oleh

Tak Ada Titik Temu, Penatapan Harga TBS Ditunda

banner 728x90
Rapat penetapan harga TBS di Hotel Maleo, Selasa (10/11). (Dok. Zulkfili)

Mamuju, Katinting.com – Rapat penetapan indekas K dan harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit produksi pekebun se-provinsi Sulbar yang diselenggarakan oleh Dinas Perkebunan Sulbar, ditunda.

Rapat yang berlangsung di Hotel Maleo Mamuju, Selasa (10/11) berlangsung alot hingga akhirnya ditunda karena tidaknya titik temu antara petani dan pihak perusahaan Pabrik Kelapa Sawit (PKS) terkait dengan kesepakatan harga TBS.

Pihak perwarkilan Perusahaan meminta harga TBS untuk bulan November ini sebesar Rp. 1.520. Sedangakan perwakilan petani awalnya meminta sebesar Rp. 1.680 namun perusahaan menolak dengan permintaan petani. Lalu kemudia diturunkan menjadi  Rp. 1.600. Akan tetapi para pihak perusahaan lagi-lagi tidak sepakat.

“Tidak ada kesepakatan. Jadi usulan petani lebih tinggi kemudian perusahaan minta rendah jadi tidak ada kesepakatan. Tidak ada harga kita sepakati hari ini. Jadi harga berlaku saja dilapangan. itu yang diikuti nanti,” kata Wakil Ketua Tim penetapan harga TBS Sulbar, Komito Bado, SP.

Komito Bado yang memimpin jalan rapat tersebut menuturkan, pihak telah meminta negosiasi dengan pihak perusahaan akan tetapi perusahaan tidak mampu memenuhi permintaan petani.

“Alangakah ruginya kalau ditetapkan lalu tidak dibayar. Jadi lebih baik nanti, kalau perusahaan bersedia membayar baru kita minta lagi petunjuk ke pimpinan. Nanti ada lagi pemeberitahuan lagi berikutnya. akan diundang kembali,” sebutnya.

Direktur PT Unggul, Muchtar Tanong menuturkan seharusnya petani dapat menerima usulan harga dari perusahaan. Apalagi saat berlangsungnya rapat suda ada jalan tengah yang sudah disepakati bersama panitia.

“Seharusnya kita tetapkan saja harga yang mana-mana memberikan toleransi lebih. Kadang-kadang harga rata-rata gak dipake. Digunakan harga yang tertinggi diantara usulan yang ada,” katanya.

 “TBS ditetapkan misalnya katakanlah Rp. 1.500  kalau di lapangan terjadi 1.600 yang untung kan petani juga. harusnya petani tidak usah ribut. Dia ingin paksakan dilapangan sekarang harus RP. 1.600 kalau bulan depan kan belum tentu harga itu,” sambungnya.

Sementara itu, Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Sulbar, Sukidi Wijaya mengatakan, usulan penetapan harga dari perusahaan PKS tidak rasional.

“Harga tertinggi saat ini 1.780 kami usulkan itu, sampai kami turun di posisi 1.591 sesuai dengan simulasi yang dibuat oleh ketua tim. akan tetapi kembali lagi PKS tidak menyetujui maka dianggap rapat tidak ada keputusan karena tidak terjadi kesepakatan antara petani dan PKS.” pungkasnya.

(Zulkifli)

Bagikan

Komentar