Kondisi tenda pengunsian di Dusun Ahuleang, Desa Mekkatta, Kecamatan Malunda, Majene. (Dok. Zulkifli)
banner 728x90

Majene, Katinting.com – Pasca gempa bumi 15 Januari 2021 lalu, sebanyak 75 KK di Dusun Ahuleng dan 41 KK Dusun Rui, Desa Mekkatta, Kecamatan Malunda, Kabupaten Majene sampai saat ini masih bertahan di tenda pengungsian di lahan perkebunan kelapa sawit.

Total 116 Kepala keluarga (KK) ini rumahnya hancur akibat gempa berkekuatan 6,2 magnitudo yang menghantam Mamuju dan Majene medio Januari tahun lalu.

“Ini bisa dibilang pengungsi permanen. Mereka disini semenjak gempa. Pemukiman warga sebelumnya tiga kilo dari sini. rumahnya semua hancur tertimbun,” kata Lukman, Kepala Dusun Ahuleang saat ditemui dilokasi pengungsian, Rabu (12/01/22) kemarin sore.

Katanya, Desa Mekkatta yang menjadi pusat gempa ini, tidak ada satupun warga yang mendapat bantuan dana stimulan perbaikan rumah tahap pertama pasca gempa. Sedangkan di desa-desa lain sudah mendapatkan dana stimulan tahap pertama.

“Ini sementara kita urus (dana stimulan tahap kedua). Kita tidak tau kapan ini datang tahap kedua. Di desa Mekkatta tidak ada satupun dapat dana stimulan tahap pertama. Semuanya di tahap kedua. Harapan kami ini tahap kedua secepatnya lah,” harap Lukman.

Kondisi tenda pengunsian di Dusun Ahuleang, Desa Mekkatta, Kecamatan Malunda, Majene. (Dok. Zulkifli)

Lukman menyebutkan, mungkin yang menjadi penyebab masyarakat Desa Mekkatta tak satupun dapat bentuan dana stimulan tahap pertama dikarenakan tidak yang mengarahkan saat itu. Apalagi Kepala Desa mereka meninggal tertimpah reruntuhan saat terjadi gempa.

“Mungkin saat itu tidak ada yang mengarahkan masyarakat,” ujarnya.

Dia berharap warganya mendapat perhatian lebih dari pemerintah utamanya dalan hal bantuan tempat tinggak yang layak. Lukman mengungkapkan warga yang masih menetap ditanda-tenda pengungsian hampir setahun ini begitu menderita.

Pada pertengahan tahun 2021 banyak anak-anak yang diserang penyakit kulit. Disaat musim hujan, karena tenda yang sudah lapuk, air merembes hunian sementara warga. Warga juga kesulitan air bersih. “Sudah tiga kali ganti tenda, dibantu dari dinas sosial tendanya,” sebutnya.

Selain itu, dia juga mengungkapkan bahwa masyarakatnya masih butuh bantuan sembako. Itu dikarenakan warganya yang mayoritas petani kehilangan mata pencahariannya pasca gempa. Dia mengatakan sebagian warga meminjam lahan untuk bercocok tanam tanaman jangka pendek.

“Mungkin ada perhatian khususlah untuk masyarakat yang mata pencahariannya disektor pertanian yang lahannya kemarin tertimbun longsor,” ungkapnya.

Dewi (28) salah seorang pengungsi gempa M6,2 berharap segera mendapatkan bantuan rumah yang layak. Katanya hampir setahun bertahan di tenda pengungsian sangat tidak nyaman apalagi ia memiliki dua anak yang masih kecil.

“Paling ditakuti angin, karena tenda kasian. Datang angin, hujan. Pohon kelapa juga. Biasa masuk air kalau hujan,” tutupnya.

Kondisi tenda pengunsian di Dusun Ahuleang, Desa Mekkatta, Kecamatan Malunda, Majene. (Dok. Zulkifli)
Kondisi tenda pengunsian di Dusun Ahuleang, Desa Mekkatta, Kecamatan Malunda, Majene. (Dok. Zulkifli)

(Lap. Zulkifli/Edit : Anhar)

Bagikan
Deskripsi gambar...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here