Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

Martin Soroti Potensi Tambak Teluk Sangkulirang dan Hilirisasi yang Belum Terbangun

Katinting.com, Sangatta – Laurentius Martin, Kepala Desa Bumi Etam Kecamatan Kaubun menegaskan pentingnya hilirisasi sebagai kunci penggerak ekonomi desa di Kutai Timur. Selain komoditas pertanian dan perkebunan, wilayah pesisir Teluk Sangkulirang disebut memiliki potensi besar untuk pengembangan tambak udang dan ikan air payau. Namun, minimnya dukungan pasca panen membuat potensi tersebut belum dapat dioptimalkan.

Martin menjelaskan bahwa dari kajian masyarakat, terdapat setidaknya 150 hingga 200 hektare lahan yang dinilai cocok untuk dijadikan kawasan tambak. Wilayah pesisir yang memiliki karakter air payau dianggap sangat mendukung pengembangan udang dan berbagai jenis ikan bernilai ekonomis tinggi.

“Tambak udang banyak karena air payau di situ. Potensi ikan air payau juga sangat besar,” jelasnya saat diwawancarai di Hotel Royal Victoria Sangatta Utara, Sabtu (29/11/2025).

Namun, menurut Martin, persoalan utama tidak terletak pada ketersediaan lahan atau kemampuan produksi. Tantangan yang paling berat justru terjadi di tahap pasca panen. Jika hasil panen tidak segera dibeli dalam waktu singkat, biaya operasional akan melonjak karena masyarakat perlu menambah tenaga, pakan, hingga fasilitas penyimpanan.

“Pasca panennya harus ada kepastian. Jangan sampai masyarakat sudah keluarkan biaya besar, tapi hasilnya tidak terserap,” tegasnya.

Martin menilai bahwa pemerintah kabupaten perlu menyiapkan skema pemasaran yang lebih terstruktur, termasuk membuka peluang kerja sama dengan perusahaan pembeli besar. Menurutnya, tanpa pasar yang jelas, masyarakat pesisir akan kesulitan memulai atau memperluas budidaya tambak meskipun potensi alam sangat mendukung.

Selain itu, Martin turut menyoroti pola pendampingan yang selama ini diberikan oleh dinas terkait. Ia mengakui bahwa pemerintah cukup aktif menyediakan bibit, pelatihan, dan pembinaan kelompok. Meski demikian, program tersebut hanya menyasar aspek hulu tanpa menyiapkan arah pemasaran.

“Dinas menyediakan bibit, menyediakan pelatihan, banyak sekali. Tapi pasca produksinya ke mana? Tidak ada roadmap yang jelas,” katanya.

Situasi ini membuat banyak kelompok usaha desa ragu untuk meningkatkan produksi. Bibit tersedia, pelatihan diberikan, namun tanpa jaminan pasar, risiko kerugian dinilai terlalu besar. Martin berharap dinas maupun perusahaan yang beroperasi di sekitar wilayah pesisir turut andil dalam membuka saluran pemasaran atau bahkan menjadi pembeli tetap bagi masyarakat.

Dengan potensi tambak yang begitu besar dan antusiasme warga pesisir Teluk Sangkulirang, Martin menegaskan bahwa hilirisasi harus menjadi prioritas agar potensi tersebut dapat berubah menjadi penggerak ekonomi desa yang berkelanjutan. Tanpa dukungan pasca panen, desa hanya akan terus berputar pada produksi tanpa nilai tambah. (ADV).

Share: