidak begitu, kita bagaimana bisa bertahan hidup. Gaji di hotel tidak bisa diharapkan, apalagi saat sulit seperti ini (Pandemi),” sebutnya.

Ia menyebutnya ‘siasat bertahan hidup dan menghidupi keluarga ditengah covid-19’.

Meski usianya yang tidak bisa dikatakan muda lagi, bahkan penglihatan mulai terbatas, Ia tak pernah sekalipun mengeluh. Bahkan saat bercerita dengan wartawan Katinting.com wajahnya selalu ceria dan tersenyum lepas.

Ia pun menyempatkan bekerja, dan mengambil order saat malam seperti memasang pintu, memasang tehel, mengecat hingga plesteran.

Semua itu dilakukan untuk tetap survive dan tidak menyerah menghadapi situasi.

“Situasi sudah susah kalau hanya berpangku tangan dan mengeluh tidak ada hasil. Jadi harus selalu berusaha dan bergerak, mencari kerja dan bekerja,” ujarnya.

Meski ia bekerja sebagai engineering di hotel namun keterampilan tukang bangunan bukan asing baginya. Sebab sebelum bekerja di hotel ia pernah melakukan kerjaan tersebut dan ikut bekerja dengan orang lain.

Apalagi Guntur ternyata adalah alumni STM (Sekolah Tehnik Menengah) Jurusan Pembangunan di Kolaka. Saat ini STM lebih dikenal dengan nama SMK (Sekolah Menengah Kejuruan).

“Pekerjaan ini bukan hal baru, dan saya memang dari STM jurusan pembangunan. Jadi ini sama dengan mengasah kembali keahlian saya yang lama,” pungkasnya dengan tawa lepas.

Terkait gaji yang ia dapatkan, Guntur terbuka, bahwa jika di hotel tempat ia bekerja yang saat ini terdampak Pandemi hanya menerima 1 juta setiap bulannya atau pertiga puluh hari. Sedangkan menjadi tukang bangunan, kurang dari seminggu ia mendapatkan sejuta lebih.

“Semua ada plus minusnya. Jumlah yang besar resikonya juga besar, kotor dan capek, apalagi sudah berumur jadi harus tetap penuh pertimbangan dalam mengambil kerjaan. Tapi kalau kita semangat dan bekerja atas doa orang dirumah Insya Allah kuat dan berkah,” sebutnya.

Guntur pun menitipkan pesan kepada khalayak untuk tidak malas-malas dan banyak mengeluh. “Saya percaya setiap orang ada skillnya. Sebaiknya diasah dan dimanfaatkan untuk hal yang lebih bermanfaat. Artinya kreatif lah dimasa sekarang dan bangkit mencari peluang-peluang sesuai skill mu. Ini tentu sangat lebih membantu dari pada hanya berdiam diri mengharap bantuan pemerintah,” pungkasnya.

Hasil pekerjaan Guntur di sebuah perumahan di Mamuju. (Anhar)

(Anhar)

Bagikan
Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "Pandemi Mengasah Kembali Skill Guntur"