Salah seorang konsumen thrifting di Mamuju Tengah, sedang memerhatikan lapak penjual sepatu bekas atau Cakar. (dok Ist)
banner 728x90

 

Mamuju Tengah, Katinting.com – Sikap tegas pihak polisi yang ditunjukan kepada pelaku usaha perdagangan pakaian bekas, dengan mulai mengambil langkah tegas, berupa penangkapan terhadap para pelaku usaha pakaian bekas atau thrifting, adalah sikap yang dianggap tidak memahami physikologi pemenuhan kebutuhan pakaian masyarakat.

Demikian pandangan yang di sampaikan oleh pemerhati konsumen dan pedagang trhifting Dimas Yoga, kepada laman ini, Rabu (22/03).

Menurutnya, masyarakat memilih menggunakan pakaian bekas atau lazim disebut Cakar, bagi sebagian masyarakat di Indonesia, karena meskipun Cakar merupakan pakaian bekas, namun kualitas dari thrifting ini, tidak pernah mengecewakan konsumennya.

Karenanya, mereka memilih belanja pakaian bekas untuk kebutuhan oufit mereka, ketibang membeli produk dalam negeri, yang harga lebih mahal, dan kualitas produknya lebih buruk.

“Jadi ini bukan soal ketidakcintaan masyarakat Indonesia pada produk lokal dalam negeri, tapi karena memang produk dalam negeri, kualitas jauh terbelakang dari kualitas produk luar negeri meskipun pakaian bekas, tapi harga terjangkau” beber Dimas Yoga.

Olehnya, Ia berharap kepada pemerintah yang sudah menggerakan aparat kepolisian melakukan penyisiran dan penangkapan pelaku usaha pakaian bekas, agar ini di hentikan, Polisi mesti memahami physikologi dari pemenuhan kebutuhan pakaian bagi masyarakat.

“Sebab masyarakat tidak akan membeli pakaian bekas, jika kemudian mereka mendapatkan kualitas pada produk tekstil dalam negeri dengan harga yang setara harga pembelian cakar, dalam memunuhi oufit mereka” harap Dimas.

Katanya, alasan persebaran penyakit dan menjatuhkan produk dalam negeri, yang digunakan oleh pemerintah, adalah alasan yang tentu tidak diterima secara logis oleh konsumen pakaian bekas, sebab mereka memang tak ada yang terdampak penyakit meskipun membeli pakaian bekas dalam jumlah cukup banyak.

“Malah konsumen pakaian bekas imun tubuhnya meningkat, karena mereka bahagia mendapatkan pakaian berkualitas dengan harga terjangkau oleh isi kantong mereka, jadi ini bukan solusi, malah outfit saya juga adalah beli dari produk thrifting ini” kata Dimas.

Solusi terbaik adalah pemerintah mendorong pelaku usaha pakaian dalam negeri, untuk meningkatkan kualitas produknya, dengan harga terjangkau oleh masyarakat.

“Bukan kemudian mematikan seketika usaha pelaku usaha pakaian bekas, dan menangkap serta mengadili mereka, dengan Undang undang yang sanksinya cukup berat, sementara baik konsumen dan pelaku usahanya, sama sama saling membutuhkan dengan jumlah yang tak sedikit” pungkas Dimas. (Fhatur Anjasmara)

Bagikan
Deskripsi gambar...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here