banner 728x90

Perspektif Sabtu Penutup April

1257 views
banner 728x90

 

Foto Koleksi Pribadi Sarman SHD bersama Jusuf Kalla saat Temu Nasional Ormas KaryaKekaryaan Regional Timur

Foto Koleksi Pribadi Sarman SHD (kanan) bersama Jusuf Kalla (kiri) saat Temu Nasional Ormas KaryaKekaryaan Regional Timur Tahun 2003

GERINDRA, Gerakan Indonesia Raya. Ini adalah salah satu partai politik di Indonesia. Ia lahir menambah jumlah banyaknya partai politik pasca reformasi nasional. Karena ia lahir menjelang 10 tahun setelah 21 Mei 1998, maka bolehlah disebut ‘setengah anak kandung’ reformasi. Partai ini dideklarasikan pada 6 Februari 2008, dengan pendiri utama Prabowo Subianto, Hasyim Djojohadikusumo, Fadli Zon, dan beberapa intelektual Indonesia lainnya, bekas tentara yang jenderal juga ada.

Partai ini mendulang suara pada Pemilu 2009, padahal ia pendatang baru di belantara politik nasional. Pemakluman yang secara tiba-tiba atau mungkin sudah diduga partai ini berada di deretan tengah partai-partai politik besar lainnya di Indonesia, tentu lantaran nama dan gerakan Prabowo Subianto. Tokoh ini, anak idiologis dan biologis seorang ayah yang sangat nasionalis. Ia juga seorang intelektual besar semasa kejayaan pemerintahan Sukarno. Namanya Soemitro Djojohadikusumo, seorang profesor ekonomi perintis berdirinya Fakultas Ekonomi Univesitas Indonesia yang kemudian digelari begawan ekonomi Indonesia. Faktor lainnya pula, dan sebagai ‘bekas anak istana’ dan pensiunan jenderal berbintang tiga, Prabowo dinilai berani berpikir dan bertindak kritis terhadap pemerintah di masa-masa menjelang berakhirnya pemerintahan Orde Baru.

Partai Gerindra didirikan sebab tak mungkin Prabowo salah satu anggota Dewan Pembina Partai Golkar di masa lalu akan bisa jadi ketua umum partai Pohon Beringin itu. Alasan lainnya, gagasan ekonomi kerakyatan yang dipahami Prabowo Subianto, akan dimanifestasikan dalam perjuangan kebangsaan partai yang dibentuk ini.

Tulisan ini bukan reportase murni, bukan pula hendak mencitrakan partai Kepala Garuda. Ini sekadar bahan bacaan di Sabtu sore yang dingin, hingga malam pun tak apa.

Pada suatu waktu di 2003 lalu, saya diberi mandat mewakili salah satu OKP organisasi kekaryaan pemuda di Polewali Mamasa atas rekomendasi Ali Baal Masdar. Waktu itu belum dikenal jargon ABM. Bersama beberapa wakil OKP underbow Golongan Karya berangkat ke Makassar, tepatnya di Hotel Marannu. Kami mengikuti perhelatan Konvensi Partai Golkar untuk wilayah timur. Kalau tidak salah, gelaran konvensi untuk wilayah tengah di Medan, dan wilayah barat di Bandung. Konvensi ini adalah ajang ‘pemilihan’ calon presiden dari Partai Golkar. Konvensi ini menghasilkan nama Wiranto sebagai tokoh yang diusung sebagai calon presiden pada Pilpres 2004. Mantan Pangab ini mengalahkan, antara lain, Akbar Tanjung, Jusuf Kalla, Haryono Suyono, Theo L. Sambuaga, Muladi, Surya Paloh, Setiawan Djody, Aburizal Bakri, Prabowo Subianto, Anwar Fuadi, Sri Sultan Hamengkubuwono X, dan Nurcholis Madjid [alm.] ‘kalah’. Mungkin, inilah ‘bekal politik’ lainnya yang menginspirasi Prabowo dirikan partai baru: partai yang pada Pemilu 2014 memilih nomor wahidnya, 6, dan telah melejitkan perolehan suara partainya.

Tentang Sulawesi Barat. Tentang kiprah politik MW di Gerindra.

