Foto Hamdan. (ist)

Oleh : Hamdan (Dosen Universitas Al Asyariah Mandar)

banner 728x90

Heracleitos (540-480 SM) seorang filosof pra-Socrates dari negeri Yunani menyatakan bahwa; seseorang tidak akan pernah dapat menyeberangi dua kali sebuah sungai, karena pada saat penyebrangan kedua, ia hanya menemukan air yang berbeda. Air pada penyeberangan pertama telah jauh berlalu.

Pikiran inilah yang menjadi kerangka dasar ajarannya tentang “panta rei”. Bahwa di dunia ini tidak ada yang tetap, segalanya selalu berubah, senantiasa berada dalam proses “menjadi”.

Dari kerangka itu pula, Heracleitos menegaskan argument selanjutnya bahwa setiap benda terdiri dari hal yang bertentangan atau berlawanan, namun tetap dalam satu kesatuan. Laksana sungai yang menyatakan identitasnya melalui air, namun di saat yang sama, air selalu mengalir berganti setiap saat. Dengan begitu, Heracleitos  hendak menyatakan bahwa hidup ini sesungguhnya adalah laksana bangunan yang tersusun dari paradox.

Paradox lain yang bersumber dari kerangka Heracleitos  misalnya paradox “the ship of Theseus”. Sebuah paradoks yang mengandung tanya; “apakah sebuah kapal yang dinakodai Theseus yang pergi berlayar dan diperbaiki dari waktu ke waktu dengan mengganti setiap bagian kayunya satu per satu, akan tetap menjadi kapal yang sama ketika ia berlabuh di dermaga?”

Selintas dari pertayaan singkat di atas, kita mendapatkan dua kapal, yakni; kapal A yang berlayar bersama Theseus, dan kapal B yang seluruh bagiannya telah terganti lalu berlabuh bersama Theseus. Dengan begitu kita dapat menyimpulkan bahwa A=B.

Namun dalam pencermatan yang lebih kritis ternyata tidak sesederhana itu. Bagian-bagian kapal yang rusak dan dibuang dalam perjalanan tadi, dipungut oleh seorang nelayan, dan ia merangkai ulang bagian-bagian tersebut sehingga menjadi sebuah kapal sebagaimana awalnya. Maka muncullah kapal ketiga, yakni kapal C yang berlabuh bersama nelayan. Apakah A=B atau A=C?

***

Paradox terdiri dari dua kata yakni “para” dan “doxa”. Kata para berarti beside (di samping) atau beyond (di luar). Sedangkan kata doxa berarti pendapat umum atau kepercayaan. Dengan demikian paradox dapat dimaknai sebagai sesuatu yang tidak menjadi bagian atau berbeda dari pendapat umum (public opinion).

Cambridge Dictionary menerangkan bahwa paradox adalah situasi atau pernyataan yang tampaknya mustahil atau sulit dipahami karena mengandung dua fakta atau karakteristik yang berlawanan.

Merriam Webster Dictionary menjelaskan bahwa paradox dapat dimaknai sebagai; [1] sesuatu (seperti orang, situasi, atau tindakan) yang memiliki kualitas atau fase yang tampaknya bertentangan; [2] sebuah pernyataan yang tampaknya berlawanan atau bertentangan dengan akal sehat namun mungkin benar; [3] pernyataan kontradiktif diri yang pada awalnya tampak benar; [4] sebuah argumen yang tampaknya menghasilkan kesimpulan yang kontradiktif dengan deduksi yang valid dari premis-premis yang dapat diterima; [5] prinsip yang bertentangan dengan pendapat yang diterima.

Memasuki lembar peradaban baru yang kita sebut sebagai new era saat ini, fenomena paradox semakin tampak ke permukaan, tetapi dengan wajah yang mengerikan. Ia semakin mudah kita temukan dalam kehidupan sehari-hari di sekitar kita.

Beberapa paradox yang saya kemukakan berikut, hanya merupakan refleksi dari pengalaman kecil sehari-hari. Mungkin setiap orang dapat menemukan dalam wujudnya yang berbeda.

Pertama; masyarakat kita semakin gencar mengejar kebahagiaan, tetapi yang lakukan justru menyusun jalan kesengsaraan. Manusia membangun kota-kota sebagai pusat kegiatan ekonomi dengan maksud untuk mencapai kebahagiaan hidup, namun yang didapatkan adalah kebisingan, kelangkaan kualitas spiritual, kelangkaan rasa kemanusiaan, ramainya persengketaan, percekcokan, tawuran, perang kelompok, kriminal, kemiskinan, dan seterusnya.

