Win Rizal (kiri) saat rilis profil kemiskinan bulan September 2018 Sulbar di kantor BPS Sulbar. (Foto Zulkifli)
banner 728x90

Mamuju, Katinting.com – Persentase penduduk miskin di Sulawesi Barat pada bulan September 2018 turun 0,02 persen poin, namun secara absolut bertambah 1,05 ribu orang jika dibandingkan dengan kondisi Maret 2018 mencapai 11,25 persen.

Tersebut diketahui dari Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Barat, pada sesi rilis profil kemiskinan bulan September 2018 Sulbar, di kantor BPS, Jl. RE. Martadinata, Mamuju (15/1).

Dijelaskan, persentase penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran per kapita perbulan di bawah garis kemiskinan) pada bulan September 2018, di Sulbar sebesar 11,22 persen (152,83 ribu orang). Turun 0,02 persen poin (secara absolut bertambah 1,05 ribu orang) jika dibandingkan dengan kondisi maret 2018 mencapai 11,25 persen.

“Disatu sisi secara persentase turun, tapi absolutnya naik. Absolut naik artinya apa, turun itu berarti penduduknya naik. Jumlah penduduk totalnya naik. Kalau jumlah penduduk total naik, berarti ada orang dari luar masuk ke Sulbar. Itu yang perlu dikaji, apakah orang yang masuk di Sulbar ini adalah orang-orang yang memang kategori miskin,” ujar Kepala BPS Sulbar, Win Rizal.

“Itu mungkin salah satu hal yang perlu diantisipasi. Jadi penurunan penduduk miskin di Sulbar ternyata tidak di ikuti oleh penurunan absolut. Malah jumlah penduduk secara absolut yang miskin naik,” tambahnya.

Pada bulan September 2018, jumlah penduduk miskin dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan di Sulbar, meningkat sebesar 3,36 ribu orang, jika dibandingkan dengan kondisi september 2017 11,18 persen atau sebesar 149,47 ribu orang.

Untuk persentase penduduk miskin di daerah perkotaan pada Maret 2018 sebesar 9,64 persen, meningkat menjadi 9,80 persen pada bulan September 2018.

Sementara persentase di daerah pedesaan, pada Maret 2018, sebesar 11,74 persen, menurun menjadi 11,66 persen pada September 2018.

Pada peranan komoditi makanan terhadap garis kemiskinan lebih besar dibandingkan peranan komoditi bukan makanan (perumahan, sandang, pendidikan dan kesehatan). Sumbangan garis kemiskinan pada September 2018 tercatat sebesar 77,60 persen, turun jika dibandingkan kondisi Maret 2018, yaitu sebesar 78,27 persen.

Adapun gambaran penduduk miskin di Sulbar pada bulan September disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya, nilai tukar petani pada bulan September sebesar 111,43 persen, meningkat 1,19 persen jika dibandingkan dengan bulan Maret 2018.

Pertumbuhan ekonomi sebesar 11,85 persen pada triwulan ketiga lebih tinggi jika dibandingkan dengan triwulan pertama.

“Ini disinyalir membawa dampak meningkatnya pendapatan penduduk Sulbar, termasuk penduduk miskin. Dampaknya kesejahteraan penduduk miskin meningkat dan beberapa diantaranya berhasil keluar dari garis kemiskinan,” jelas Win Risal dikutip dalam rilisnya.

Selain itu, semalam periode Maret-September 2018, terjadi inflasi umum yang cukup rendah dan terkendali, yaitu sebesar 1,16 persen. Begitu pula dengan inflasi Pedesaan, yaitu sebesar, 0,57 persen.

Dari sejumlah pemaparan tersebut, Kepala BPS Sulbar menyimpulkan, secara umum yang sampaikan memang sesuai dengan teori ekonomi.

“Kalau seandainya kemiskinan menurun, tentunya akan di ikuti oleh menurunnya ketimpangan. Artinya gini ratio nya akan turun. Kemiskinan turun berarti pendapatan meningkat,” tuturnya.

“Jadi yang terjadi di Sulbar penurunan kemiskinan dari Maret ke September 2018, itu diikuti dengan kecilnya nilai angka gini ratio nya. Atau semakin merata. Kalau nol kan merata, kalau satu, timpang. Artinya semakin kecil gini ratio, berarti pemerataan itu semakin bagus,” tutup Win Rizal.

(Zulkifli)

Bagikan
Deskripsi gambar...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here