Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

Maestro Kacaping Mamuju, Dibalik Puncak Anjoro Pitu

Ibu Suna dengan busana hasil rekayasa AI. (ist)

Oleh : Fhatur Anjasmara

Dua hari kami mengulang lintasan yang sama, dari Kota Mamuju ke Lingkungan Danga, kampung kecil di timur Manakarra yang sejajar aliran Sungai Kali Mamuju, lalu kembali lagi ke Mamuju. Bukan karena jalan yang berputar atau infrastruktur yang buruk, melainkan karena cerita yang menunggu di ujung alamat itu, satu nama, satu petikan, satu suara yang perlahan menghilang dari panggung-panggung besar, namun tak hilang dari ingatan kampung.

Hari pertama hanya menyisakan alamat. Seorang warga yang tahu tentang pemetik kecapi itu sudah pergi sebelum kami tiba, rumah kosong, pintu tertutup, dan hanya tetangga yang memberi petunjuk samar.

Keesokan harinya, ketika matahari mulai hangat meneduhkan kampung dan debu jalan beringsut pelan diterpa angin, sumber lain memberi keterangan yang menuntun, ada dua perempuan yang pernah memetik kecapi di sini Haliza, yang telah berpulang ke pangkuan Ilahi, dan Suna, yang memilih menepi ke puncak Anjoro Pitu.

Kami berangkat pada Jumat sore, jelang petang. Saat matahari mulai beranjak pulang, langit Mamuju berubah keemasan, awan-awan tipis bergulung di ufuk barat seperti kain sutra yang ditarik perlahan. Di pinggir jalan, pohon kelapa menjulang lurus, daunnya berdesir pelan diterpa angin yang makin terasa dingin seiring kita meninggalkan pusat kota. Dari kejauhan, gemericik Sungai Kali Mamuju masih terdengar samar, mengalun seperti pengiring musik yang tak pernah berhenti.

Seiring menanjak, udara makin sejuk, bahkan sedikit dingin. Di sisi jalan, semak hijau dan tanaman hutan kecil bergoyang pelan, daun-daun lebar berkilau karena sisa gerimis yang belum sepenuhnya_surup. Sesekali terdengar kicau burung yang tak kita kenal namanya, melintas cepat dari satu pohon ke pohon lain. Di balik kabut tipis yang mulai menyelimuti puncak, bayangan landmark Mamuju City, huruf besar M yang terukir 16 meter tinggi dan 160 meter panjang, mulai terlihat samar, seperti tanda bahwa kita sudah mendekati tempat tujuan.

Penamaan Anjoro Pitu sendiri, menurut warga, berarti “tujuh pohon kelapa”. Di masa lalu, kawasan pegunungan ini identik dengan tujuh pohon kelapa yang tumbuh berdekatan, sekarang sudah tidak ada lagi, namun warga tetap menyebutnya Anjoro Pitu untuk mengenang keberadaan tujuh pohon kelapa tersebut. Di ketinggian ini pula, landmark Mamuju City tercatat sebagai landmark terpanjang di Indonesia.

Di sebuah saung, tepat di depan huruf M pada landmark itu, kami menemukan perempuan berkacamata lensa bening, kira-kira berusia enam puluh tahun. Wajahnya menua, namun bukan rentanya yang paling menonjol, melainkan garis kesungguhan yang tak hilang oleh waktu. Di sisinya, seorang perempuan muda yang memperkenalkan, “Ibu itu Suna, atau Pe Suna.”

Verifikasi singkat, sapaan, sedikit canggung, lalu sebuah pengakuan, ia memang pemetik kecapi yang kami cari. Ketika kami menjelaskan maksud, mengundangnya tampil mewakili Mamuju pada Mandar Music Ethno Concert, Taman Budaya Sulbar, Juli 2026, ia menerima dengan malu dan syarat sederhana: bolehkah ia membawa seorang pendamping dari keluarga? Permintaan itu kami penuhi.

Dengan rendah hati Suna menerima undangan, namun dengan malu-malu ia bertanya apakah dirinya layak dan pantas menjadi pemeran pentas pada hajatan kesenian dan kebudayaan itu. Ia menawarkan syarat untuk membawa seorang pendamping dari keluarganya. Kami pun memenuhi syarat tersebut, dan memintanya mempersiapkan diri menghadapi hajatan berkesenian dengan penampilan musik tradisional Kecapi ala Mamuju.

Pertemuan penulis dengan Ibu Suna, maestro kecapi dari Bumi Manakarra, menyisakan keheranan sekaligus keprihatinan. Meski Ibu Suna belum pernah tampil di panggung kesenian kecapi yang megah, namanya sudah melekat kuat sebagai bagian penting dalam sejarah dan kejayaan alat musik ini di daerahnya. Nama Ibu Suna, bersama rekan-rekannya yang telah berpulang dan sempat penulis sebutkan di awal, sudah dikenal luas di kalangan pegiat seni di Bumi Malaqbi’ Sulawesi Barat sebagai pemusik kecapi yang memertahankan petikan asli tanpa terkontaminasi nuansa kecapi dari tanah Bugis, yang kemudian disebut sebagai pakkacaping Mamuju yang otentik.

Catatan penting yang mesti mendapat perhatian serius pemerintah Kabupaten Mamuju, khususnya dari dinas yang bertanggungjawab pada Kebudayaan dan Pariwisata, adalah bahwa Suna kini menjadi satu-satunya pewaris pakkacaping Mamuju. Ia bertahan merawat aliran musik leluhur itu, namun penampilannya terbatas pada hajatan-hajatan di kampung-kampung, dan hampir tidak ada pewaris muda dengan bakat serupa.

Karena itu, penting bagi Pemkab Mamuju mengambil langkah nyata untuk melindungi warisan takbenda nenek moyang ini. Salah satu jalan efektif adalah mengintegrasikan pakkacaping ke dalam jalur pendidikan formal sekolah, sanggar, atau program pelatihan kebudayaan, agar muncul generasi baru Suna di Bumi Manakarra. Upaya semacam ini bukan hanya menjaga keberlangsungan seni, tetapi juga mempertahankan identitas budaya yang telah tumbuh lama di tanah ini. sebagai warisan utuh tak benda dari sang Maestro Kacaping. Salam penulis. (**)

Share:

Redaksi

Media Informasi Rakyat