Spanduk kegiatan yang akan dilaksanakan Pemprov Sulbar di akhir tahun 2018. (Ist.)
banner 728x90

Mamuju, Katinting.com – Ketua Cabang  PMII Mamuju mengkritik rencana kegiatan Pemprov Sulbar dalam mengakhiri tahun 2018 dan menyambut tahun baru 2019.

Dalam rilisnya kepada Katinting.com (Jumat, 28/12), Rusdi Nurhadi Ketua Cabang PMII Mamuju mengatakan, bahwa Pemprov Sulbar tidak peka terhadap situasi sosial masyarakatnya, sehingga menganggap telah buta dan tuli

Kata Rusdi, harusnya Pemprov Sulbar sensitif dan peduli atas situasi sosial masyarakat ditengah bencana yang melanda sejumlah daerah di Indonesia. Apalagi situasi Sulbar yang akhir-akhir ini banyak dibuat resah dengan berbagai fenomena, mulai gempa bumi di Mamasa, isu tsunami di Mamuju, warga mengungsi di sejumlah tempat, pemukiman warga yang rusak di pulau Bala-balakang yang diterjang ombak dan sejumlah fenomena lainnya.

Atas sejumlah fenomena itu, sambung Rusdi, kami menganggap pemerintahan Ali Baal Masdar – Enny Anggraeni tidak peka, dan terkesan tidak peduli akan situasi sosial warganya. Dimana penghujung tahun 2018 ini lebih mementingkan dan memilih kegiatan pesta (Kegiatan, New Year Celebration 2019) yang menghadirkan salah satu artis yang banyak membuat resah masyarakat, dari pada membuat kegiatan  bermanfaat untuk kesejahteraan masyarakatnya.

Pemprov Sulbar harus memberikan rasa aman dan nyaman tidak menambah persoalan baru, penghujung tahun harusnya dijadikan refleksi dan evaluasi untuk lebih mementingkan kepentingan rakyat, tidak buang-buang uang rakyat untuk pesta yang tidak penting. Harusnya ABM-Enny fokus menyelesaikan  kepemimpinannya dengan memaksimalkan kerja-kerjanya yang mandek dan nihil prestasi. Jelas Rusdi dalam rilisnya.

Bapak Ali Baal, Ibu Enny dan Sekprov Sulbar yang baru, Bapak Muhammad Idris, buka mata dan telinga kalian. Dengarkan suara rakyat yang butuh perubahan lebih, bukan pesta yang mengundang keresahan. Tahun 2019 kita butuh optimisme pembangunan segala sektor untuk lebih baik, kalau memulainya kalian (Pemprov Sulbar) telah memulai awal yang buruk maka tunggu kehancuran akan datang. Terang Rusdi.

Lebih lanjut Rusdi mengatakan, upaya mengkomunikasikan langsung persoalan tersebut kepada Sekprov Sulbar telah dilakukan namun tidak mendapat respon.

“Kami telah berupaya menemui pak Sekprov di rumah jabatannya pukul 21.30 (Jumat, 28/12) tapi kami ditutupkan pagar. Kami mencoba komunikasi lewat pesan WhatsApp hanya dibaca tidak dibalas. Saya coba telpon, tapi hanya dijawab, mengantuk, dan komunikasi terputus,” pungkas Rusdi.

Terkait hal tersebut belum ada keterangan resmi dari Pemprov Sulbar.

(Rls/Anhar)

Bagikan
Deskripsi gambar...