Polewali Mandar, Katinting.com – Musyawarah Daerah (Musda) DPD Partai Golkar Sulawesi Barat (Sulbar) diprediksi akan menjadi ajang pertarungan ketat dan head to head antara Ketua DPD Sulbar petahana, Aras Tammauni, dan Ketua DPD Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Samsul Mahmud.
BACA JUGA: Menguji Keterbukaan, PAN Sulbar Gelar Konvensi Caleg 2029 Meski Tak Diatur AD/ART
Direktur Logos Politika, Maenunis Amin, menganalisis bahwa Aras Tammauni adalah tokoh kunci di balik kebangkitan kembali Golkar pasca era Anwar Adnan Saleh, “Aras memiliki peran signifikan dalam membangkitkan Golkar. Berkat kepemimpinannya, partai ini kembali memegang pucuk pimpinan DPRD Sulbar pada 2024, setelah dua periode berturut-turut (2014 dan 2019) dikalahkan oleh Partai Demokrat,” jelas Maenunis kepada Katinting.com.
Di sisi lain, Maenunis menilai Samsul Mahmud sebagai tokoh muda Golkar paling sukses di level daerah. “Samsul bukanlah kader baru. Karier organisasinya dimulai dari Bendahara, lalu naik menjadi Ketua DPD Golkar Polman menggantikan Andi Ibrahim Masdar (AIM), justru saat Aras masih membesarkan Partai Demokrat di Sulbar. Ironisnya, Samsul-lah yang kemudian menggelar ‘karpet merah’ bagi Aras untuk melenggang menjadi Ketua DPD Golkar Sulbar,” paparnya.
Prestasi Samsul, lanjut Maenunis, tidak main-main. “Dialah Ketua DPD Golkar pertama se-Sulbar yang berhasil meraih treble winner: memenangkan Pemilu Legislatif 2019, Pemilu Legislatif 2024, dan Pilkada Polman 2024. Ini adalah rekor yang sulit ditandingi,” ungkapnya.
Meski menilai kedua kandidat sama-sama kompeten, Maenunis melihat perbedaan motivasi dan visi yang mendalam di antara mereka. “Di satu sisi, Aras ingin menjaga dominasinya sebagai tokoh senior dan memastikan konsolidasi Golkar Sulbar tetap berporos pada basis kekuatannya di Mamuju Tengah. Sementara, Samsul mendorong Golkar untuk lebih terbuka dan optimal menjalankan fungsinya sebagai partai kader,” tuturnya.
Pengalaman pahit dalam Pilkada 2024 disebutkan Maenunis menjadi katalis bagi Samsul. “Wajar jika Samsul menjadikan upaya penjegalan terhadap pencalonannya di Pilkada lalu sebagai motivasi untuk menantang Aras. Dia ingin mendobrak sistem top-down yang dianggapnya diskriminatif dan tidak menghargai kader yang telah berprestasi,” imbuh Maenunis.
Meski berdinamika ketat, Maenunis meyakini rivalitas ini hanya riak kecil yang akan berakhir dengan happy ending. “Golkar adalah partai yang justru tumbuh besar dari dinamika semacam ini. Prinsip pragmatisme dan kemampuan adaptasi yang menjadi DNA Golkar akan memastikan Musda berjalan lancar dan partai tetap solid,” pungkasnya. (Fhatur Anjasmara)






