Kapolda Sulbar Irjen Pol Adang Ginanjar bersama Dir Polairud Kombes Pol Deny Pudjianto, Danrem 142 Tatag, dan Kadis Perikanan Provinsi memperlihatkan barang bukti bahan peledak bom ikan yang berhasil diamankan dalam konferensi pers di Baruga Tribrata Polda Sulbar, Kamis (16/5/24).
banner 728x90

Mamuju, Katinting.com – Direktorat Polairud Polda Sulbar kembali merilis hasil tangkapan kasus bom ikan, kali ini petugas mengamankan tiga tersangka dan 88 bahan peledak. Tersangka yang ditangkap berinisial BS (41), AM (46), dan DT (43), ketiganya merupakan nelayan asal Balikpapan, Kalimantan Timur.

Kegiatan press release tersebut dihadiri langsung oleh Kapolda Sulbar Irjen Pol Adang Ginanjar, Danrem 142 Tatag, Danlanal Mamuju, Dir Polairud Kombes Pol Deny Pudjianto, Kadis Perikanan Provinsi, dan Kadis Lingkungan Hidup Provinsi pada Kamis (16/5/24) di Baruga Tribrata Polda Sulbar.

Kapolda Sulbar Irjen Pol Adang Ginanjar menjelaskan kronologi penangkapan terhadap ketiga tersangka. Penangkapan berawal dari kegiatan patroli rutin yang digelar oleh personel Polairud di perairan Pulau Balabalakang, Kecamatan Balabalakang, Kabupaten Mamuju pada Sabtu (11/5/24).

Pada Senin, 13 Mei 2024, sekitar pukul 09.00 WITA, di koordinat (2°27’163″ LS & 117°19’42″2 BT), tim patroli melihat sebuah kapal yang mencurigakan. Saat tim mendekati kapal tersebut, kapal itu langsung tancap gas, sehingga tim patroli melakukan pengejaran menggunakan perahu karet. Kapal tersebut akhirnya ditemukan berlabuh di Pulau Samataha, Kecamatan Balabalakang.

Setelah memeriksa kapal dan muatannya, tim menemukan botol kaca dan plastik di bagian depan lambung kapal. Setelah diperiksa, tim menduga bahwa isi botol-botol tersebut adalah bahan peledak.

“Dalam interogasi awal, juragan kapal, BS, mengakui bahwa botol-botol tersebut berisi bahan peledak jenis bom ikan,” kata Kapolda Sulbar.

BS dan dua rekannya dijerat dengan dua pasal, yaitu Pasal 1 Ayat 1 Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951 dengan ancaman hukuman penjara seumur hidup atau hukuman 20 tahun penjara. Selain itu, mereka juga dikenakan Pasal 84 Ayat 1 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan dengan ancaman pidana penjara maksimal 6 tahun dan denda maksimal Rp 1,2 miliar.

“Barang bukti yang diamankan petugas meliputi 34 botol kaca bekas bir yang diduga berisi bahan peledak, 40 botol plastik bekas Aqua yang diduga berisi bahan peledak, 14 botol yang sudah dirakit dengan pemberat, perahu kayu, selang kompresor, sepatu katak, dan detonator atau sumbu rakitan,” jelasnya.

Tersangka mengaku bahan-bahan tersebut mereka peroleh dengan membeli di salah satu toko di Balikpapan. Bahan peledak bom ikan dirakit sendiri dengan campuran pupuk, korek api kayu, dan cat perak yang diisi dalam botol kaca dan plastik.

Kapolda Sulbar menegaskan komitmennya untuk terus melakukan patroli dan koordinasi dengan pihak terkait guna memberantas aksi bom ikan di Sulbar demi menjaga ekosistem laut. Ia berharap upaya ini dapat meminimalisir dan memberantas aksi bom ikan yang sangat berbahaya.

“Menurut hasil pemeriksaan laboratorium, tulang ikan yang terkena bom akan langsung remuk dan perutnya pecah sehingga dagingnya berpotensi berbahaya saat dikonsumsi,” tutup Kapolda Sulbar.

Bagikan
Deskripsi gambar...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here