MW itu adalah Munandar Wijaya. Bukan lantaran masuknya MW di Gerindra sehingga terjadi lompatan besar perolehan suara partai ini di Pemilu 2014 Sulawesi Barat. Memang, dalam statistik perolehan suara partai politik di provinsi ini, pada Pemilu 2009 lalu, partai yang kini dipimpin Hj. Andi Ruskati Ali Baal ini, hanya beroleh 3 kursi di parlemen Sulawesi Barat. Terjadi kenaikan 100 persen lima tahun kemudian: 6 kursi di legislatif Sulawesi Barat, sekaligus menempatkan satu orang legislator wakil ketua yang kebetulan MW yang harus duduk di situ. Banyak yang bekerja keras, dan tak sedikit yang berdikari menggapai hasil sebesar itu. Hanya di Daerah Pemilihan Mamasa dan Polewali Mandar yang berhasil mengutus dua kader terbaik Gerindra ke parlemen. Kabupaten lainnya hanya satu kursi, minus Mamuju.

Belakangan, menyoal tentang posisi MW sebagai salah satu pimpinan parlemen, rasanya kurang tepat. Secara moral dan etik dalam koridor partai dan dedikasi membangun daerah pemilihannya di pegunungan, untuk tidak mengatakan di Sulawesi Barat ini MW bagai the rising stars partai dan provinsi ini, ke depan tentunya. Ia terlampau sadar akan posisinya sebagai anak muda yang direkrut oleh partai yang telah mengusungnya masuk ke parlemen. Ia paham akan sebuah fatsun berpartai politik, sekaligus sebagai nilai untuk menyandarkan diri dalam dinamika berdemokrasi. Ia begitu mawas diri menjaga moralitasnya dalam pergulatan perannya sebagai pejabat negara [di daerah]. Sungguh sulit diterima logika manakala ia harus dizalimi [baca: dibenturkan dengan atau pada perasaan politik jangka pendek semata lalu hendak mendongkelnya sebagai pimpinan parlemen].

Menurut saya, jika logika pula preferensi politik masih berada pada jalur yang benar, MW tak akan tergantikan sebagai Wakil Ketua DPRD Sulawesi Barat sebelum Pemilu 2019 digelar. Ia sangat sadar dan rasional memahaminya sebagai orang partai dan sebagai organ pemimpin daerah. Jika MW dan perjalanan Pilgub ini menjadikannya ia sebagai komoditas politik, maka sedini mungkin setelah perhelatan besar Partai Gerindra di d’Maleo Hotel & Convention Mamuju, Jumat, 29 April 2016, ‘polemik’ tentang MW disudahi saja. Partai besar ini begitu kecil jika harus mengurusi hal yang sangat sederhana. Saya sebut begitu sebab pertemuan terakhir saya dengan MW di rujab wakil ketua dewan awal Januari lalu, kami berbincang begitu lama soal duduk soal upaya ‘pergantiannya selaku pimpinan dewan’ itu. MW tampak tegar, dan sebagai seorang anak muda, ia mampu memahami turbulensi kecil dalam ruang politik kecil. Yang justru aneh, di luar sana banyak yang ‘gelisah’ padanya sekadar ingin menunjukkan loyalitas sempit dan ‘harga diri keluarga’. Tapi MW menarik sebuah batas demarkasi yang jelas: “Semua harus mendengarkan saya, dan terlebih harus mafhum dan sadar bahwa masih ada tokoh dan orang tua kita di provinsi ini yang saya pun harus mendengarnya,” kata MW pada saya, pada Januari lalu itu.

MW secara terang benderang mengabdikan dirinya pada Partai Gerindra, nyaris tak bisa membedakannya dengan pengabdiannya pada daerah [di Kabupaten Mamasa, misalnya].

Saya menulis selingan ini tanpa pretensi dan kepentingan apapun. Adalah kenyataan memang bahwa MW itu adalah ‘adik’ saya. Dan, banyak tokoh Gerindra di daerah ini yang saya kenal, sejak dulu. (*)

 

Mamuju, Sabtu sore, 30 April 2016.

Sarman SHD

 

 

 

 

Bagikan
Tidak ada Respon

Komentar ditutup.