Setiap orang sibuk bekerja, bekerja, dan bekerja untuk meningkatkan indeks kesejahteraannya, namun yang diperoleh adalah kelelahan kerja, stress tingkat tinggi. Agar aktivitas bekerja tetap terus berjalan, dibuatlah hari libur atau masa senggang sehari dalam sepekan dengan maksud penyegaran, refresh, berhibur diri.

Waktu istirahat atau masa senggang itu dieksploitasi melalui industri pariswisata, industri hiburan. Mereka yang berwisata di hari libur untuk memperoleh hiburan, yang diperolehnya justru kelelahan baru saat pulang.

Kedua; masyarakat kita gencar mencari kebenaran, yang ditemukan justru belantara kebohongan. Semakin kita mencari kebenaran dengan memproduksi keberlimpahan informasi, semakin mereka menemukan keberlimpahan kebohongan, hoaks di mana-mana, keserba-palsuan yang terima dengan senang hati. Bahkan kita dapat menemukan orang-orang yang pandai berbicara tentang kebenaran, justru juga sekaligus sebagai pelaku kebohongan. Penegak hukum sekaligus sebagai pelanggar hukum. Memproduksi banyak ahli hukum, tetapi supremasi hukum masih juga menjadi soal untuk ditegakkan.

Ketiga; manusia sibuk mengaktualisasi diri, mensosialisasi diri, semakin mempertegas identitas kediriannya, mengejar popularitas diri, namun yang mereka temukan justru keterasingan. Dia menemukan dirinya dikenal oleh banyak orang, tetapi di saat yang sama ia mengetahui bahwa dirinya tidak banyak mengenal mereka yang mengenalnya itu. Bagaikan seorang yang berdiri di atas meja di tengah kerumunan pasar, semua orang memandangnya namun ia sendiri tidak mengenali semua orang dalam kerumunan itu. Terkenal namun terasing.

Keempat; manusia memproduksi keberlimpahan kebutuhan material, serba berlimpah, namun yang diperolah hanyalah rasa kekurangan, rasa “tak pernah cukup”. Awalnya, seseorang masih menganggap hidup ini dapat berlangsung biasa saja tanpa smartphone, namun kini smartphone justru menjadi komando hidup, hidup seolah tak berarti tanpanya.

Demikianlah, hidup tak pernah cukup untuk memenuhi kebutuhan, karena di sisi lain kita juga gencar menciptakan kebutuhan-kebutuhan baru. Karena kebutuhan material diciptakan, maka keberlimpahannya hanya memenuhi hasrat penciptanya, terkumpul dalam gudang-gudang penyimpanan pemodal, tetapi tidak menjadi milik masyarakat banyak.

Kelima; semakin manusia mendesakkan demokrasi yang meletakkan dasar pada pengakuan atas keberagaman, kebhinekaan, pluralitas, yang muncul justru kehendak penyeragaman. Bukankah demokratisasi adalah upaya untuk menyeragamkan seluruh bangsa di dunia ini agar hidup dalam paham demokrasi?

Lembaga-lembaga Negara, sambil menyelenggarakan demokrasi, juga menggunakan uniform (seragam) yang telah diatur legalitasnya. Lembaga-lembaga pendidikan, sambil mengajarkan demokrasi pada generasi bangsa, juga menekankan penggunaan seragam.

Kita menuntut kehidupan bernegara yang demokratis, namun di saat yang sama politik yang kita bangun, secara kuat menanamkan fanatisme, mewariskan polarisasi kehidupan sosial-politik dalam jangka waktu yang panjang. Meminjam istilah Bourdieu, kekuasaan dominan mengkonstruk doxa tentang dirinya, yang menciptakan pertarungan wacana di tengah publik.

Terjadilah pertaruhan antara orthodoxa dan heterodoxa. Yang pertama menunjuk pada kelompok yang fanatis mempertahan doxa kekuasaan, dan yang kedua menunjuk pada kelompok yang mengajukan gagasan lain di luar doxa kekuasaan. Tidak heran jika polarisasi yang tercipta hampIr 10 tahun, masih memungkinkan berlangsung sampai 10 tahun ke depan.

Semoga di tahun 2023 ini kita memperoleh kemampuan pikir lebih sehat dan intuisi yang lebih bening, untuk membangun kehidupan bangsa yang lebih maju. Kita mesti percaya bahwa bangsa kita bagaikan sungai Heracleitos yang terus mengalir dalam proses “menjadi”. Bukan air tampungan embung yang hanya berfungsi musiman.

Manding, 01 Januari 2023.

 

*Segala isi dalam tulisan ini menjadi tanggung jawab penulis
Bagikan
Deskripsi gambar...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here